Suami Pilihan Bapak

Suami Pilihan Bapak
Bab 9


__ADS_3

"Yaudah nggak papa, Mbak. Yang penting ada kemeja panjangnya." Mbak Yuli menyahuti tanpa pikir panjang.


"Oke, Mbak. Tak ambilkan, sebentar!" Nur bergegas masuk ke dalam rumahnya.


Au melihat Mas Aak yang hanya senyam-senyum tanpa rasa bersalah. Jujur, rasanya aku sebel banget! Belum jadi suami aja sudah seperti ini tingkahnya, sangak kekanakan, tidak pantas untuk dirinya yang sudah berkepala tiga. Bagaimana nanti setelah jadi suami istri? Pasti bakalan tambah kelihatan semua keburukannya. Aku banyak-banyak beristighfar dalam hati. Semoga kedepan semuanya baik-baik saja.


Setelah beberapa saat, akhirnya drama masalah pakaian pengantin selesai juga. Meskipun hasilnya jadi tidak sesuai dengan ekspektasi, ya sudahlah, tidak mengapa. Yang penting intinya aja. Masalah kostum, hanya pelengkap saja.


Aku dan Mas Aak berfoto beberapa kali sebelum ke ruang akad. Sampai akhirnya Bapak menegurku.


"Mel, ayo ke ruangan! Tidak enak kalau Pak Penghulu sampai, kita belum siap."


"Baik, Pak." Aku mengangguk pada mas-mas fotografer untuk mencukupkan sesi foto ini, bisa dilanjut lagi nanti.


Kami semua segera ke ruangan yang sudah dipersiapkan untuk akad. Berbeda dengan tempat untuk resepsi yang ada di luar ruangan, kami memilih akad di dalam ruangan saja. Hatiku benar-benar berdebar menunggu penghulu, maupun rombongan dari Mas Aak. Entah kenapa mereka belum datang juga. Aku takut terjadi hal buruk pada mereka. Aku memutuskan untuk menunggu di luar ruangan, sekalian mencari udara segar. Tidak peduli pandangan teman ataupun kerabat yang sudah hadir untuk ikut menyaksikan pernikahanku.


Aku mengipas-ngipasi badan dan wajahku yang terasa panas, meskipun udara di pegunungan sebenarnya cukup dingin, tapi tidak mampu membuatku menjadi dingin. Tetap saja merasa panas. Entah karena makeup dan pakaian yang ku kenakan, atau memang perasaan berdebar yang membuatku seperti ini.

__ADS_1


Tak lama kemudian, rombongan keluarga Mas Aak datang. Ada yang berbeda dari rombongan pada umumnya. Rombongan keluarga Mas Aak menggunakan satu buah mobil yang aku lihat terparkir di garasi rumah Mas Aak waktu itu. Sedangkan pengiring lainnya menggunakan motor vespa yang sudah dipasangi janur kuning sebagai tanda. Sedangkan salah satunya dihiasi bunga-bunga pada bagian kepala depannya.


"Aduh! Jangan-jangan, Mas Aak mau bawa aku ke rumahnya nanti naik vespa itu! Bakalan ribet dan bikin sakit punggung pasti." Aku hanya membatin saja.


Aku menghitung, ada sekitar 15 motor vespa yang ikut iring-iringan. Semua pengendaranya laki-laki. Sebagian ada yang berboncengan, ada juga yang hanya sendirian.


"Temen-temenmu itu, Mas?" Aku bertanya pada Mas Aak yang berdiri di sampingku.


"Iya, temen-temen pecinta vespa. Setelah ini kamu juga bakalan jadi keluarga Vespamaniac." Mas Aak menjawab sebelum pergi, menyambut kedatangan teman-temannya, meninggalkanku sendiri yang masih duduk di samping pintu masuk ruangan untuk akad.


"Lah, kok aku ditinggal?" Aku benar-benar bingung dengan Mas Aak. Tidak ada romantis-romantisnya sama sekali! Pantes aja sih, selama ini nggak ada yang mau sama dia. Aku kembali membatin, kasian juga kalau sampai kuucapkan langsung.


Aku duduk berhadapan dengan Pak Penghulu yang mulai menyiapkan dokumen-dokumen di hadapannya. Tak lama kemudian, Mas Aak menyusul. Dia duduk di sampingku, berhadapan dengan Bapak. Perasaanku tambah berdebar saja. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang istri dari Mas Aak, pria yang kukenal belum lama ini.


Setelah semua siap, acara akad nikah pun dimulai. Aku khawatir kalau Mas Aak akan salah mengucap, lupa namaku, lupa nama bapakku, atau lupa mahar yang ia berikan padaku. Aku benar-benar khawatir. Aku menahan nafas saat Bapak mengucapkan kalimat ijab, juga saat Mas Aak menjawab dengan kalimat kabul. Di luar dugaan, ternyata Mas Aak bisa mengucapkannya dengan benar, lancar dan mantap.


"SAH!"

__ADS_1


Semua saksi yang ditunjuk, maupun tamu yang hadir menyaksikan akad ini kompak mengatakannya. Aku meneteskan air mataku. Terharu, sedih, semua campur aduk jadi satu. Tanggung jawab Bapak atas diriku sepenuhnya diambil alih oleh Mas Aak. Baktiku pada orang tuaku juga akan bergeser pada Mas Aak, orang yang belum lama kukenal. Tapi bisa berhak sepenuhnya atas diriku, hanya karena kalimat ijab kabul yang diucapkan barusan. Mulai saat ini, aku harus menghormati Mas Aak, terlepas dari bagaimanapun kelakuannya kelak.


Aku mencium tangan Mas Aak, setelah selesai penandatanganan dokumen, juga serah terima mahar. Kemudian dilanjutkan dengan do'a. Setelah itu, aku dan Mas Aak sama-sama keluar untuk menyalami tamu yang hadir.


"Loh! Kok Mela ditinggal sih?" Tamu undangan berkomentar saat melihat Mas Aak berjalan duluan menyalami para tamu.


Sedangkan aku harus berjalan pelan-pelan, karena harus hari-hati dengan gaun yang kukenakan, juga memang langkahku yang tidak bebas. Aku tidak peduli dengan Mas Aak yang meninggalkanku. Toh aku juga hanya akan bersalaman dengan tamu perempuan saja. Jadi, aku akan melewatkan barisan tamu laki-laki yang saat ini sedang disalami Mas Aak.


Setelah selesai bersalaman, aku kembali ke ruang rias untuk berganti kostum. Aku dituntun oleh Nur, membantuku berjalan. Sedangkan Mas Aak, entah dia masih di mana. Mungkin masih asyik ngobrol dengan teman-teman vespamaniac-nya.


Setelah ganti kostum, acara resepsi dimulai. Beruntung, semua berjalan dengan lancar. Setidaknya itu yang kuketahui, karena aku hanya dipajang di depan bersama orang tua dan mertua. Urusan di luar panggung, aku tidak tahu menahu, biarkan kerabat dan tetangga yang mengurusinya.


Setelah acara resepsi selesai, semua diminta untuk makan siang, menikmati hidangan yang disediakan. Begitu juga dengan kami betenam yang ada di atas panggung. Kami juga mendapat jatah makanan. Tapi seperti apa yang dikatakan Mbak Santi, aku tidak berselera sama sekali untuk makan. Takut kebelet, takut riasan rusak dan lain sebagainya. Berbeda dengan suami dan orang tuaku. Mereka tetap makan, bersama dengan tamu yang hadir, sambil menikmati hiburan kesenian tradisional yang dipesan oleh bapakku.


Setelah acara resepsi selesai, aku kembali berganti pakaian. Pakaian untuk ngundhuh mantu, saat itu juga. Aku melewatkan waktu sembahyang dzuhur. Hanya karena acara yang beruntun, juga karena tidak mungkin menghapus makeup, sedangkan air wudhuku juga sudah batal, bahkan sebelum akad tadi.


Dalam hati aku beristighfar banyak-banyak, memohon ampun atas kelalaian yang kusengaja ini. Setelah berganti kostum, aku dan Mas Aak ikut ke rombongan dari pihak mertua. Kami akan sama-sama menggelar acara di rumah Mas Aak.

__ADS_1


"Dek! Ayo, naik!" Mas Aak menjemputku yang masih berdiri kebingungan. Dia sudah mengendarai motor vespa dengan hiasan bunga-bunga di depannya.


"Hah? Naik vespa ini, Mas?"


__ADS_2