
Lain halnya dengan kehidupan Renata yang sangat damai tidak ada suatu masalah sama sekali. Ia hidup sebagai single parent tetapi tidak pernah mengasihani diri sendiri, tidak pernah meratapi diri.
Ia justru merasa sangat bahagia karena sudah tidak tertekan batinnya sana sekali. Walaupun tidak ada seorang suami, bukan berarti ia tidak mampu memberikan nafkah pada Galang dan Mamah Leka.
Justru usaha garmennya semakin bertambah maju pesat dan ia saat ini sedang membangun usaha baru yakni sebuah perumahan kecil untuk dikontrakkan.
"Renata, apa kamu sudah yakin dengan membangun perumahan di pemukiman warga? nanti yang ada macet, dengan uang sewa rumah. Apa nggak sebaiknya membangun perumahan elite saja?"
Tetapi Renata sudah bertekad untuk membangun kontrakan rumah. Karena ia melihat banyak sekali warga yang terusir karena tidak bisa membayar uang kontrak yang cukup mahal.
Ia memang sengaja membangun perumahan kecil dimana tarif kontrak tidak membebani para warga yang kurang mampu. Ia memang sengaja ingin membantu warga yang kurang mampu.
"Aku sengaja mah, setidaknya untuk membantu warga yang kurang mampu. Karena aku lihat sendiri banyak sekali yang terusir dari rumah kontrakan karena sewanya sangat mahal."
Mamah Leka pun tidak berkomentar lagi, jika anaknya sudah memutuskan seperti itu. Asalkan tindakannya positif.
Selagi asik bercengkrama, datanglah Hans. Mamah Leka sangat suka dengan Hans sejak dulu, hanya saja Renata menganggap Hans cuma sebatas sahabat tidak lebih.
"Hay Hans, apa kabar? lama banget ya nggak bertemu."
Mamah Leka langsung menjabat tangan Hans seraya saru tangan menepuk-nepuk bahunya.
"Hans, duduk dulu ya. Aku mau mandi sebentar. Mah, tolong temani Hans ngobrol ya."
__ADS_1
Hans sangat senang karena rencananya berhasil. Melihat Renata masuk ke dalam rumah untuk mandi. Karena dari rumah, Hans ingin berbicara berdua saja dengan Mamah Leka.
"Tante, kebetulan sekali Renata sedang mandi. Karena memang aku ingin sekali bicara empat mata dengan Tante. Tadi saat di rumah, aku sampai bingung memikirkan cara untuk bisa bicara empat mata dengan Tante."
Mamah Leka memicingkan alisnya," masa sih? memangnya kamu ingin bicara apa dengan Tante, kok wajahmu terlihat sangat serius seperti itu?"
Hans pun dengan malu-malu mengatakan bahwa sebenarnya sudah sejak lama ia suka pada Renata, tetapi ia tidak berani mengatakannya hingga ia kalah cepat oleh Leo. Hans juga mengatakan rasa cintanya pada Renata hingga kini masih ada bahkan semakin membara.
Hans mengatakan pada Mamah Leka apakah setuju jika dirinya ingin pendekatan pada Renata. Dan benar-benar ingin serius.
Wajah Mamah, Leka berbinar-binar," Alhamdulillah, justru Tante dari dulu setujunya jika Renata berjodoh denganmu. Jika dari dulu kamu jujur sama Tante, pasti Tante akan berjuang sekuat tenaga untuk bisa membantumu bersatu dengan Renata."
"Tetapi Renata yang sekarang bukan Renata yang dulu, Hans. Karena saat ini sudah berstatus janda beranak satu. Apakah itu tidak menjadi suatu penghalang bagi cintamu?"
Mamah Leka sangat senang mendengar kabar tersebut, tetapi ia juga ragu karena status Renata janda beranak satu sedangkan Hans masih lajang.
"Ya sudah, jika memang kamu sama sekali tidak mempermasalahkan tentang status Renata. Tante setuju dan memberikan lampu hijau untuk dirimu mendekati Renata. Dan tante juga akan bantu kamu bukan hanya dengan doa, tapi dengan segala macam cara. Tetapi pesan Tante, tolong jangan pernah membuat kecewa Renata ya. Karena ia sudah cukup menderita pada saat hidup berumah tangga dengan Leo," ucap Mamah Leka.
"Alhamdulillah ya Allah, terima kasih Tante. Aku tidak akan berjanji apa pun, tetapi aku akan selalu berusaha sekuat tenaga untuk memberi kebahagiaan kepada Renata juga anaknya. Jangan bosan ya tante, jika aku sering datang kemari karena aku ingin pendekatan juga dengan babynya Renata."
"Tante, tolong jangan bilang pada Renata tentang hal ini ya?"
Mamah Leka tersenyum bahagia seraya mengacungkan kedua ibu jarinya.
__ADS_1
Tak berapa lama....
Renata sudah kembali, ia terlihat begitu segar dan aroma wangi sabun begitu semerbak.
Renata terlihat sangat cantik walaupun dirinya sama sekali tidak memakai make up.
"Aku heran dengan Leo, wanita secantik ini kok di sia-siakan dan lebih memilih wanita seperti mantan istrinya yang jelas sekali pernah selingkuh. Dasar pria bodoh, aku yakin suatu saat nanti ia pasti akan menyesal," batin Hans terus saja menatap kecantikan Renata yang paripurna tanpa sadar ia tidak berkedip sama sekali.
"Ehem, memangnya ada yang aneh dengan wajahku ya Hans? hingga kamu menatapku seperti itu?" tegur Renata mengagetkan Hans.
Hingga saat itu juga wajah Hans terlihat pias, membuat Mamah Leka terkekeh," Hans itu terpesona dengan anak mamah yang cantik ini. Masa iya kamu nggak peka sih?"
Renata memicingkan alisnya," mamah ini bicara apa sih?"
Mamah Leka pun masuk ke dalam rumah, dan tidak lama kemudian, bibi datang dengan membawa minuman dan berbagai cemilan.
Bibi ikut senang melihat ada seorang pria dekat dengan Renata," ya Allah, hamba turut berdoa untuk kebahagiaan Non Renata. Hamba lihat pria yang sedang bersamanya adalah pria yang baik tidak seperti Den Leo."
Bibi ini yang pernah bekerja di rumah Leo, dan ia tidak kerasan tinggal disana sejak Leo memutuskan untuk rujuk dengan Dita. Renata mengajak Bibi untuk bekerja di rumahnya. Walaupun di rumah sudah ada asisten rumah tangga dan satu baby sitter.
Renata dan Hans bercengkrama panjang lebar, bahkan kerap kali mereka bercerita tentang masa lalu dimana mereka dulu bersahabat baik.
"Renata, kadang kala aku ingin sekali mengulang masa lalu. Masa dimana kita selalu bersama, kemana-mana bersama. Tetapi masa itu hilang dalam sekejap tat kala kamu mengenal Leo. Kita semakin jauh. Dan tiba-tiba kamu memutuskan untuk menikah dengannya. Suatu keputusan yang tidak aku sukai sama sekali. Tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan aku tetap memendam rasa ini walaupun kamu waktu itu bercerita akan menikah dengan Leo."
__ADS_1
" Jika saja aku tahu, kamu tidak akan bahagia dengannya. Waktu itu aku larang kamu menikah dengannya dan aku akan mengatakan tentang isi hatiku padamu. Nyaliku terlalu kecil untuk bisa berkata jujur padamu."
Terus saja Hans melamun hingga tidak terasa air minum yang sedang ia pegang tertuang ke celana tanpa sadar. Hal ini membuat Renata tertawa ngakak.