Suami Pilihan Bapak

Suami Pilihan Bapak
Bab 12


__ADS_3

"Ya bukannya nggak bersyukur atau gimana, Mas. Tapi kan kita sudah jadi keluarga kecil. Harusnya kita belajar mandiri. Ya sudah, okelah, sementara kita nasinya ikut Ibu, tapi tetep, aku juga harus masak untuk kita. Yang sesuai dengan lidahku, gitu aja nggak papa kan?" Aku mencoba bernego, toh kami masih benar-benar baru. Jadi untuk belajar memisahkan diri masih perlu waktu.


"Yaudah gitu aja nggak papa." Mas Aak akhirnya mengalah.


"Oke, Mas. Setidaknya aku jadi lebih nyaman gitu." Aku tersenyum, semua memang perlu dikomunikasikan.


"Besok aku mintain uang sama Ibu, kalau kamu mau belanja sayuran ataupun lauk." Mas Aak kembali membuat mataku melotot.


"Kok minta Ibu sih, Mas?" Aku menaikkan nada bicaraku.


"Ya iya, minta sama Ibu. Kan aku belum mampu buat memberi kamu uang belanja dan lain sebagainya, apalagi untuk setiap hari. Uang sakuku setiap hari juga masih minta sama Ibu. Ditambah besok kamu mau belanja sendiri, ya sudah, aku tinggal minta tambahan uang aja sama Ibu." Mas Aak menjawab dengan santai, tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Kan kamu kerja, Mas? Harusnya yang menafkahi aku kan kamu? Jadi kamu yang bertanggung jawa atas semua kebutuhan rumah tangga kita?"


"Dek, kamu harus tau. Aku kerja nggak setiap hari, punya uang juga nggak setiap hari. Jangankan buat mencukupi kebutuhan kita berdua, buat beli rokok sama bensinku sendiri aja masih kurang. Jadi, daripada kita nggak makan, ya mendingan ikut sama Ibu Bapa aja. Kalau kamu tetep maksa pengen masak sendiri, ya berarti aku minta tambahan jatah uang saku sama Ibu. Kan Ibu masih dapat jatah dari Bapak, jadi nggak usah khawatir. Ibu nggak bakalan keberatan kok." Mas Aak tersenyum, mencoba meyakinkanku. Tapi tetap saja, aku merasa ini bukan hal yang betul.


"Tapi, Mas?"


"Udah, nggak usah kamu pikirkan. Semua bakalan tetap aman terkendali. Kamu tenang aja. Kan kamu tau sendiri, kalau suami belum mampu mencukupi kebutuhan istrinya, maka ibu dari suami yang bertanggung jawab atas pemenuhan kebutuhanmu. Jadi kamu nggak perlu khawatir. Ibu sendiri yang bilang sama aku, kok. Ibu siap menanggung semua kebutuhan hidup kita, selama kita masih tinggal di rumah ini." Mas Aak masih tetap saja tersenyu tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


"Ya sudahlah." Aku hanya bisa menurut, apalagi Mas Aak sudah bawa-bawa Ibu. Itu artinya memang sudah dibicarakan oleh mereka berdua sebelumnya.


***


Malam harinya, aku benar-benar berdebar. Perasaan takut, malu dan lain sebagainya bercampur jadi satu. Aku sengaja bersiap untuk tidur lebih awal, tidak peduli dengan ledekan dari iparku. Siapa tau bisa membuatku bebas dari gangguan Mas Aak. Tapi ternyata gagal, aku tetap saja tidak bisa tidur, perasaanku was-was. Apalagi saat mendengar suara langkah kaki mendekati kamar, jantungku serasa mau copot.


Aku segera memiringkan badanku, mengahdap tembok. Aku memejamkan mataku dalam-dalam, berharap bisa segera tidur, atau setidaknya Mas Aak mengira aku sudah tertidur.


"Dek?" Mas Aak memanggilku, saat sudah masuk kamar dan menguncinya. Aku benar-benar bingung harus bersikap seperti apa?


"Kamu udah tidur?" Mas Aak berjalan semakin dekat. Aku bisa mendengar langkah kakinya, meskipun tanpa alas kaki. Aku memilih untuk tetap diam, berharap Mas Aak memilih untuk pergi.


"Kamu pasti kecapean, ya." Mas Aak duduk di samping ranjang. Tak kusangka, ternyata dia memilih untuk ikut berbaring di belakangku. Aliran darahku terasa memanas. Sensasi yang baru pertama kali kurasakan, benar-benar luar biasa.


Pagi-pagi sekali, sebelum subuh aku sudah bangun. Aku mencoba memasang telingaku lekat-lekat, mendengarkan apakah sudah ada aktifitas di luar kamar atau belum. Ternyata masih sepi, aku menarik nafas lega.


"Mas! Mas! Bangun!" Aku menggoyang-goyangkan tubuh Mas Aak yang masih asyik mendengkur.


"Hmm." Mas Aak menggeliat.

__ADS_1


"Bangun, Mas! Mandi, mumpung belum subuh!"


"Hmm, kamu duluan aja sana! Lima menit lagi aku bangun." Mas Aak masih tetap memejamkan matanya, masih enggan untuk membuka mata.


"Yaudah deh." Aku meninggalkan Mas Aak yang masih belum rela kehilangan mimpinya. Aku segera mandi keramas pagi-pagi itu. Meskipun terasa dingin, tapi tetap kutahan. Mau bagaimana lagi? Sudah resiko. Mau pakai air hangat, sayang sama gasnya.


Aku memelankan suara guyuran air di tubuhku, juga cepat-cepat menyelesaikan ritualku, jangan sampai aku ketahuan mandi keramas pagi-pagi. Bisa malu banget! Ya memang wajar sih, toh aku punya suami. Tapi tetap saja, rasanya malu. Ketahuan kalau tadi malam sudah mencari pahala besar.


Sekembalinya aku dari kamar mandi, Mas Aak masih dalam posisi yang sama. Dia seperti tidak bergerak sama sekali.


"Mas! Katanya lima menit? Ini udah lebih dari lima menit loh! Buruan, bangun!" Aku kembali membangunkan Mas Aak. Kali ini aku menyentuh kulit tangannya.


Bukannya bangun, Mas Aak justru menarik selimutnya, menutupi tubuhnya yang terasa dingin karena kusentuh tadi.


"Ya ampun, Mas. Kenapa susah banget dibangunin, sih?" Aku memilih meninggalkan Mas Aak. benar-benar menyebalkan. Padahal di rumah, Singgih, adikku yang masih belum sekolah SD saja sudah terbiasa bangun sebelum subuh, ikut sembahyang di masjid. Tapi di sini? Suamiku yang usianya sudah lebih dari 30 tahun, justru sangat sulit dibangunkan. Ternyata tidak selamanya orang tua yang baik dan taat, menurunkan ketaatan dan ketertibannya beribadah pada anaknya.


Aku memutuskan untuk mengeringkan rambutku dengan handuk, memberi sedikit kelonggaran waktu pada Mas Aak. Sampai akhirnya adzan subuh berkumandang. Aku kembali mencoba membangunkan Mas Aak.


"Mas, bangun! Udah adzan. Cepetan mandi! Nanti nggak bisa sembahyang di masjid!" Aku kembali menggoyangkan badan Mas Aak.

__ADS_1


"Kamar mandinya lagi antri. Aku mandi nanti aja. Kamu ke masjid sendiri aja, ya! Aku sholatnya di rumah nanti." Mas Aak menjawab, tapi matanya masih tetap belum terbuka sama sekali.


Mas Aak memang tida membentakku, tapi tetap saja jawabannya membuat dadaku terasa sesak, saat di rumah, keluargaku kalau telat ikut sholat subuh jamaah di masjid saja rasanya sangat menyesal. Tapi kenapa, Mas Aak suami sekaligus imamku, ternyata justru tidak bisa menjadi contoh yang baik untukku? Kenapa dia menyepelekan hubungannya dengan Tuhannya? Jadi, bagaimana kehidupan akan berjalan baik-baik saja kalau seperti ini? Aku jadi sedikit menyesal, semalam melayani Mas Aak. Kalau tau dia susah dibangunkan seperti ini, lebih baik nggak usah melayani keinginannya saja!


__ADS_2