Suami Pilihan Bapak

Suami Pilihan Bapak
Bab 19


__ADS_3

Hari-hari berikutnya, aku tetap menjalankan tugasku. Tugas sebagai istri, juga tugas sebagai pengajar. Sangat melelahkan memang, tapi kalau harus berhenti dari pekerjaanku, rasanya pasti membosankan. Seharian di rumah, tanpa punya alasan untuk keluar mencari udara segar.


Ingin rasanya aku mengeluh capek, tapi percuma saja. Mas Aak tidak akan peduli. Dia juga tetap tidak akan membantu melakukan pekerjaan yang dia percaya jadi tugasku sebagai seorang istri. Meskipun dia juga tak kunjung sadar tugasnya sebagai seorang suami. Sampai saat ini, aku masih belum menerima uang dari suamiku. Jangankan untukku menyenangkan diri, untuk kebutuhan sehari-hari saja masih pakai uang tabunganku.


Suatu malam, aku sedang tobat, dan mau melipati baju yang sudah menggunung. Semenjak aku menurunkan standar kerapian kamar, aku jadi sering bersikap masa bodo. Aku akan mengerjakannya kalau sudah mau saja.


"Mas, kamu kok nggak coba cari kerja lain, sih? Kenapa cuma nunggu dapet panggilan ngelas?" Aku memberanikan diri untuk angkat bicara membahas hal ini. Lama-lama jengkel juga, setiap hari cuma lihat Mas Aak main HP atau tiduran. Benar-benar tidak bermanfaat. Kalau bekerja kan setidaknya bisa dapat penghasilan.


"Kerja apa? Aku nggak punya keahlian lain." Mas Aak melihat ke arahku, mengabaikan HP-nya untuk sementara waktu. Meskipun jawaban yang diberikannya secara tidak langsung sudah mematahkan harapanku.


"Ya kerja apa aja yang kamu bisa, Mas. Masa nggak ada yang kamu bisa sama sekali?"


"Iya, aku emang cuma bisa ngelas. Nggak bisa yang lain." Mas Aak kembali menatap layar ponselnya.


"Bengkel motor?"


"Nggak bisa."


"Cuci motor, mobil, karpet?"

__ADS_1


"Nggak bisa bersih."


"Hhh." Aku menarik nafas berat. Jadi apa kerjaan yang pasti bisa dilakukan suamiku? Padahal dia kerja apapun juga nggak masalah, yang penting halal.


"Kalau nggak ya bantuin Bapakku di sawah. Kalau panen kan nanti bakalan dapat upah." Aku tiba-tiba punya ide ini, biar Bapak tau bagaimana sikap Mas Aak yang sebenarnya. Ternyata dia tidak seperti yang kami bayangkan waktu dulu sebelum menikah.


"Kalau aku mau ke sawah, udah kulakuin dari dulu, Dek. Sawahnya Bapak Ibu juga luas. Tapi aku males banget, panasnya itu, loh. Enakan nyuruh orang buat ngerjain. Kita tinggal duduk manis, kalau panen dapat uang sama dapat jatah dari hasil panennya."


"Tapi kalau dikerjain sendiri, hasil panennya dinikmati sendiri, Mas. Nggak cuma separuhnya. Lagipula buat kerjaan juga, daripada di rumah cuma tiduran sama .ain game terus. Sepet lihatnya tau nggak? Udah nggak mau bantuin beresin kerjaan rumah. Kalau emang nggak mau bantuin ya nggak papa, tapi setidaknya jangan nambahin kerjaanku bisa nggak sih, Mas? Aku itu capek. Capek jiwa raga. Kamu nggak mau ngerti aku, nggak mau bantuin aku, padahal kamu nggak ngapa-ngapain!" Aku akhirnya bisa meluapkan emosiku, pakaian yang ada di hadapanku kubanting-banting, saking bertenaganya aku. Tak terasa air mata yang selama ini ku tahan, akhirnya jatuh juga, dihadapan orang yang membuatku tertekan.


"Kamu sekarang itu sudah menjadi seorang suami, Mas. Kamu sudah mengambil alih tanggung jawab bapakku terhadap diriku. Jadi, kamu yang seharusnya bertanggung jawab penuh atas kebutuhanku. Memberi nafkah dan lain sebagainya itu semua tanggung jawabmu. Jangan berpikir bahwa mengerjakan pekerjaan rumah itu kodrat seorang perempuan! Karena laki-laki juga bisa melakukannya. Tinggal bagaimana dianya saja. Mau atau tidak. Kan kamu di rumah nggak ngapa-ngapain, Mas. Apa salahnya sih kalau kamu meringankan pekerjaanku?" Aku terus mengomel di sela isakan tangisku.


"Kalau kamu nggak mau membantu pekerjaan rumah, setidaknya keluarlah, cari kerjaan! Jangan cuma berpangku tangan, berharap pekerjaan akan menghampiri! Sayang waktunya, Mas! Seharian bermain HP, nggak dapat manfaat apa-apa. Dapat ilmu juga enggak, dapat uang juga enggak."


"Terus aku harus gimana, Dek?" Mas Aak akhirnya bersuara.


"Ya cobalah kemana gitu! Tanya sama orang-orang, ada lowongan kerja atau tidak. Jadi karyawan toko, jadi tenaga tukang, atau apalah yang bisa kamu lakukan, Mas. Jadi tukang ojek, tukang parkir juga nggak masalah, atau kalau malu dengan pekerjaan itu, nanam sayuran di sawah kan bisa? Apa harus aku juga yang mengolah sawah? Lalu, dimana tanggung jawabmu sebagai suami, Mas? Apa selamanya kamu akan bergantung pada ibu? Apa kita hanya akan hidup dari gajiku yang tak seberapa? Nggak akan cukup, Mas!" Aku kembali mengungkit masalah nafkah. Memang masalah utamaku dengan Mas Aak sebenarnya hanya dua hal itu saja. Dia yang tak mau membantu pekerjaan rumah, meskipun senggang, dan dia yang tidak kunjung mencari pekerjaan.


"Lagi pula ke sawah nggak setiap hari kan nggak masalah. Yang penting tetap dipantau. Jadi setidaknya ada kegiatan, Mas. Sambil nunggu ada panggilan dari bengkel las." Aku memberikan saran terbaik yang ku bisa.

__ADS_1


"Oke, oke. Besok aku ke sawah, coba lihat-lihat kondisi di sana."


"Nah, gitu dong, Mas. Ada niat yang bagus. Nggak cuma di rumah, main game terus, boros kuota, padahal uang buat beli kuota juga masih minta sama ibu. Apa nggak malu sama umur, Mas?" Aku mengusap air mataku, rasanya lega bisa mengungkapkan apa yang aku pendam selama ini. Meskipun mungkin terkesan tidak sopan, tidak hormat pada suami, tidak berkata dengan lemah lembut, tapi kalau tidak seperti ini, mas Aak tidak akan mungkin berubah. Dikode-kode nggak peka, mending ku ceploskan saja.


"Iya, maaf, Dek." Mas Aak tertunduk. Aku tidak tega juga melihatnya seperti itu.


"Besok aku temani ke sawah, mumpung libur. Kita cari tau, tanaman apa yang pas ditanam di sana. Kita belajar bareng gimana cara merawat dan lain sebagainya. Jadi setidaknya kita punya tabungan gitu, Mas." Aku memotivasi juga mendukung suamiku, semoga saja dia benar-benar akan berubah jadi lebih baik.


Keesokan harinya, suamiku memang bersikap lebih baik. Dia tidak sulit dibangunkan untuk sembahyang subuh, dia juga membantu menyapu kamar, bahkan dia yang memasak saat aku mencuci pakaian.


Saat sarapan, aku cukup kaget dengan citarasa masakan suamiku.


"Masakanmu ternyata enak juga, Mas." Aku menyuapkan lagi sesuap makanan setelah memuji masakan suamiku.


"Ya jelas enak, kan biasa berpetualang. Biasa masak-masak." Mas Aak menyombongkan dirinya.


"Heleh, katanya suka berpetualang, tapi sama jalan aja masih nyasar!" Aku meledek mas Aak, mengingat kejadian waktu itu.


"Ya kan itu beda, Dek. Aku emang belum pernah lewat jalan rusak itu, jadi ya wajar kan kalau bingung." Mas Aak tersenyum, dia membela diri.

__ADS_1


Dalam hati aku berharap, semoga perubahan suamiku saat ini, akan terus berlanjut dan juga akan menjadi suami yang lebih baik lagi.


__ADS_2