
Hari-hari berikutnya, hubunganku dengan mas Aak menjadi lebih baik. Aku bisa mengatakan apa yang ku mau tanpa takut lagi, karena nyatanya suamiku memang bukan yipe laki-laki yang bisa memahami kode, jadi mau tidak mau aku harus mengatakan kalau aku suka atau tidak suka dengan suatu hal, maupun mengatakan apa yang kuinginkan.
"Mas, besok kan malem Minggu, kita nginep di rumah bapak, yuk!" Aku mengajak suamiku, kami memang belum pernah menginap di rumah orang tuaku selama ini. Juga sekarang aku sudah jarang mampir ke sana kalau sepulang sekolah. Mengingat kerjaan di rumah yang mungkin akan terbengkalai.
"Ya, boleh." Mas Aak menjawab singkat, tapi tetap melegakan bagiku.
"Aku terusan dari sekolah, atau bareng-bareng sama kamu ke sananya, Mas?" Aku kembali bertanya, takut kalau salah langkah.
"Bareng aja, nggak enak kalau ke sana sendiri-sendiri, nanti dikiranya kita lagi ada masalah, kan?"
"Iya juga sih, Mas. Yaudah, kalau gitu besok aku pulang dulu." Aku mengangguk setuju dengan jawaban suamiku, sangat masuk akal.
Jadilah malam Minggu, aku dan suamiku menginap di rumah bapak. Terasa menyenangkan, bisa kembali ke rumah tempat kelahiranku. Di sini aku merasa bebas menjadi diri sendiri, tidak perlu berperilaku terlalu sopan karena takut mendapat penilaian buruk dari mertua. Rumah ternyaman memang rumah orang tua sendiri.
Tapi ternyata tidak begitu dengan mas Aak. Meskipun dia suka selengekkan, tapi ternyata menjadi sangat kaku kalau berhadapan dengan bapak. Sama adik laki-lakiku juga tidak bisa langsung akrab karena memang adikku yang pendiam.
"Besok malem Minggu nginep rumah bapak lagi ya, Mas?" Aku turun dari motor dan melepas helmku sepulang dari rumah bapak hari Minggu siang.
"Jangan setiap malem Minggu nginep sana lah. Aku kurang nyaman di sana." Mas Aak menekuk wajahnya, sepertinya dia memang merasa tertekan.
"Emangnya kenapa? Kan di sana rumah orang tuamu juga, Mas?" Aku mengangkat sebelah alisku, bertanya lebih lanjut.
"Mau nggak ngapa-ngapain nggak bebas. Kamu tau sendiri kan, habis subuh itu kafang aku suka tidur lagi. Kalau di rumah bapak, aku nggak bisa. Padahal semalem nggak bisa tidur. Ngantuk banget rasanya. Mau ngrokok juga nggak enak. Mau makan banyak-banyak juga nggak enak. Pokoknya enakan di rumah sendiri lah."
__ADS_1
Ternyata seperti itu alasannya.
"Ya sama aja, Mas. Aku di sini juga rasanya serba nggak enakan. Mau santai nonton drakor, main HP, nggak enak. Mau pergi-pergi, nggak enak. Mau tidur siang, nggak enak. Serba nggak enakan pokoknya. Tapi aku nggak menolak tinggal di sini. Aku tetep berusaha untuk betah di sini." Aku membalas alasan Mas Aak yang menurutku kekanakan.
"Iya, iya. Yaudah terserah kamu aja, deh. Aku mau tidur dulu. Ngantuk." Mas Aak melangkah gontai, pergi duluan meninggalkanku yang masih di motor. Bahkan dia tidak membawakan sayuran yang dikasih ibuku dari hasil panen sendiri.
"Hhh. Kambuh lagi." Aku menarik nafas berat. Terpaksa aku yang harus membawa satu kardus mie instan berisi sayuran dari rumah. Terasa berat, tapi aku masih kuat.
Aku memang harus ekstra sabar dan harus selalu siap menghadapi segala kondisi. Suamiku kadang baik dan perhatian, suka membantu, tapi kadang juga menyebalkan. Memang betul kata orang-orang, kita jangan pernah mengandalkan orang lain, karena sebenarnya hanya diri sendiri yang paling mengerti dan paling bisa diandalkan.
Aku merasa diriku sekarang jadi lebih kuat juga lebih sabar menghadapi semua yang kuhadapi. Sampai suatu pagi, tiba-tiba saja perutku terasa mual. Aku berlari ke kamar mandi, tapi tidak ada yang keluar sama sekali.
"Kamu kenapa, Dek?" Mas Aak mungkin saja mendengar suaraku berusaha mengeluarkan isi perut.
"Yaudah, istirahat aja ya. Aku kerokin mau? Nanti nggak usah berangkat sekolah dulu. Kita periksa ke puskesmas." Mas Aak membantuku berjalan ke kamar. Sesekali aku melirik ke arah wajah Mas Aak.
"Tumben," pikirku. Tapi syukurlah, begini lebih baik.
"Mau aku ambilin minum panas? Biar perutnya enakan?" Mas Aak menawariku, setelah mengantarku duduk di kasur.
"Boleh, Mas. Jangan lama-lama, ya! Aku pengen cepet-cepet dikeroki. Pengen tau, merah apa enggak. Biar cepet enakan juga badannya." Aku membaringkan tubuhku pelan. Sesekali rasa mual itu masih melanda. Seingatku, akut tidak punya riwayat sakit magh. Tapi kenapa perutku rasanya nggak enak banget.
"Oke, tunggu bentar!" Mas Aak segera berjalan meninggalkan kamar. Setelah beberapa saat, ia kembali dengan membawa satu gelas air panas.
__ADS_1
"Kok lama, Mas?" Aku segera bangun, tak sabar ingin meminum air panas.
"Tadi ditanyai Ibu, kamu kenapa, kok kayak muntah-muntah gitu." Mas Aak membantuku meminum air yang ia bawa.
"Berarti kedengeran sampai kamar Ibu, Mas? Padahal dari kamar mandi ke kamar Ibu kan lumayan jauh ya?" Aku jadi merasa tidak enak. Pasti membuat Ibu merasa tidak nyaman.
"Tadi Ibu lagi di dapur, jadi denger suara kamu muntah-muntah." Mas Aak meletakkan minuman ke meja rias yang ada di samping kasur.
"Oh, pantes aja." Aku manggut-manggut. Dapur memang berada di samping kamar mandi, jadi wajar kalau terdengar, karena aku juga sudah menyalakan kran supaya menyamarkan suara muntahan yang pasti terdengar menjijikkan itu.
"Trus Ibu komentar apa lagi, Mas?" Aku bertanya lagi, ingin tau apa pendapat mertuaku.
"Suruh periksa aja, jangan langsung minum obat, takutnyakamu lagi hamil. Jadi muntah-muntah gitu." Mas Aak menjawab dengan wajah datarnya.
"Kenapa aku nggak kepikiran sampai sana ya? Aku emang udah telat dua minggu sih, Mas. Atau jangan-jangan aku emang hamil? Gimana dong kalau hamil, Mas?" Aku tiba-tiba jadi panik. Entah kenapa, rasanya aku belum siap kalau harus hamil sekarang. Pasti akan ada banyak hal yang terganggu, kalau aku hamil.
"Ya nggak papa kalau hamil, kan punya suami? Kalau hamil nggak punya suami lah, wajar kalau panik. Lah ini, hamil karena punya suami kan ya wajar? Lagi pula kalau orang menikah kan salah satunya untuk mendapatkan keturunan?" Mas Aak duduk di pinggir kasur. Aku tau kalau sebenarnya dia juga banyak pikiran. Mengingat dia bekerja juga tidak pasti, apalagi kebutuhan akan semakin bertambah kalau punya anak.
"Aku rasanya belum siap aja, Mas. Gimana kalau kita belum bisa jadi orang tua yang baik untuk anak kita?" Aku menutup wajah dengan kedua tanganku.
"Nanti kita periksa aja dulu. Kita pikirkan bagaimana ke depannya, kalau sudah jelas bagaimana yang sebenarnya."
Aku mengangguk setuju. Kali ini aku merasa salut dengan suamiku, ucapannya terdengar sangat bijak. Semoga saja seterusnya bisa seperti itu. Apalagi kalau aku memang beneran hamil, itu artinya dia akan segera menjadi bapak yang harus bisa jadi contoh untuk anaknya, kan?
__ADS_1