Suami Pilihan Bapak

Suami Pilihan Bapak
Bab 18


__ADS_3

"Mas! Kenapa bajunya tadi nggak kamu jemur?" Aku langsung mengomel setelah selesai menjemur baju.


"Ha? Apa?" Kali ini Mas Aak melihat ke arahku, tidak seperti tadi pagi, maupun barusan yang terus fokus ke HP-nya. Aku melihat cara memegang HP-nya sekarang memang sedang potrait, mungkin sudah tidak main game lagi.


"Kenapa cucianku tadi pagi nggak kamu jemurin?" Aku mengulang pertanyaan dengan menaikkan nada suaraku, saking jengkelnya.


"Lah, aku nggak tau kalau ada cucian. Emangnya kamu bilang kalau suruh jemurin baju?" Mas Aak meletakkan HP-nya dan menghadapku secara penuh sekarang.


"Ya Allah, jadi kamu tadi pagi nggak denger, aku minta tolong buat jemurin cucian?" Aku bertambah gedeg mendngar jawaban Mas Aak, rasanya super dongkol.


"Enggaklah. Kalau tau suruh jemurin baju, ya pasti aku jemurin." Mas Aak menjawab dengan santai.


"Bener-bener ya! Itu akibatnya kalau main game terus! Telinganya jadi nggak fungsi! Tuli!" Saking jengkelnya aku sampai mengucapkan kata-kata kasar itu pada suamiku.


"Ya kamu sendiri kan tau, kalau laki-laki nggak bisa fokus sama lebih dari satu hal. Jadi ya, kamu yang harus paham, kalau aku lagi main game, jangan dikasih perintah, karena aku nggak bakalan inget." Mas Aak kembali beralasan.


"Bodo amat lah! Capek sendiri ngomong sama kamu! Buang-buang tenaga aja!" Aku segera mengambil handuk, juga pakaian ganti. Ingin rasanya mengguyur badanku yang rasanya sangat panas. Bukan cuma panas badan, hati dan pikiranku juga super panas.


Mulai dari sore itu, aku jadi mogok bicara sama Mas Aak. Aku mengerjakan apa yang bisa kukerjakan, sebisa mungkin menyibukkan diri, jadi tidak perlu ngobrol dengan suamiku itu. Aku juga tidak peduli, dia mau makan atau enggak, terserah. Yang penting aku makan, aku sehat. Jangan sampai aku sakit, karena kalau aku sakit, pasti akan lebih repot sendiri.

__ADS_1


"Dek, aku mau main sama anak-anak vespa! Di rumah bosen, nggak ngapa-ngapain. Nggak diajak ngomong-ngomong juga." Mas Aak mengenakan jaketnya bersiap untuk pergi.


"Hmmm." Aku menjawab singkat, tanpa menoleh ke arah suamiku, hanya melirik saja. Pura-pura tetap fokus pada kerjaan sekolahku. Terserah dia mau apa, aku tidak peduli. Mau main sampai pagi juga terserah. Malah bagus, aku jadi bisa beristirahat, tanpa harus pura-pura sibuk seperti ini terus.


"Aku berangkat dulu!" Mas Aak mendekatiku, dia mengulurkan tangannya, minta disalami dan dicium punggung tangannya.


"Nggak usah salaman nggak papa! Tanganku lagi sibuk!" Aku membalas Mas Aak dengan kata-katanya tadi pagi. Rasakan! Gimana rasanya? Sakit hati, kan? Aku menunggu respon Mas Aak. Apa dia akan marah? Atau tetap bersikap santai seperti biasa.


"Yaudah, aku pergi dulu!" Mas Aak menurunkan tangannya, dia melenggang pergi begitu saja.


"Dasar nggak peka!" Aku pikir Mas Aak akan sadar kalau aku sedang marah, jadi dia berusaha untuk meminta maaf gitu. Ternyata salah besar. Kalau begini caranya, aku bakalan melanjutkan acara ngambekku aja. Sampai tiga hari ke depan. Katanya boleh jengkel dalam waktu tiga hari. Jadi, aku akan memanfaatkan waktu tiga hari itu untuk ngambek!


Kebiasaanku dari dulu, saat dini hari, aku pasti akan terbangun karena kemihku yang terasa penuh. Aku melihat jam dinding yang ada di seberang ranjang. Sudah jam dua, Mas Aak belum pulang juga. Ternyata dia masih belum berubah dari jaman lajang. Dia masih suka main sampai pagi. Terserahlah! Aku nggak mau menambahi beban pikiranku.


Aku memutuskan untuk ke kamar kecil, sekalian ambil air wudhu. Aku melakukan sembahyang dua rokaat dan berdo'a, memohon agar Mas Aak bisa berubah, kalaupun tidak, aku memohon diberi kekuatan dan keluasan hati.


Aku sudah tidak bisa tidur lagi setelah itu, aku memutuskan untuk mengerjakan tugas sekolahku lagi. Tapi entah kenapa, saat menjelang subuh, mataku justru terasa sangat berat. Aku kembali merapikan pekerjaanku dan kembali merebahkan diri di kasur. Aku tau, ini sebenarnya tidak boleh, tapi aku tidak tahan dengan godaan kasur. Jadilah aku tertidur lagi.


"Kamu nggak berangkat sekolah, Dek?" Aku kaget dan terbangun saat Mas Aak memegang lenganku.

__ADS_1


"Jam berapa ini?" Aku segera melihat ke arah jam dinding.


"Ya Allah." Aku segera bangkit saat melihat jam sudah menunjukkan pukul enam pagi.


Aku bergegas ke kamar mandi, aku belum sholat subuh. Jadi aku segera sholat subuh. Aku tidak peduli dengan Mas Aak, aku sedang panik dengan diriku sendiri.


Setelah selesai sholat subuh, aku segera mandi dan langsung bersiap untuk berangkat ke sekolah. Tanpa pamit ataupun meninggalkan pesan apapun pada Mas Aak yang sudah terlelap. Efek main semalaman, jadi jam segini malah tidur. Aku juga tidak meninggalkan masakan untuk makan Mas Aak. Biarlah dia cari makan sendiri, toh dia bukan anak kecil lagi, pikirku.


Aku tergesa-gesa berangkat ke sekolah. Untung semalam aku sudah mempersiapkan materi untuk pelajaran hari ini. Jadi, meskipun aku datang di jam yang mepet dengan bel masuk, aku tetap siap untuk mengajar.


Sepulang sekolah, aku kembali mampir ke rumah Bapak. Menepati janjiku pada Singgih kemarin. Aku harus memberi contoh, bahwa janji harus ditepati, supaya dia bisa menirunya suatu saat nanti. Aku bermain dengan Singgih sampai sore, seperti kemarin. Aku lupa kalau banyak pekerjaan rumah yang kutinggalkan.


Sore hari aku pulang, dan mendapati kamar berantakan, handuk di atas kasur, jemuranku kemarin sore menumpuk, bungkus makanan ringan dan minuman botol juga berserakan, sedangkan Mas Aak masih tertidur.


"Hhhh. Sepertinya aku harus menurunkan standar kerapianku. Kalau setiap hari seperti ini terus, bisa stres aku. Gara-gara kamar nggak pernah rapi. Ini baru kamar, belum di luar kamar ini. Kalau aku yang harus beresin semuanya, sungguh ku tak sanggup lagi." Aku bergumam sendiri sembari menggelengkan kepalaku yang tiba-tiba terasa pening.


"Hhh. Setidaknya jemuran sudah diangkati. Lumayan lah, membantu sedikit." Aku masuk kamar dan meletakkan tas juga berganti pakaian.


Setelah itu aku langsung ke kamar mandi. Dan seperti dugaanku, tidak mungkin Mas Aak membantuku mencucikan baju. Pakaian kotor kami masih menumpuk di ember dekat kamar mandi. Setelah selrsai mandi, aku langsung mencuci pakaian kotor kami berdua, juga menjemurnya sore itu juga. Aku harus mandiri, mengerjakan apa-apa sendiri, selagi aku mampu. Jangan berharap banyak pada Mas Aak. Percuma! Yang ada hanya kecewa!

__ADS_1


__ADS_2