Suamiku Masih Mencintai Mantan Istrinya

Suamiku Masih Mencintai Mantan Istrinya
Hasil Cek Laboratorium


__ADS_3

Tak terasa esok pagi menjelang...


Tepat pukul sembilan pagi, Renata lekas pergi ke rumah sakit di saat Leo sudah berangkat ke kantor.


Leo sangat gugup karena ada deadline di pagi itu. Ia bahkan tidak sempat untuk menjenguk kondisi Dita.


"Yang terpenting, aku sudah tahu kondisi Dita dari perawat yang merawatnya. Hingga aku tak perlu repot-repot ke rumah sakit. Apalagi aku sedang banyak pekerjaan di kantor."


Berbeda dengan, Renata yang saat ini sudah sampai di rumah sakit. Dia lekas ke ruang laboratorium dan menemui penjaga yang bertugas di laboratorium tersebut.


"Non Renata, bukan?"


"Iya, mas. Kok tahu ya?"


"Saya sudah di beri tahu oleh, Dokter Irwan. Jika anda akan datang pagi hari untuk mengambil hasil cek sampel darah, Nona Dita."


"Ini, non. Sudah aku siapkan terlebih dahulu."


Sang petugas laboratorium memberikan sebuah amplop putih kepada, Renata.


"Terima kasih, mas."


Renata segera meninggalkan ruang laboratorium dan melangkah pergi dari rumah sakit tersebut tanpa menjenguk Dita terlebih dahulu.


"Aku sudah tidak sabar lagi ingin mengetahui akan hasil cek sampel darah milik Dita. Apakah ia benar-benar punya riwayat penyakit serius atau hanya sebuah tipu daya saja?"


Renata melangkah dengan pasti menuju ke mobilnya. Dia sengaja menyimpan hasil tes sampel darah Dita di dalam tas, karena dia ingin membukanya di tempat yang nyaman.


Hingga sampai di rumah, barulah Renata membuka hasil tes darah milik, Dita. Ia pun mengulas senyuman," hem, benar bukan ternyata dia tidak sakit parah."


Renata lekas menelpon, Dokter Irwan.

__ADS_1


"Pagi, dok. Maaf mengganggu hanya ingin memberi tahu jika saya sudah mengambil hasil dari cek sampel darah Dita, di laboratorium. Terima kasih ya, dok."


" Ok, Renata. Bagaimana hasilnya, karena saya juga belum sempat melihatnya?"


" Apa yang saya curigai selama ini memang benar, Dita sama sekali tidak sakit apapun. Dia benar-benar ingin menipu saja."


" Ya sudah, nanti kamu bisa tunjukan bukti surat keterangan kesehatan milik Dita, pada Leo."


" Pasti, dok. Ya sudah dulu ya dok, sekali lagi terima kasih."


Renata menutup panggilan telepon terhadap, Dokter Irwan. Dia sudah tidak sabar menunggu waktu sore telah tiba, dimana dia akan menunjukkan bukti surat keterangan kesehatan milik Dita.


Sore menjelang...


Waktu yang telah di tunggu oleh Renata tiba, dimana Leo sudah pulang dari kantornya. Dan bahkan ia sudah beristirahat tiga puluh menit lamanya, hingga Renata sudah siap ingin menunjukkan hasil tes kesehatan Dita.


"Mas Leo, ada hal yang ingin aku tunjukkan padamu. Ini mengenai Dita, mas."


"Mas, lihatlah ini!" Renata memberikan kertas keterangan dari cek kesehatan Dita kepada, Leo.


"Apa ini?" Leo memicingkan alisnya pada saat menerima surat keterangan kesehatan tersebut.


"Buka, dan baca dengan perlahan, supaya kamu tahu, mas. Itu surat cek kesehatan dari hasil sampel darah Dita, yang kemarin sempat diambil oleh, Dokter Irwan. Aku yang meminta beliau untuk sekaligus mengecek kesehatannya, karena aku penasaran dengan penyakit yang selalu dia jadikan andalan untuk tetap tinggal di sini lebih lama lagi."


Pada saat Leo baru membukanya dan akan membacanya, tiba-tiba ponselnya berdering hingga ia meletakkan kertas tersebut di atas meja.


"Hallo, iya pak. Baiklah segera saya cek ulang laporannya. Bapak tenang saja, esok pagi saya pastikan sudah selesai."


Setelah sejenak menerima telepon tersebut, barulah ia akan melanjutkan niatnya untuk melihat hasil tes kesehatan milik Dita.


Namun naas, pada saat Leo akan meraihnya, justru tangannya tak sengaja menyenggol gelas berisikan kopi dan tumpah di kertas tersebut hingga tidak bisa di baca sama sekali.

__ADS_1


"Astagaaa.... maafkan aku sayang. Aku teledor hingga kopi tumpah di kertas yang belum sempat aku baca."


Sebenarnya Renata sangat kesal, karena dengan bersusah payah ia meminta kepada, Dokter Irwan untuk sekaligus mengecek kesehatan Dita. Malah semua itu sia-sia. Tetapi dia mencoba untuk bisa menahan amarahnya.


"Ya sudahlah, mau bagaimana lagi. Karena sudah basah dan kamu nggak bisa membacanya ya buang saja ke tempat sampah," ucap Renata kesal.


"Sayang, memang hasilnya apa? terus bagaimana bisa kamu meminta pada, Dokter Irwan untuk segera mengecek kesehatan Dita? kok aku sama sekali tidak tahu ya?" serentetan pertanyaan keluar dari mulut, Leo.


Renata menjawab pertanyaan dari Leo, satu persatu. Dia mengatakan jika hasilnya, Dita di nyatakan sehat tidak berpenyakitan. Dan memang Renata sengaja tak memberi tahu pada Leo pada saat dirinya meminta tolong pada, Dokter Irwan untuk mengecek kesehatan Dita.


"Seharusnya kamu nggak boleh bertindak sendiri. Karena disini aku lah yang kepala keluarga. Walaupun hanya sekedar cek kesehatan Dita, apa lagi ini menyangkut dengan kesehatan."


"Kenapa kamu selalu saja bertindak selangkah lebih maju dariku? padahal itu tidak boleh dan tidak baik bagi seorang istri."


Renata merasa heran dengan Leo, bukannya merasa senang karena ia telah berhasil mendapatkan bukti kuat bahwa Dita tidak sakit parah, tetapi melainkan marah-marah.


"Mas, aku bertindak seperti itu karena aku tidak ingin rumah tangga kita hancur karena pihak ketiga yakni mantan Istrimu itu. Katakan saja jika kamu tidak percaya dengan apa yang barusan aku katakan tentang hasil cek kesehatan tersebut."


'Sudahlah, mas. Aku lagi nggak ingin berdebat karena aku tidak ingin kesehatan calon bayiku menjadi ikut terganggu. Intinya aku tidak mau, Dita kembali lagi di rumah ini. Karena aku sudah tahu jika Dita tidak sakit parah."


Leo hanya diam saja, dia sama sekali tidak bersuara malah sibuk dengan ponselnya. Hal ini membuat Renata sangat kesal," mas, aku sedang berbicara padamu. Kenapa kamu malah asik main game saja sih?"


Tetapi Leo tidak merespon juga, hingga Renata bangkit dari duduknya dan ia segera melangkah ke kamarnya. Bukan untuk beristirahat, tetapi meraih kopernya yang kebetulan semua pakaiannya masih ada di dalam koper tersebut.


Renata menyeret kopernya menuju ke pelataran rumah, pada saat berada di hadapan Leo barulah suaminya merespon," sayang, kamu mau pergi lagi?"


"Iya, mas. Kamu protes jika segala sesuatu aku selangkah lebih maju dari pada kamu. Tetapi sikapmu cuek seperti tadi. Mana ada seorang istri yang mau tinggal diam jika melihat sikap suami sepertimu?'


"Sudahlah, aku mau tinggal di rumah mamah saja. Ini membuktikan jika memang pada dasarnya kamu masih ada rasa cinta pada, Dita. Hingga pada saat aku ngobrol tentangnya, kamu sama sekali tidak meresponku."


Leo menghampiri Renata," begitu saja kok kamu marah sih? ternyata apa yang orang-orang katakan itu benar adanya ya? jika wanita hamil itu sensitif sekali hingga mudah sekali marah."

__ADS_1


__ADS_2