
Alarm berbunyi, Vero menggeliat dengan pelan karna sadar istrinya masih belum bangun.
Vero mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang.
Sesaat kemudian Dia kembali teringat kejadian kemarin sore.
Istrinya jatuh pingsan saat pulang kerumah dalam keadaan mobil rusak parah.
Panik, takut disertai khawatir langsung menyelimuti tubuh Vero.
Dia berfikir apakah istrinya masih dalam keadaan pingsan atau tertidur saja.
Dia menepuk nepuk pipi tembem Miranda dengan pelan, tak mendapatkan sahutan.
semakin membuatnya frustasi.
Dia berlari keluar dan membuka pintu dengan kasar lalu berteriak memanggil siappun.
"Bibi..... Bibi..." Teriak Vero dengan sedikit amarah yang terselip di matanya
Bibi asih muncul dengan tergesah gesah di ikuti 3 orang pelayan dibelakangnya.
"Kemana dokter itu pergi, sampai sekarang istriku belum sadar juga...." Amarah Vero
sedangkan bibi asih selaku kepala pelayan sangat terkejut begitupun yang lainnya.
"Sampai terjadi sesuatu pada istri dan bayi ku, kau orang pertama yang akan ku lenyapkan"
"Kau mengambil resiko membiarkan istriku diperiksa oleh dokter yang tidak jelas asal usulnya hah" teriak Vero sangat marah
"Tuan maafkan saya, tapi dokter itu adalah dokter kepercayaan Tuan Rico sendiri" jelas bibi asih
Vero sangat marah jika menyangkut Miranda dan bayinya saat ini.
Dia maju dan mencengkram leher wanita paruh baya itu tanpa membuatnya kesakitan.
Semarah marahnya Vero, dia hanya bisa mengertak pada seorang wanita tua, jiwa kemanusiaan nya tetap ada...
__ADS_1
mendengar keributan, para pengawal muncul bersama dokter dan satu suster yang kemarin.
Vero melepas cengkramannya dan beralih pada dokter itu yang masih terbilang belum cukup tua karna umurnya masih 41 tahun.
Bug...!!! Vero memukul wajah dokter tersebut hingga membuat dokter itu tersungkur di lantai.
"Kau apakan istriku sampai belum sadar hah" tanya Vero dengan wajah merah padam
para pengawal tak ada yang berani sama sekali melerai tuan mereka.
"Pengawal bawa dia ke markas, cincang dia dan berikan potongan tubuhnya pada buaya peliharaan ku" teriak Vero membuat semua di ruangan itu merinding
"Siapa yang mau kau cincang suamiku"
sebuah suara mengagetkan mereka semua,
Vero berbalik dan mendapatkan istri nya berdiri di depan pintu kamar mereka.
"Sayang kau sudah sadar" ujar Vero bahagia
"Memangnya aku kenapa? aku kan hanya tidur"
"Kau pingsan sayang, mobilmu penyok dan kau bilang sedang tidur, kamu habis kecelakaan sayang" jawab Vero masih diselipi rasa khawatir
Miranda mengingat ingat kembali kejadian kemarin yang terjadi.
"Vero aku pingsan cuman karna lelah saja, yah memang sih aku sedikit syok saat kecelakaan itu tapi beneran aku gak papa"
"Dan sebenarnya tadi malam aku sudah sadar tapi kamu tidur jadi gak tega bangunin, makanya aku ikut tidur juga" lanjut Miranda
Kini wajah vero sudah tak bisa di jelaskan, ternyata istrinya itu hanya tertidur.
"Bagaimana tuan, Apa tubuh dokter ini jadi kami cincang?" tanya pengawal itu membuat dokter itu kembali ketakutan.
"Lepaskan dia, dan kalian semua bubar" ujar Vero sambil mengibaskan tangannya
πππ
__ADS_1
Sepasang suami istri itu kini sedang menyantap sarapan pagi mereka di balkon kamarnya.
Vero sesekali menyuapi Miranda makanan dipiring ya, Tidak menolak justru Miranda sangat suka hal itu, seperti menambah ***** makannya.
"Kamu itu kalau ada apa apa, jangan langsung main hakim sendiri, untung saja dokter itu belum kamu cincang terus dimakan buaya" ucap Miranda sambil mengunya sandwich
"Maaf sayang, soalnya aku panik banget kamu belum sadar"
"Dan soal kemarin dikantor, maafin aku yang gak bisa ngontrol diri aku" lanjut vero
"Gak papa... aku maafin, lagian aku juga suka kok" jelas Miranda justru membuat pipinya merah sendiri
"Kamu jangan gitu, aku jadi gak konsen nih, kamu masih lemah, aku gak tega"
ujar Vero berusaha menetralisir pikiran mesumnya dengan sekuat tenaga.
celana tidurnya serasa sudah sangat sesak.
..."**Maafkan aku, dokter bilang aku harus bedrest selama 3 hari"...
"Kenapa minta maaf sayang, ini semua kan juga demi anak kita**" ujarnya tersenyum
Vero meraih tangan Miranda dan di dudukannya di pangkuannya.
"Aku tau kamu belum sepenuhnya menerimaku, kamu juga belum mencintaiku, tapi terimakasih karna kamu sudah menjadi istri dan calon ibu yang baik buat ku, kamu juga memberikan hakku dan melaksanakan kewajibanmu, kamu adalah istri yang terbaik" ujarnya sambil mengelus perut Miranda
Miranda terenyuh dan tersentuh oleh penuturan Vero yang begitu mendebarkan hatinya.
"Anak ayah... yang sehat di dalam sana, jangan merepotkan bunda yah"
Vero berbicara pada calon anaknya dengan sangat bahagia.
rasanya menjadi ayah belum terpikirkan di benaknya, bahkan untuk punya istri dia belum siap.
tapi semenjak kejadian malam itu, dunianya sudah berubah dan di isi oleh Miranda yang kini menjadi istrinya dan calon ibu dari anaknya.
"Iya ayah... Dede akan patuh" ucap Miranda dengan gaya bicara seperti anak anak
__ADS_1
membuat Vero tertawa dan disusul oleh Miranda.
Pagi itu, di balkon dengan suasana pagi yang sangat sejuk membuat dua sejoli di mabuk asmara itu saling melemparkan senyum dan tawa yang sangat jarang terjadi.