Suami Pilihan Bapak

Suami Pilihan Bapak
Bab 6


__ADS_3

"Bukannya Mas Aak kerja di bengkel las ya, Bu?" Aku memberanikan bertanya, aku hanya mengingat sekilas dari CV yang dikirimkan Mas Aak waktu itu.


"Iya, memang dia kerja di bengkel las. Tapi kan nggak setiap hari ada job ngelas. Kalau ada job, ya kerja, kalau nggak ada job, ya nganggur. Gitu, Mel."


Aku kembali terdiam. Kalau seperti itu, apa aku bisa memenuhi kebutuhan hidup kamu berdua? Sedangkan gaji guru honorer tidak seberapa. Untuk kebutuhanku sendiri saja kadang kurang, bagaimana kalau untuk berdua? Pikiranku menerawang jauh.


"Oh, begitu ya, Bu. Ya mudah-mudahan, besok ada job terus. Katanya menikah akan membukakan pintu rejeki, Bu. Semoga saja seperti itu." Aku mencoba menenangkan diriku sendiri.


"Betul, Mel. Yang penting kita harus yakin, sabar dan berdo'a. Semoga Aak bisa jadi pribadi yang lebih baik lagi setelah jadi suami kamu. Lebih baik dalam segala hal." Bu Yusuf tersenyum padaku, membuat hatiku benar-benar meleleh. Beliau sepertinya sosok Ibu yang penuh kasih sayang, semoga saja denganku kelak juga seperti itu.


"Aamiin, Bu." Aku membalas senyum beliau.


"Semoga aja kamu bisa membuat Aak menjadi orang yang lebih baik, lebih bertanggung jawab dan lain sebagainya. Dan Ibu mohon, kamu yang sabar ya, menghadapi semua sifat dan karakter Aak yang mungkin baru akan kamu ketahui jika kalian suah menikah nanti." Ibu Yusuf kembali mewanti-wantiku, jujur saja, itu membuatku jadi merasa tambah takut. Takut kalau ternyata banyak sekali kebiasaan buruk Mas Aak yang belum ia tuliskan di CV-nya kemarin.


***


Hari-hari berikutnya, aku dan Mas Aak jadi lebih sering bertemu. Untung mengurus pernikahan kami. Mulai dari mengurus administrasi pernikahan, memesan souvenir, MUA, dan lain sebagainya. Lambat laun, aku mulai menyukai Mas Aak yang ternyata humoris, meskipun kadang juga menyebalkan karena kekonyolannya yang nggak bisa kuterima.

__ADS_1


Sampai akhirnya, hari yang sudah ditentukan telah tiba. Besok pagi, aku dan Mas Aak akan melakukan akad nikah di rumahku. Kami memang mengundang penghulu, untuk menikahkan kami di rumah, supaya bisa lebih nyaman. Malam ini, Mas Aak sudah menginap di rumahku, ditemani salah seorang temannya yang belum ku kenal. Beruntung sikapnya yang ramah, membuatnya jadi gampang akrab dengan keluargaku, maupun tetanggaku yang ikut membantu dalam acara hajatan pernikahan kami berdua.


Jujur saja, aku berdebar, bingung harus berbuat dan bersikap seperti apa pada Mas Aak. Aku malu, tapi siapa lagi yang akan mengurusi Mas Aak, kalau bukan aku? Jadilah aku yang menyiapkan makanan untuknya, mempersiapkan tempat tidur dan lain sebagainya. Sampai malam tiba, aku tetap tidak bisa tidur. Aku memandang ke langit-langit kamarku. Aku benar-benar berdebar, membayangkan bagaimana besok pagi. Besok aku sudah akan menjadi istri orang. Siap nggak siap, aku harus siap.


"Oh ya, Mas Aak pasti nggak bawa selimut. Dia kan ceroboh banget, suka seenaknya sendiri." Aku bangun dari tempat tidurku. Kemudian melihat ke ruang tamu, yang digunakan untuk tidur Mas Aak dan beberapa orang lain yang menginap di rumahku. Termasuk juga Bapak dan adik pertamaku, Sigit.


Ternyata benar dugaanku, Mas Aak terlihat meringkuk kedinginan. Karena memang hanya tidur beralaskan tikar, tanpa memakai selimut maupun bantal. Aku segera saja mendekati kado-kado yang ada di ruang tamu, mencoba menebak, mana yang berisi selimut. Kemudian aku membongkar salah satu kado yang dibungkus berbentuk segi empat juga terasa empuk.


Untung saja dugaanku benar. Kado yang kubuka itu berisi selimut. Aku menarik nafas lega. Jadi tidak perlu membongkar kado yang lainnya dulu. Setelah itu, aku mendekati Mas Aak dan menyelimutinya. Dia tidak boleh masuk angin, karena besok hari yang sangat penting dan pastinya akan melelahkan. Jadi butuh kondisi badan yang fit, supaya semua bisa berjalan dengan lancar.


Aku bergegas meninggalkan Mas Aak, setelah memastikan tubuhnya terselimuti dengan baik. Aku segera kembali ke kamar dan beristirahat. Meskipun entah kenapa, sulit sekali untuk tidur.


***


"Eh, mau ngapain, Mel?" Mbak Santi, tetangga sebelah rumahku langsung menegur saat aku berjongkok, mendekati kentang kupas yang sudah direndam.


"Mau motongi kentang ini, Mbak. Dimasak hari ini kan?" Aku tidak merasa ada yang salah dari tindakanku.

__ADS_1


"Jangan, Mel! Calon pengantin nggak boleh ikut masak. Nanti masakannya cepet basi. Mending kamu mandi aja! Siap-siap dirias atau bagaimana gitu. Atau sarapan dulu! Aku ambilin makanannya, ya?" Mbak Santi berbicara panjang lebar. Aku mengernyitkan dahiku.


"Emang gitu ya, Mbak? Kok bisa masakan calon manten jadi cepet basi? Apa dasarnya? Apa alasannya?" Aku bertanya, karena menurutku itu sesuatu yang aneh.


"Tinggal diikuti aja, Mel. Nggak ada salahnya kan? Nanti urusan dapur biar dikerjain sama yang lain." Mbah Ning, selaku pengatur kebutuhan dapur ikut berkomentar.


"Iya, Mel. Ikuti aja! Itu kata orang-orang tua jaman dulu, gitu. Daripada nanti kejadian beneran, kan bikin repot. Mending kamu nurut aja deh! Dulu pas aku jadi pengantin juga nggak boleh ikut masak di dapur. Udah jadi kepercayaan turun temurun itu. Kamu sarapan aja, ya? Aku ambilin." Mbak Santi segera menuju ke ruang prasmanan, meninggalkanku yang masih bengong, mencoba mencari penalaran kepercayaan orang jaman dulu itu.


"Ini, Mel. Kamu makan dulu, ya! Nanti pasti kamu nggak bakalan sempat untuk makan. Jangan sampai kamu pingsan pas acara, ya!" Mbak Santi memberikanku sepiring makanan lengkap dengan sayur dan lauknya yang sudah dingin, hanya nasinya saja yang terasa hangat, karena disimpan di pemanas nasi.


"Makasih, Mbak. Sebenernya aku nggak selera makan. Rasanya nggak karuan." Aku tetap menerima piring dari Mbak Santi, meskipun perutku rasanya menolak.


"Hehe, biasa itu, Mel. Namanya juga calon pengantin. Berjuta rasanya, bikin selera makan jadi hilang." Mbak Santi tersenyum.


"Iya, ini, Mbak. Deg-degan, Takut kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Juga penasaran, kalau udah jadi istri orang, rasanya gimana gitu. Duh!" Aku mengaduk-aduk makanan yang dipiringku. Benar-benar tidak berselera untuk menyuapkannya.


"Umum kok, Mel. Nggak cuma kamu yang merasa seperti itu. Tapi kamu tetep harus makan, Mel. Sesuap dua suap nggak papa, Mel. Yang penting perutnya harus tetap diisi. Soalnya bentar lagi kamu dirias juga, biasanya kalau udah dirias itu udah nggak bisa makan minum, takut riasannya rusak kan. Jadi, kemungkinan kamu baru bisa makan lagi nanti malam, kalau acara udah selesai. Aku ambilin minum panas mau? Biar perutnya enakan." Mbak Santi berlalu lagi, mengambilkan aku minuman, dia benar-benar perhatian padaku.

__ADS_1


Banyak sekali hal yang ku khawatirkan sebenarnyaan , hari ini hanya permulaan. Sedangkan hari berikutnya masih panjang. Apa aku sudah benar-benar siap menjadi seorang istri?


__ADS_2