Suami Pilihan Bapak

Suami Pilihan Bapak
Bab 28


__ADS_3

"Iya, hampir setiap hari aku lihat Mas Aak nongkrong sama temen-temennya kok. Di dekat sekolahku sana, kan ada tempat tongkrongan anak vespa," jawab Sigit dengan santai, dia kemudian duduk di kursi sebelahku.


Deg!


Aku terdiam sejenak, mencerna ucapan Sigit. Jadi, apa selama ini Mas Aak tidak bekerja? Tapi nggak mungkin juga Sigit mengada-ada, kan? Apa untungnya buat dia? Atau mungkin Sigit salah lihat?


"Kamu yakin itu Mas Aak, Git? Kamu nggak salah lihat? Nggak salah orang?" Aku megarahkan pandanganku kepada Sigit sepenuhnya.


"Nggak mungkin salah lihat berkali-kali kan, Mbak? Aku yakin banget itu Mas Aak. Nggak tau mulai dari jam berapa nongkrongnya, tapi kalau aku pulang sekolah, biasanya lihat dia di sana." Sigit balik menatapku dalam-dalam. Dia memberikan penjelasan yang masuk akal.


"Kamu kalau pulang sekolah jam berapa?" Tiba-tiba saja aku lupa dengan jadwal pulang sekolah Sigit, padahal aku belum lama meninggalkan rumah ini.


"Ya tergantung jadwal, Mbak. Kadang jam tiga, jam empat, kadang jam lima. Tapi kadang pulang awal juga. Tapi seingatku, aku sering banget kok lihat Mas Aak nongkrong, jam berapapun aku pulang. Emangnya dia lagi nggak kerja, Mbak?" Sigit balik bertanya padaku.


"Kerja kok katanya, dia juga kalau dapat gaji, selalu kasih uang ke aku. Atau jangan-jangan?" Aku mulai curiga kalau mungkin saja ada yang tidak beres.


"Jangan-jangan apa, Mbak? Jangan mikir yang aneh-aneh deh!" Sigit mengibaskan tangannya di depan wajahku.


Jujur saja saat ini berbagai macam pikiran buruk menhampiriku. Aku takut kalau uang yang diberikan oleh Mas Aak selama ini bukan dari hasil yang halal. Aku takut kalau kerjaan yang Mas Aak lakukan selama ini adalah berjudi. Tapi, apa mungkin berjudi di siang hari? Di tempat yang terbuka? Sepertinya mustahil. Bisa-bisa digerebek polisi kan?


"Enggak, aku cuma takut kalau Mas Aak melakukan hal yang tidak baik di luar sana, Git. Aku takut kalau Mas Aak selama ini berbohong. Mengatakan dapat kerjaan di bengkel las, tapi ternyata dia bermain dengan uang. Bagaimana jadinya kalau dia menafkahi keluarganya dengan uang haram, Git?" Aku memijit-mijit pelipisku yang terasa pening.

__ADS_1


Bisa jadi itu penyebab rumah tanggaku rasanya tidak ada harmonis-harmonisnya. Setiap hari aku rasanya cuma ingin emosi saja. Jangan-jangan karena memang apa yang kumakan bukan dari uang yang halal?


"Sudahlah, Mel. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Lebih baik nanti kamu tanyakan langsung saja pada suamimu. Nggak baik kalau terus menerus berprasangka seperti itu." Ibu menyahuti pertanyaan yang sebenarnya kulontarkan pada Sigit. Aku berbalik kembali menatap ibuku yang ada di kursi seberangku.


"Ya Allah, kalau memang benar seperti apa yang Mela duga bagaimana, Bu? Apa Mela harus bertahan dengan keadaan seperti ini? Atau lebih baik Mela mengakhiri pernikahan kami, Bu? Mela nggak mau kalau menjalani pernikahan dengan orang yang suka berbuat dosa besar, Bu!" Aku tidak mendengarkan nasehat Ibu, tapi aku justru berpikir semakin liar.


"Hush! Jangan berpikiran yang buruk dulu, kan nggak ada buktinya, Mel. Itu cuma ketakutanmu saja. Lagipula Sigit juga tidak mengatakan kalau suamimu bermain uang, kan?"


Aku menggeleng, "Lebih baik memang aku tanyakan sama Mas Aak nanti. Apa yang sebenarnya terjadi."


***


Sore hari menjelang senja, Mas Aak datang menyusul ke rumah Bapak. Aku tidak menyambut kedatangannya sama sekali, aku membiarkan Mas Aak disambut oleh Bapak, Ibu, juga Sigit. Aku lebih memilih menemani Singgih bermain sambil belajar mewarnai di dalam kamarku. Pikiranku juga masih belum bisa fokus kalau harus mempersiapkan materi untuk sekolah besok, jadi aku masih menundanya.


"Enak aja main jemput-jemput!" batinku dongkol. Aku hanya memutar bola mataku malas.


"Mel!" Bapak memanggilku sekali lagi. Aku masih tidak menjawab, pura-pura tidak mendengar.


Tak lama kemudian, Ibu yang masuk ke kamarku. Aku mendongak, menghentikan aktifitasku mewarnai gambar bersama Singgih.


"Mel, nggak dengar apa kata Bapak?" tanya ibuku dengan lembut.

__ADS_1


"Dengar, Bu. Tapi males menjawab. Lagian Mas Aak juga nyebelin. Udah tau aku mau nginep sini. Ngapain juga dijemput segala? Kalau nggak mau ikut nginep sini, mending nggak usah ke sini aja!" jawabku sewot. Padahal tidak seharusnya aku meluapkan emosiku pada Ibu.


"Yaudah, sana bilang sendiri sama suami kamu! Ibu juga udah bilang kalau kamu mau nginep sini, tapi dia ngotot mau ngajak kamu pulang." Ibu mendekatiku, turut serta duduk di pinggir kasur.


"Mbak! Nggak usah pulang! Bobo sini aja!" Singgih ternyata diam-diam mendengarkan.


"Iya, Mbak bobo sini, kok. Nanti kita bobo di kamar sini, ya!" Aku mengusap kepala Singgih, berkata selembut mungkin. Berbeda dengan responku terhadap Ibu tadi.


"Yee! Asyiik!" Singgih berteriak girang. Aku ikut tersenyum. Aku bisa menggunakan Singgih sebagai alasan penguat aku tidak mau pulang ke rumah mertuaku malam ini.


"Yaudah, Mbak ke depan bentar, ya. Kamu terusin lagi mewarnainya!" Aku beranjak dari tempat dudukku. Ibuku bergatian menemani Singgih mewarnai.


Aku berjalan dengan malas ke depan. Jujur saja, aku rasanya malas melihat wajah suamiku yang tiba-tiba jadi terasa sangat menyebalkan dalam pikiranku. Aku memilih untuk duduk di dekat Bapak, berusaha mencari perlindungan dan dukungan. Meskipun aku tidak yakin Bapak akan melakukannya.


"Ayo pulang, Dek! Keburu maghrib." ucap Mas Aak saat itu juga, tanpa basa-basi menanyakan keadaanku, keinginanku dan lain sebagainya. Benar-benar menyebalkan. Aku berdecak pelan sambil mengangkat sebelah bibirku.


"Aku mau nginep sini, Mas!" ucapku tegas.


"Tapi, Dek?" Mas Aak terlihat keberatan.


"Tapi apa, Mas? Kalau kamu nggak mau nginep sini yaudah nggak papa. Tapi jangan larang aku nginep sini! Toh ini juga rumah orang tuaku. Apa salahnya sih, sesekali aku nginep sini?" Aku menaikkan nada suaraku, aku tidak peduli ada Bapak di sampingku.

__ADS_1


"Mel?" Bapak melirikku. Sudah kuduga, Bapak pasti akan menegurku.


"Mela capek, Pak. Tiap hari ngejain semuanya sendirian. Kerjaan rumah semuanya Mela kerjain sendiri, sedangkan Mas Aak malah asyik nongkrong tiap hari. Kalau di rumah juga cuma mainan HP, bukannya bantuin ngerjain kerjaan rumah. Ngerjain apa kek, kan bisa." Bapak pun tak pelak jadi sasaran luapan emosiku. Aku benar-benar sudah di luar kendali. Aku melihat Mas Aak dan Bapak bergantian, menunggu respon apa yang akan mereka berikan.


__ADS_2