Suami Pilihan Bapak

Suami Pilihan Bapak
Bab 17


__ADS_3

"Nggak masalah, Mel." Ibuku tersenyum, senyum yang sangat teduh. Meskipun mertuaku juga sangat baik, tapi entah kenapa, aku tetap merasa lebih bahagia melihat senyum ibuku. Berada di dekatnya menjadi sebuah kenyamanan tersendiri.


Aku pun bersiap dan pergi mengajar seperti biasa. Tidak ada yang istimewa, hanya tugas yang terasa semakin menumpuk saja. Untung saja waktu itu aku tidak mengambil tawaran dari Pak Kepsek untuk menjadi operator sekolah. Kalau aku setuju, pasti sekarang tugasku bertumpuk tambah banyak.


Seperti rencanaku tadi pagi, sepulang sekolah aku mampir di rumah Bapak. Aku membantu Ibu mengemasi barang-barang yang masih belum tertata dengan baik. Barang-barang seperti alat masak dan lain sebagainya yang harus dikembalikan ke RT, karena itu adalah milik warga satu RT, semua yang membutuhkan bisa meminjamnya. Tak terkecuali aku kemarin.


Aku juga memasukkan kado-kado yang belum kubuka di dalam kamarku, supaya tidak memenuhi ruang tamu. Jadilah aku di rumah Bapak sampai sore.


"Kamu belum mau pulang, Mel?" Tiba-tiba saja Bapak menegurku, hatiku sedikit teriris, ternyata seperti ini nasib anak perempuan kalau sudah menikah. Di rumah orang tua dianggap tamu, di rumah mertua jadi orang asing.


"Sebentar lagi, Pak." Aku menjawab singkat, melanjutkan menghitung sendok makan dan mengumpulkannya jadi satu.


"Udah ijin sama suamimu belum?" Bapak duduk di kursi tak jauh dari tempatku berdiri.


"Tadi ijinnya berangkat sekolah, Pak. Nggak kasih kabar lagi. Beliau juga nggak tanya, tuh. Nggak ada WA atau telpon gitu." Aku menjawab santai, aku masih sebal mengingat kejadian tadi pagi.


"Ya kamu yang inisiatif kasih tau, Mel. Pamit. Kalau gini, nggak baik untuk hubungan kalian. Namanya istri, harus menghormati suami, salah satunya dengan meminta ijin setiap mau pergi kemanapun. Termasuk ke sini." Bapak memberiku nasehat, seperti biasa, aku tidak bisa menolak kalau Bapak yang sudah memberi petuah.


"Baik, Pak." Aku bergegas mengambil HP di dalam kamarku, dan memberi tahu Mas Aak, kalau aku sedang bantu beres-beres di rumah Bapak. Aku tidak peduli, Mas Aak membalas atau tidak. Aku kembali melanjutkan pekerjaanku yang tertunda.

__ADS_1


Setelah semua kembali masuk di dalam kotak penyimpanan dan siap dikembalikan, aku berniat untuk pulang ke rumah mertua.


"Bu, aku mau pulang dulu, ya!" Aku menemui ibuku setelah selesai berkemas.


"Oh, udah mau pulang? Besok ke sini lagi, kan? Kasian Singgih, dia belum ketemu sama kamu. Padahal kemarin nanyain kamu terus. Katanya kok nggak pulang-pulang."


Deg!


Sedih banget rasanya tau hal itu. Kasian Singgih.


"Iya, Bu. Pasti ke sini lagi. Nanti bilang aja sama Singgih, besok di rumah aja, nggak usah kemana-mana. Pulang sekolah, aku mampir lagi, Bu." Aku menitip pesan untuk Singgih, adikku yang sangat dekat denganku, bahkan orang-orang akan mengira kalau dia adalah anakku.


"Iya, Mel. Kamu baik-baik aja kan di sana?"


"Syukurlah kalau begitu. Yang penting apapun yang terjadi, kamu harus sabar. Orang menikah tidak ada yang jalannya mulus-mulus saja. Pasti akan menemui banyak kerikil yang mengganggu. Kalau ada masalah, usahakan pecahkan masalah bersama suamimu, jangan kamu pendam sendiri. Daripada kamu yang stres." Ibu berpetuah padaku, sebelum aku pergi.


"Iya, Bu. Sebenarnya aku masih kurang komunikasi sama Mas Aak. Jadi dalam waktu singkat ini saja, kami berdua sudah sering berdebat untuk masalah yang sebenarnya sepele, tapi semoga ke depannya bisa lebih baik lagi." Aku menyalami ibuku, juga mencium punggung tangannya tidak mau membicarakan aib kami berdua lebih lanjut. Kasian kalau Ibu jadi kepikiran.


"Iya, Mel. Sedikit demi sedikit, kalian harus latihan saling memahami dan saling mengerti. Kalau sesekali beda pendapat itu tidak masalah, yang penting jangan sampai berlarut-larut. Tidak baik juga seperti itu."

__ADS_1


"Baik, Bu. Aku akan coba." Aku menarik nafas panjang, mengingat kelakuan Mas Aak yang benar-benar random. Kadang baik, humoris, tapi kadang juga super nyebelin.


Aku memutuskan untuk pulang lagi ke rumah mertuaku dengan membawa perlengkapan sekolah untuk besok sekalian. Aku nggak mau terburu-buru seperti tadi pagi. Apalagi pekerjaan dari sekolahan juga menumpuk. Aku harus bisa memenejemen waktu dengan baik.


"Assalamu'alaikum," aku membuka pintu samping rumah, pintu yang langsung menuju ke kamarku.


"Wa'alaikumsalam." Terdengar jawaban dari dalam kamar. Aku segera membuka pintu kamar, ternyata Mas Aak masih dalam posisi yang sama dengan saat aku berangkat sekolah tadi.


"Nggak kemana-mana, Mas?" Aku bertanya bada-basi, berniat untuk menyalami suamiku, tapi ternyata responnya juga sama seperti tadi pagi.


"Enggak. Nggak usah salaman nggak papa. Lagi sibuk nih." Mas Aak menjawab tanpa melihat ke arahku sedikitpun.


"Oke." Aku menjawab singkat. Kalau begini, bagaimana caraku meraih surga? Padahal katanya surga seorang istri itu karena baktinya pada suami. Tapi, kalau suaminya tidak mau diperlakukan dengan hormat begini gimana? Entahlah.


Aku segera berganti pakaian, setelah itu aku keluar rumah, melihat pakaian yang tadi kucuci. Sudah tidak ada jemuran di sana, seingatku tadi di kamar juga tidak ada jemuran yang baru diangkat. Aku bergegas kembali ke kamar memastikan ingatanku tidak salah.


Ternyata memang benar, tidak ada jemuran menumpuk di dalam kamar. Aku berpikir positif, mungkin saja Mas Aak berbaik hati, jadi sudah melipatkan pakaiannya sekalian. Aku kembali membuka lemari, ternyata tidak ada tanda-tanda lipatan baju yang tadi pagi kucuci.


Kali ini aku sudah tidak bisa berpikir positif lagi. Jangan-jangan, Mas Aak tidak menjemurkan bajunya! Aku segera berlari ke tempat cuci baju. Sesampainya di sana, aku hanya bisa menarik nafas berat. Ternyata benar dugaanku, cucianku tadi pagi masih utuh di ember, belum berpindah satu senti pun.

__ADS_1


Aku segera menciumi cucianku tadi, benar saja, cucianku berbau lagi, karena terlalu lama direndam pewangi. Tanpa terasa air mataku menetes. Kalau begini, jadi kerja dua kali, kan? Badanku yang sudah capek seharian mengajar, ditambah membereskan barang di rumah Bapak, pengennya di rumah beristirahat sebentar. Tapi ternyata? Aku masih harus membilas lagi pakaian yang bau bacin! 


"Ya Allah, Mas! Apa nggak bisa bantuin kerjaanku sedikiit aja?" Aku bergumam sendiri disela tetesan air mata. Siapa yang nggak jengkel, aku bekerja seharian tanpa berhenti, sedangkan Mas Aak seharian hanya bersantai di rumah, tapi cuma bantuin jemur baju aja nggak mau? Orang macam apa sih dia sebenarnya?


__ADS_2