Suami Pilihan Bapak

Suami Pilihan Bapak
Bab 23


__ADS_3

"Ayo ke bidan lagi, Dek!" Mas Aak menyadarkanku dari keseriusanku melihat tulisan di kertas kecil panjang itu.


"Oh, iya, Mas. Ayo!" Aku tetap memegang kertas hasil cek lab tadi, meskipun sudah tidak kubaca lagi. kami berdua berjalan cepat, menuju ruang bidan. Ternyata masih ada yang sedang diperiksa. Aku memutuskan untuk menunggu pasien yang sedang diperiksa itu keluar dulu, baru nanti aku masuk untuk menyerahkan hasil lab yang kupegang.


Setelah menunggu beberapa saat, pasien itu keluar. Aku langsung masuk, sebelum bidan memanggil nama pasien berikutnya.


"Bu, ini hasil cek labnya." Aku memberikan kertas panjang yang tadi dibawakan oleh Bu Bidan.


"Oh, ya, Bu. Silahkan duduk!" Aku dan Mas Aak kembali duduk, seperti tadi waktu pemeriksaan awal. Bu Bidan nampak mengamati hasil tes labku.


"Benar, Bu. Seperti dugaan Ibu, Anda memang sedang hamil. Selamat ya, Bu, Pak!" Bu Bidan tersenyum pada kami berdu secara bergantian.


Aku melihat ke arah Mas Aak yang juga masih belum berkomentar apa-apa. Jujur saja, aku rasanya antara bahagia, tapi juga khawatir. Bahagia karena ternyata kami berdua dipercaya untuk diberi titipan berupa anak. Tapi juga khawatir, bagaimana kalau kami belum siap menjadi orang tua? Belum siap mengasuh dan mendidik anak kami berdua? Belum siap memberikan kehidupan yang layak untuk anak kami?


"Mual, muntah, lemes, pusing itu memang wajar untuk ibu yang sedang hamil muda, Bu. Jadi tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Nanti saya bawakan vitamin, diminum ya, Bu. Itu untuk pereda mual, juga untuk kecukupan kebutuhan kalsium janin." Bu Bidan kembali memberi pesan padaku, meskipun dari tadi aku dan Mas Aak masih diam saja. Sibuk dengan pikiran kami masing-masing.


"Baik, Bu." Aku mengangguk. Sepertinya aku memang harus belajar tentang kehamilan.

__ADS_1


"Pesan saya, meskipun rasanya nggak enak, nggak nyaman, tetep harus makan ya, Bu. Makan dengan gizi seimbang. Kalau bisa, proteinnya ditambah. Soalnya untuk pembentukan organ janin, membutuhkan makanan yang bergizi," lanjut Bu Bidan.


"Kalau pantangannya ada nggak, Bu? Nggak boleh makan apa gitu?" Aku bertanya hal yang akan menjadi bekalku dalam masa kehamilan ini.


"Nggak ada pantangan sih, Bu. Apa aja boleh, tapi kalau bisa makan makanan yang bergizi. Hindari makanan cepat saji, minuman bersoda dan juga jajanan yang kurang bergizi. Karena dikhawatirkan ibunya kenyang duluan, tapi janinnya nggak dapat gizi apa-apa. Kan kasian janinnya? Tolong ya, Pak! Istrinya dibantu diingatkan untuk makan makanan yang bergizi. Meskipun mungkin perut menolak, tapi tetap harus diisi. Kalaupun muntah, setidaknya sari makanan mungkin saja sudah diserap. Kalau muntah, makan lagi, begitu saja terus. Harus bisa melawan pokoknya. Tolong ya, Pak!" Bu Bidan memberikan penalaran yang masuk akal.


"Baik, Bu." Aku dan Mas Aak menjawab kompak, kami berdua mengangguk paham.


"Kalau bisa hindari juga makanan yang memicu rasa mual. Itu nanti yang tau Anda sendiri ya, Bu. Setiap ibu hamil bisa saja punya pantangan sendiri-sendiri."


"Baik, Bu." Aku mengangguk lagi.


"Sebaiknya melakukan USG ya, Bu. Di awal kehamilan ini. Untuk melihat kondisi rahim beserta posisi janin dan lain sebagainya. Tapi di sini tidak bisa, Bu. Jadi harus ke dokter kandungan." Bu Bidan kembali memberi saran kepadaku.


"Baik, Bu. Besok coba saya ke dokter kandungan. Ya kan, Mas?" Aku menengok ke arah Mas Aak yang duduk di sebelahku, memastikan kalau dia juga menyimak apa yang disampaikan oleh bidan. Karena periksa ke dokter, pasti membutuhkan biaya yang lumayan banyak, apalagi aku memang tidak punya jaminan kesehatan.


"Eh, emm, iya." Mas Aak tergagap, sepertinya dia memikirkan banyak hal.

__ADS_1


"Oh ya, Bu. Kalau saran saya, segera diurus kartu keluarga dan lain sebagainya. Soalnya untuk membuat jaminan kesehatan pasti butuh itu. Segera saja buat jaminan kesehatan, Bu. Karena biasanya butuh waktu beberapa minggu untuk bisa dipakai. Kalau masih sekedar periksa biasa, pakai umun tidak masalah. Tapi kalau sudah waktunya melahirkan, kadang terjadi hal yang darurat. Kalau tidak punya jaminan, akan terasa berat, Bu. Ya, harapannya semua bisa berjalan dengan baik dan normal. Tapi kenyataan tidak selalu sesuai dengan harapan, jadi ya lebih baik sedia payung sebelum hujan. Pakai jaminan yang mandiri nggak papa, Bu. Bayar iuran setiap bulan tidak masalah, yang penting, saat membutuhkan biaya banyak, bisa tercover dengan jaminan itu." Bu Bidan menjelaskan tentang jaminan kesehatan secara panjang lebar.


Selama ini aku memang tidak terlalu peduli dengan hal ini. Karena aku memang sangat jarang sakit, dan kalaupun sakit, tidak pernah parah, sampai harus periksa ke fasilitas kesehatan. Tapi sepertinya aku memang harus mengikuti saran dari Bu Bidan.


"Baik, Bu. Trimakasih banyak ya, Bu." Aku tersenyum, beruntung bidannya sangat ramah dan baik.


"Sama-sama, Bu. Dijaga kesehatannya ya, Bu. Jangan sampai terlalu banyak pikiran, juga jangan terlalu capek. Pokoknya harus diingat-ingat, sekarang tidak hanya memikirkan diri sendiri, tapi juga harus memikirkan kondisi janin di dalam perut Ibu."


"Baik, Bu. Terimakasih." Aku tersenyum sebelum akhirnya meninggalkan ruangan dan mengambil vitamin dibagian farmasi jyga membayar biaya yang ditagihkan. Ternyata meskipun di puskesmas, aku sudah menghabiskan uang lumayan banyak. Apalagi kalau ke dokter atau klinik? Pasti lebih daripada ini.


"Mas, sepertinya bener kata Bu Bidan tadi," ucapku sembari keluar dari puskesmas.


"Kata Bu Bidan yang mana? Banyak banget kata Bu Bidan." Mas Aak menggaruk-garuk kepalanya.


"Yang kita harus segera ngurus kartu keluarga, juga buat jaminan kesehatan itu, Mas. Ini baru sekali periksa aja udah habis segini, lho. Dan setiap bulan kan aku harus periksa, berarti setiap bulan minimal harus menyiapkan dana segini untuk periksa. Belum lagi kalau ke dokter kandungan, pasti biayanya tambah banyak, Mas." Aku menjelaskan apa yang kumaksud tadi.


"Tapi kalau buat jaminan juga tiap bulan harus bayar iuran, Dek. Kan sama aja, harus bayar juga."

__ADS_1


"Tapi tetep lebih banyak kalau nggak pakai jaminan, Mas. Aku buat jaminan buat yang kelas 3 juga nggak papa, kok. Lagipula kan ini bukan cuma untuk saat ini, tapi yang paling penting saat melahirkan, Mas. Biar nggak keberatan. Kalau tiba-tiba ternyata aku harus operasi gimana? Mau bayar pakai umum? Jelas biayanya bakalan membengkak, Mas. Bukan cuma buat perawatanku, tapi juga anak kita nanti. Kita mau bayar pakai apa, kalau terjadi hal seperti itu, Mas?" Aku masih mencoba membuat pikiran suamiku jadi lebih terbuka lagi dengan berandai-andai hal yang buruk, meskipun harapannya tidak terjadi hal demikian. Tapi tetap saja, harus bersiap dengan segala kemungkinan, kan?


__ADS_2