
Vero terpaksa meninggalkan Miranda, ada pekerjaan mendesak yang tidak bisa dia tinggalkan di kantor.
Padahal dia sudah berjanji akan menemani istrinya bedrest di rumah selama 3 hari.
Setelah ditinggalkan Vero selama kurang lebih 1 jam yang lalu, dia mulai bosan dan akhirnya memilih bersandar di ranjang bersama sebuah iPad di tangannya.
Miranda bekerja di rumah melalui iPad nya, berkomunikasi melalui email bersama Mark, tangan kanan yang dia percayai.
Sedangkan perusahaan vero, saat ini ketegangan terjadi disebuah rapat.
Vero marah dan memarahi para karyawan yang menurutnya lalai hingga sampai membuat 1 arsip perusahaan bisa di retas oleh tangan tangan Jahat, yang ingin menjatuhkan nama baik perusahaannya.
"Tuan saya sudah menelfon klien yang terkait dengan proposal tersebut, 1 jam lagi mereka akan datang kesini" ujar Monica sekertarisnya
"Aku tidak peduli, Jika dia ingin menuntut ganti rugi, tapi aku tidak akan terima jika kejadian ini sampai terulang kembali"
"Akan ku beri waktu 24 jam untuk mendapatkan pelaku penyerangan tersebut, jika tidak kalian akan mendapatkan ganjarannya..."
ucap Vero dengan suara lantangnya yang begitu marah.
Suasana di ruang rapat itu begitu mencekam seakan semua orang yang berada disana mengantri untuk eksekusi gantung diri.
πππ
Matahari sudah hampir tenggelam, Miranda sudah berdiri di teras rumah setengah jam yang lalu guna menunggu suaminya pulang.
Miranda sangat kesal, pasalnya dia tidak bisa berkonsentrasi berkerja, sedikit-sedikit mual menghampirinya, dia begitu merindukan aroma tubuh Vero.
Tadi pagi saat Miranda ditinggal Vero, Vero berjanji akan pulang cepat, Miranda pun tidak keberatan, karna dia tidak cemas, jika pakaian bekas Vero yang bercampur aroma keringat itu tetap berada di dekatnya.
Tapi saat dia masuk ke kamar mandi, pelayan datang dan mengambil pakaian bekas pasutri itu untuk di cuci.
Miranda sempat menangis melihat pakaian Vero sudah di jemur dan sampai memarahi pelayan itu.
__ADS_1
Setelah itu, dia terus mual mual sampai tubuhnya sangat lemas dan tidak ingin makan siang.
"Vero kemana sih, katanya cuman sebentar" kesal Miranda saat ini duduk di taman depan teras rumahnya
Bibi asih yang berdiri tak jauh darinya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah absurd majikannya yang tidak pernah dia lihat.
Miranda berteriak memanggil bi asih, dengan cekatan bi asih datang bersama sebuah nampan berisi air dan handuk kecil.
pasalnya Miranda kembali mual mual tanpa mengeluarkan sesuatu.
"Bibi cemas non, sebaiknya kita telfon tuan saja biar cepat kembalinya" ujar bi asih khawatir sambil memijat tengkuk Miranda.
Uwekk! Miranda mual
πππ
Vero akhirnya bisa menyandarkan punggung nya di sofa setelah mengadakan pertemuan dengan klien.
Dia mengagumi ciptaan tuhan satu ini yang begitu sempurna di matanya.
Monica sampai membayangkan duduk dipangkuan Vero dengan gerakan erotis, membuat Vero mendesah di bawahnya.
"Aku ingin merasakannya, pasti begitu nikmat" gumam monica menatap gundukan celana Vero yang sangat terlihat jelas walau didalam sana sedang tertidur tapi terlihat menyembul apalagi jika sudah terbangun.
Monica terus membayangkan milik Vero yang begitu perkasa.
"Akan kubuat dirimu menjadi milikku" gumam monica tersenyum licik
Sampai saat karyawan lain menyadarkannya untuk ikut meninggalkan ruangan boss mereka.
"Ah baiklah, aku akan membereskan berkas ini dulu" ujar Monica
"Tapi jika kau ingin menemani boss, kami tidak masalah" celetuk pegawai lainnya membuat Monica tersipu malu.
__ADS_1
"Apaan sih, memangnya aku ini siapa?" bisik Monica mencoba mengelak seakan akan memang dirinya ada hubungan dengan Vero.
Dia mencoba membuat suasana memihaknya, dengan cara membuat gosip murahan, jika antara boss dan sekertaris sedang menjalin sebuah hubungan.
Tiba tiba suara handphone berbunyi, semuanya mencari asal suara tersebut, hingga Joni datang di waktu bersamaan.
dia menepuk bahu Vero, kena Joni tau suara handphone itu adalah milik Vero.
Vero terbangun, dia sempat tertidur sebentar akibat pikiran yang seharian ini membuatnya kacau.
Dia merogoh celananya dan langsung mengusap tombol hijau di ponselnya tanpa melihat siapa yang menelfon.
"Haloo"
"Hallo tuan, tu..ann non Miranda" suara bi asih di sana terdengar khawatir
Seketika Vero berdiri dari duduknya dengan sangat panik, pasti sudah terjadi sesuatu pada istrinya itu.
"Ada apa dengan istriku bi" ujar Vero panik dan tanpa menyadari di sana masih berdiri 3 orang pegawai
lalu tak lama terdengar Isak tangis dari bibir Miranda membuat Vero semakin dilanda kecemasan.
Dia segera berlari meninggalkan ruang tersebut di susul Joni asisten pribadinya.
Sedangkan ketiga karyawan itu berdiri tak percaya setelah apa di dengarnya.
Jangan di tanya apa yang terjadi dengan Monica, dia sempat melirik 2 orang di sebelahnya lalu dengan cepat melangkah pergi.
"Ternyata pak Vero sudah menikah, kau dengar kan tadi?"
"Iya.. dia terlihat sangat cemas dengan istrinya, apa yang terjadi"
Ujar karyawan tersebut bergosip dalam lift, dalam sekejam gosip itu sudah menyebar luar kepenjuru perusahaan.
__ADS_1