Suami Pilihan Bapak

Suami Pilihan Bapak
Bab 34


__ADS_3

Hari itu juga, aku akan menjalani operasi pertamaku. Sesuatu hal yang selama ini kutakutkan, ternyata harus kualami juga. Aku pasrah sepenuhnya, kalaupun aku harus mati hari itu juga.


Suster membantuku mengenakan pakaian operasi yang selama ini hanya kulihat di film-film. Entah kenapa, jantungku terasa berdebar lebih cepat dari biasanya. Mas Aak menggenggam erat tanganku, mencoba menguatkanku.


"Kalau terjadi sesuatu yang buruk pada kami berdua, tolong ikhlaskan kami ya, Mas. Aku minta maaf kalau selama ini aku banyak berbuat salah sama kamu. Tolong doakan yang terbaik untuk kami, Mas," ucapku sebelum perawat membawaku ke ruang operasi.


"Kamu nggak boleh bilang gitu, Dek. Kamu harus kuat! Kamu harus bertahan, supaya anak kita juga kuat dan bisa bertahan," jawab Mas Aak sambil mengusap sudut matanya dengan jari telunjuk dan jempol tangan kanannya.


Aku mengangguk dan tersenyum tipis, mencoba menenangkan suamiku yang terlihat sangat berbeda dari dulu saat awal pernikahan kami. Meskipun dalam hati, aku tidak yakin akan selamat, menginat kondisiku yang sepertinya sangat parah. Satu hal yang membuatku tenang adalah bahwa ibu yang meninggal karena melahirkan akan dinilai pahala syahid, jadi aku sangat siap kalau hal itu terjadi.


Tak lama kemudian, perawat membawaku ke ruang operasi yang terasa sangat dingin menusuk tulang. Aku mendapatkan beberapa suntikan sebelum akhirnya dokter mulai melakukan operasi caesar untuk mengeluarkan bayiku. Aku memang tidak dibius total, tapi tetap saja aku tidak sepenuhnya sadar dengan apa yang terjadi di ruang operasi.


Saat kesadaranku pulih seutuhnya, aku sudah berada di ruangan yang berbeda dari ruangan sebelum aku dioperasi. Aku melihat ibuku yang berjaga di sisi ranjangku.


"Bu," ucapku lirih.


"Gimana, Mel? Apa yang dirasakan? Ada yang sakit?" jawab ibuku sambil melihat keadaanku.


"Anakku gimana keadaannya, Bu?" tanyaku kemudian.


"Dia sekarang di ruang NICU, tapi Ibu juga belum melihat seperti apa wajahnya. Cuma bapaknya yang boleh mengantarkan ke ruangan khusus tadi. Katanya dia perempuan, pasti cantik dan menggemaskan," jawab ibuku sambil tersenyum.


Aku ikut tersenyum lega, ternyata anakku masih hidup. Semoga saja dia bisa bertahan sampai kelak.

__ADS_1


"Jadi, sekarang Mas Aak dimana, Bu? Apa masih nungguin bayiku?" tanyaku lagi.


"Enggak, bayinya nggak boleh ditungguin. Aak tadi pamit mau beli perlengkapan bayi sesuai yang diminta oleh perawat. Kalian belum persiapan sama sekali, kan?"


Aku mengangguk lesu. Bagaimana mau persiapan? Usia kandunganku bahkan belum genap tujuh bulan. Selain itu, menurut kepercayaan kan tidak boleh beli perlengkapan bayi sebelum usianya tujuh bulan, jadi bukan salah kami, kan?


Tak lama kemudian, Mas Aak datang ke ruanganku.


"Gimana, Ak? Sudah beres urusannya?" Ibuku menyambut kedatangan Mas Aak dengan pertanyaan yang mewakili pertanyaanku.


"Sudah, Bu," jawab Mas Aak sembari ikut Ibu duduk di kursi panjang yang digunakan untuk menunggu pasien.


"Gimana kondisi anak kita, Mas?" Aku turut bertanya.


"Dia baik-baik saja. Perempuan, cantik seperti kamu," jawab Mas Aak membuatku tersanjung, seingatku baru kali ini suamiku memujiku seperti itu.


"Enggak, nggak boleh difoto selama masih di rumah sakit. Aku juga nggak ikut masuk ke ruangan tempat dia dirawat. Tadi cuma boleh mengantar sampai ke depan ruangan, terus diminta mengurus administrasi dan kebutuhan bayi kita lainnya," terang Mas Aak membuatku sedikit kecewa. Ternyata peraturan di rumah sakit ini lumayan ketat.


"Kita gimana mau membayar biaya rumah sakit, Mas? Biaya perawatan sama obatku, belum lagi biaya operasi, terus juga biaya untuk rawat anak kita, di inkubator pasti mahal kan?" Aku memberanikan diri membahas ini, setelah dari kemarin aku tahan, karena memang kepalaku yang terasa sakit hampir setiap saat.


"Kami tenang aja, Dek. Semua tercover jaminan kesehatan, termasuk bayi kita, aku udah urus jaminan juga untuk bayi kita," jawab Mas Aak santai. Sepertinya memang Mas Aak tidak sedang berbohong untuk menenangkanku.


"Jaminan kesehatan? Sejak kapan aku punya jaminan? Bukannya kita belum ngurus itu?" Aku bingung dengan jawaban yang terasa janggal itu.

__ADS_1


"Aku buat kemarin pas kamu udah dirawat di sini, untungnya bisa langsung aktif setelah aku bayar. Jadi bisa tercover semua, paling cuma buat wira wirinya aja yang harus biaya sendiri," jelas Mas Aak membuatku sedikit lega meskipun tetap saja terasa berat, bagi kami yang sedang tidak punya uang sedikitpun.


"Mas dapat uang dari mana buat biaya sehari-harinya? Mas nggak minta sama Ibu, kan? Aku nggak mau kalau sampai merepotkan Ibu terus," tanyaku lagi, tanpa bermaksud menyudutkan Mas Aak.


"Enggak. Aku nggak minta uang ke Ibu kok. Aku jual vespaku, Dek," jawab Mas Aak tenang.


"Hah? Dijual, Mas?" Aku menaikkan nada suaraku.


Mas Aak mengangguk tanpa ragu. Dalam hati aku kembali merasa bersalah, karenaku, Mas Aak harus kehilangan barang yang sangat ia sayangi. Tapi di sisi lain, aku merasa salut, Mas Aak mau berkorban seperti itu untuk kebutuhan kami. Sepertinya dia benar-benar sudah dewasa, meskipun sedikit telat.


Tak lama setelah itu, perawat datang memeriksa kondisiku, sambil memberikan pesan tentang apa yang harus kulakukan sebagai Ibu baru yang harus merawat diriku sendiri pasca operasi, juga harus menyiapkan diri untuk menyusui putriku, meskipun belum bisa secara langsung. Perawat juga memberitahuku bagaimana cara memompa asi dan lain sebagainya, membuatku merasa benar-benar sudah menjadi Ibu.


"Bu, meskipun bayinya tidak ada di sini, tapi harus tetap dianggap kalau dia ada di sini ya, Bu. Jadi setiap dua jam sekali, harus dipompa, dan ditampung, kemudian diserahkan ke ruang Melati. Biar produksi asinya lancar, jadi bayi Ibu tidak kekurangan asi, baik saat masih dirawat, maupun sesudah pulang nanti," jelas perawat sambil bersiap meninggalkan bilikku.


"Kapan saya bisa lihat putri saya, Sus?" tanyaku penuh harap. Rasanya tidak sabar ingin melihat putriku, apalagi kalau melihat suara tangis bayi dari bilik lain, membuatku merasa semakin nelangsa.


"Besok kalau sudah bisa lepas dari infus ya, Bu. Sudah bisa mandi keramas, jadi sudah bersih. Karena masuk ke ruang khusus bayi harus dalam kondisi yang steril, demi kesehatan semua bayi yang ada di sana," jelas perawat tersebut sambil tersenyum.


Aku mengangguk paham, yang terpenting sekarang aku harus mengikuti apa saran dari perawat. Supaya semuanya berjalan dengan baik.


***


Beberapa hari dirawat di bangsal, aku tetap merasa tenang sambil terus melakukan apa yang disarankan oleh dokter maupun perawat. Lagipula Mas Aak setiap hari menanyakan kondisi putriku ke perawat bayi, meskipun tidak melihat secara langsung, tapi perawat selalu memberitahukan bagaimana kondisi terbaru putriku setiap kali Mas Aak datang.

__ADS_1


Sampai malam hari ketiga pasca operasi, aku tidak bisa tidur sama sekali. Perasaanku tidak karuan. Apalagi saat dinihari, perawat dari bangsal Melati memanggil orang tua dari bayiku melalui pengeras suara, hal yang belum pernah terjadi sebelumnya.


"Mas? Ada apa ini?" 


__ADS_2