
Vero turun dari mobil bahkan sebelum Joni menghentikan laju kendaraan beroda empat itu.
Membuat Joni terkejut dan langsung mengerem mendadak, tepat di depan teras rumah.
"Astagahh Veroo" pekik Joni syok dan langsung menyusul Vero secepatnya.
Dia juga penasaran dengan apa yang terjadi pada istri sahabat sekaligus boss nya itu.
"Sayanggg.." teriak Vero memasuki rumah
"Miranda, aku sudah pulang sayang" teriak Vero naik kelantai dua
Di depan kamarnya sudah berdiri dua orang pelayan, pelayan tersebut membungkukkan badannya saat melihat Vero berjalan ke arah mereka.
Vero langsung masuk ke dalam, terlihat Miranda bersandar di sofa bersama bibi asih.
Dari mata Vero, istrinya itu tidak dalam keadaan baik baik saja, wajahnya sedikit pucat dan bahkan pinggiran rambut seperti basah oleh keringat.
"Sayang...." Panggil Vero sambil berlutut dihadapannya dan Miranda membuka matanya, ada rasa bahagia bercampur kesal, tapi rasa bahagia itu lebih besar dari ego nya yang ingin marah pada suaminya.
"Sayang, kamu kenapa? apa yang sakit?" tanya Vero sangat cemas
Miranda yang di tanya seperti itu malah menangis dan memeluk Vero.
Dia berhambur ke pelukan suaminya, Vero yang belum siap menerima serangan dadakan, seketika jatuh terduduk bersama Miranda yang juga jatuh kepangkuan nya,
Mereka duduk berpangkuan di lantai.
"Hikss... kenapa kamu baru pulang" tangis Miranda begitu pilu di telinga Vero
Sedangkan Joni baru sampai di kamar, bingung melihat situasi saat ini.
"Ver gua panggil dokter?" tanya Joni
"Hikss huaa... aku gak mau dokter, aku maunya suamiku" tangis Miranda semakin meraung
Vero mengusap punggung istrinya itu supaya lebih tenang, dia juga masih bingung dengan keadaan saat ini.
"Ck dasar bumil manja" pekik Joni
__ADS_1
Sontak pekikan Joni mendapatkan tatapan tajam dari Vero.
Joni terkadang suka mengolok-olok pasutri itu, jika bukan jam kantor dia akan kembali pada watak aslinya yang jaim, pada sahabatnya Vero.
" hikss... Usir manusia jelek itu dari kamar
kita Vero?" Pintah Miranda dengan mata yang sudah bengkak
"Iya sayang, aku akan usir manusia jelek itu dari hadapan kita" tatap Vero pada Joni yang sedang berdecak kesal
"Ck dasar, oke kali ini aku mengalah... Aku ganteng begini dia bilang jelek huh" ujar Joni sambil berlalu dan di ikuti 2 pelayan dan terakhir BI asih yang menutup pintu kamar mereka.
πππ
Kini tinggal mereka berdua di kamar itu, Vero berdisi dengan keadaan Miranda masih berada dalam gendongannya seperti se ekor koala.
Vero mendudukkan dirinya di sebuah single sofa di sudut ruangan kamar mereka.
Vero membiarkan saja apa yang istrinya lakukan pada tubuhnya yang kini sudah tak berbalut kemeja lagi.
"Tadi aku marah pada pelayan" ucap Miranda mengadukan kelakuan nya
Dia bersandar pada dada suaminya yang berbulu halus sambil mengirup aroma keringat bercampur parfum.
"Oh ya? kamu memarahi mereka, kenapa?" tanya Vero sedikit terkejut, pasalnya saat pertama tinggal disini, para pelayan memuji istrinya itu yang sama sekali tidak pernah marah pada mereka walau kesalahan yang merugikan uangnya sekalipun.
"Dia mencuci baju bekasmu tadi pagi, sampai aku tidak bisa berhenti muntah"
"Kamu muntah muntah lagi" cemas Vero kini menatap wajah Miranda sambil mengusap pipinya dengan kasih sayang.
"Kamu bilang cuman sebentar tapi lama, kamu bohong" ujar Miranda manja
Ada sedikit rasa bersalah di hati Vero, memang dia berjanji akan pulang cepat tapi sekarang sudah hampir malam.
Apalagi dia tau, Miranda sering mual mual dan penawar nya hanya pada keringat di tubuhnya.
Itu aneh tapi kata dokter itu adalah ngidam dan wajar... Ucapan dokter pada Vero kemarin saat dia menelfon, karna semakin kesini merasa aneh dengan tingkah istrinya.
__ADS_1
"Maaf yah sayang... Tadi ada sedikit masalah dikantor, maafkan ayah juga yah nak" ujarnya mengelus perut Miranda
"**Sekarang aku lapar, belum makan siang tadi"
APA**!!! kejut Vero lalu melihat jam di tangannya, lalu menatap Miranda lagi
"Aku mual, gak bisa makan" jelas Miranda membuat Vero menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Aku mau mandi dulu, lalu kita turun makan bersama"
Vero berdiri dan ingin menurunkan Miranda tapi Miranda melingkarkan kakinya semakin kuat di pinggang Vero
"Bagaimana aku bisa mandi sayang, ayolah... kasian bayi kita belum makan didalam sana" cemas Vero pada bayinya
"Ikut mandi boleh?" sontak permintaan Miranda membuat Vero panas dingin
Vero mengecup sekilas bibir istrinya itu dengan gemas yang sudah berani menggodanya, walau sebenarnya dia sudah sangat menahan hasratnya saat Miranda mengendus keringan ditubuhnya tadi.
"Mandi keringat dulu boleh?" ujar Vero menggoda Miranda juga.
Anggukan Miranda membuat Vero sangat bersemangat, pasalnya ini kali pertama Miranda mulai memancingnya duluan untuk berhubungan intim.
Akhirnya di dalam kamar mandi, di dalam bathub dan di lanjut di bawah guyuran shower, mereka meraih nikmatnya syurga duniawi dan berhenti setelah hampir 2 jam.
Miranda duduk bersandar pada cermin westafel sebagai tempat terakhir pertarungan mereka,
dan di akhiri dengan saling melempar senyum.
"Apa tadi aku bermain kasar?" tanya Vero juga ikut bersandar tapi di dada sang istri dengan keadaan berdiri.
Mereka masih berusaha mengatur nafas yang tersengal-sengal, sisa sisa percintaan barusan.
"Kamu sangat lembut" ujar Miranda malu malu lalu menutup wajahnya
Memang Vero bermain dengan sangat lembut, itu karna dia tidak ingin menyakiti bayi yang di kandung istrinya, dan hal itu juga yang membuat Miranda sampai lepas berkali kali.
Vero sangat gemas, dia lalu mengangkat tubuh Miranda dan berdiri bersama di bawah shower dan melanjutkan ritual mandi yang tertunda sampai 2 jam.
Setelah itu baru turun makan, itupun masih dalam keadaan di gendong.
__ADS_1
Vero tidak ingin istrinya kelelahan, cukup dia kelelahan karna melayaninya.