Suami Pilihan Bapak

Suami Pilihan Bapak
Bab 15


__ADS_3

"Enak, kok." Mas Aak manggut-manggut, sepertinya dia tidak sedang berbohong untuk menyenangkan hatiku.


"Alhamdulillah kalau gitu." Aku tersenyum, merasa berhasil menghidangkan makanan yang sesuai dengan selera lidah suamiku.


"Sini makan sekalian! Apa mau kusuapi?" Mas Aak menyodorkan sesendok nasi berkuah sekaligus bersambal padaku.


"Hehe, enggak usah, Mas. Nanti aku makan sendiri aja!" Aku menolak dengan halus, aku tidak mau kalau tiba-tiba jadi tersedak kuah panas dan pedas itu, pasti rasanya sangat menyakitkan.


"Yaudah, sini makan sekalian. Beres-beres dapurnya nanti aja. Sekalian sama nyuci piring bekas makan." Mas Aak tetap memaksaku untuk makan saat ini juga. Aku pikir, ada benarnya juga apa yang dikatakan suamiku. Biar nggak kerja dua kali, lebih baik aku bereskan nanti sekalian aja.


"Oke, Mas." Aku ikut duduk dan mengambil makanan yang sudah kumasak tadi.


"Kalau mau masakannya Ibu, ambil aja! Tapi nggak ada pedes-pedesnya sama sekali." Mas Aak mempersilahkan, seperti tau kalau aku masih bingung dengan aturan yang ada di rumah itu.


"Iya, Mas. Nantilah, gampang."


Aku dan Mas Aak menikmati sarapan kami berdua sambil membicarakan banyak hal, membuatku sedikit demi sedikit mengenal suamiku termasuk pemikirannya.


"Nanti jalan-jalannya bawa bekal dari rumah aja, Dek. Hemat! Takutnya klau ke tempat wisata, harga makanan mahal-mahal. Kondisi keuanganku sedang tidak baik, habis buat acara nikahan kemarin, jadi ya, harus menahan diri sedikit."


"Oke, Mas. Nanti aku bungkusin deh. Tapi gimana ini, masa sayur sop dibawa-bawa? Repot dong? Kalau tumpah gimana? Mas nggak bilang dari tadi sih, kalau aku tau kita mau bawa bekal, kan aku masaknya yang tumisan. Nggak masak sop begini. Mau masak lagi juga males lah, Mas." Aku protes dengan pemberitahuan Mas Aak yang mendadak.


"Yaudah, dibungkus pakai plastik aja! Nggak usah dipikir banget-banget deh!" Mas Aak menjawab santai.


"Trus makannya? Bawa mangkok juga? Repot banget dong?" Aku masih memikirkan bagaimana caranya makan makanan berkuah di tempat wisata.


"Ya, nggak usah pakai mangkok. Coba dilihat di rak dapur, biasanya Ibu punya wadah nasi pakai sterofoam. Atau bawanya pakai tempat makan aja langsung, ada kok di rak piring dapur. Kalau enggak ya makan langsung dari plastiknya aja!" Jawaban Mas Aak terdengar konyol menurutku.

__ADS_1


"Emangnya cilok? Bisa dimakan langsung dari plastiknya?"


"Ya, anggep aja begitu!" Mas Aak tersenyum, tanpa merasa bersalah.


"Yaudah, nanti coba kulihat di dapur deh. Ada wadah apa yang bisa dipakai." Aku memutuskan menyudahi pembahasan ini. Aku harus mencari jalan keluar sendiri.


***


"Ayo, Dek! Cepetan! Jangan kelamaan dandannya!" Mas Aak kembali ke kamar, memastikan aku sedang apa. Mungkin dia pikir aku masih berkutat di depan cermin, padahal salah besar.


"Bentar, Mas!" Aku memastikan membawa barang-barang penting sudah masuk semua.


"Udah aman semua?"


"Udah, Mas." Aku mengangguk dan membawa tas yang lumayan berat itu ke arah Mas Aak, berharap akan digantikan membawanya sampai ke motor. Tapi ternyata harapanku tidak sesuai dengan kenyataan. Mas Aak dengan santainya melenggang pergi duluan, bahkan tanpa menengok ke arahku yang membawa tas berat.


"Buruan jalannya! Jangan kayak siput gitu, dong!" Mas Aak kembali menyuruhku, sedangkan dia sudah siap di atas motor vespa kesayangannya yang berwarna pink itu.


"Berat, tau! Kamu nggak mau bawain sih, Mas! Jadi jangan salahin aku kalau jalannya jadi lama!" Aku bertambah jengkel dengan ucapan Mas Aak. Benar-benar tidak ada pengertiannya!


"Kan kamu masih muda, Dek. Tenaganya masih banyak, anak gunung, biasa cari rumput buat sapi, biasa angkat berat, pasti kuat lah kalau cuma bawa tas segitu." Mas Aak justru bertambah meledekku.


"Trus apa gunanya punya suami, kalau bawain tas seperti ini aja nggak mau? Percuma dong, apa-apanya aku masih sendiri juga?" Aku membalas ledekan Mas Aak dengan ucapan yang pedas. Biar aja! Biar dia tau rasa!


"Yaudah, sini aku bawain!" Mas Aak turun dari vespanya, dan berjalan ke arahku.


"Nggak usah! Udah telat! Tanggung!" Aku tetap menenteng tas yang cukup berat itu, berjalan cepat melewati Mas Aak yang masih terbengong.

__ADS_1


"Gimana sih? Emang susah ya ngertiin perempuan? Tadi minta dibantuin, sekarang aku mau dibantuin nggak mau!" Mas Aak ngedumel, sambil berjalan menyusulku ke motor vespa.


"Telat!"


Aku masih tetap saja jengkel. Dalam perjalananpun aku tidak berbicara apapun pada suamiku. Aku juga tidak berpegangan di pinggangnya, seperti layaknya pasangan suami istri. Aku justru mensedekapkan tanganku dan juga memalingkan wajahku. Aku sampai tidak memperhatikan jalan, entah sekarang aku ada di mana. Jalanannya rusak cukup parah. Berlubang dan bergelombang.


"Aduh! Mas!" Refleks aku berpegangan pada perut Mas Aak saat motor kami menerjang lubang yang cukup dalam.


"Nah, gitu, dong! Dari tadi, kek! Masa harus dilewatin jalan rusak dulu baru mau pegangan?" Mas Aak terkekeh, ternyata ini bagian dari triknya.


"Ya ampun! Jadi sengaja lewat jalan rusak?" Akhirnya mau tidak mau aku berbicara lagi pada Mas Aak.


"Ya iyalah! Kalau nggak gini, sampai nanti juga kamu pasti nggak bakalan pegangan sama aku, kan? Bukannya apa-apa, bukan maksudnya manja atau pengen mesra. Tapi takut kalau kamu jatuh!" Mas Aak menjelaskan apa maksudnya.


"Heleh, lebay banget, Mas. Aku biasanya bonceng motor, nggak pegangan juga nggak pernah jatuh, tuh?" Aku membantah alasan Mas Aak, meskipun aku tetap berpegangan pada perut suamiku yang sedikit buncit itu.


"Ya kan itu dulu, sekarang beda lagi! Kamu tanggung jawabku, kalau terjadi apa-apa sama kamu, kan aku juga yang repot? Nggak enak sama bapak mertua, kan?" Mas Aak mengomel, karena jawabanku.


Ternyata aku masih benar-benar belum bisa menyesuaikan diri dengan suamiku, kadang menjengkelkan, tapi kadang juga ngomongnya serius begini. Ah entahlah, ternyata bukan cuma perempuan aja yang labil. Laki-laki pun sama halnya.


"Iya deh, yaudah, maaf!" Aku memilih untuk mengakhiri perdebatan yang mungkin akan terus berkepanjangan ini.


"Nah, gitu kan gampang. Nggak usah pakai debat-debat dulu." Mas Aak mungkin juga jengkel dengan sikapku yang suka mendebat ini.


"Tapi, bisa nggak kalau kita lewat jalan yang bener aja, Mas? Punggungku sakit banget! Udah motornya nggak nyaman, suaranya berisik, tambah jalannya berlubang gini. Duh, bukannya hilangin stres yang ada malah sakit semua badanku!" Aku ngomel lagi.


"Sabar, Dek! Sabar! Sebenernya aku juga nggak tau ini ada di mana, hehe."

__ADS_1


"Hah? Jadi kita nyasar? Katanya suka touring, kok bisa nggak tau jalan sih, Mas?"


__ADS_2