Suamiku Masih Mencintai Mantan Istrinya

Suamiku Masih Mencintai Mantan Istrinya
Semakin Di Pojokkan


__ADS_3

"Astaghfirullah aladzim, sepicik itu pemikiranmu padaku, Mas. Tega sekali kamu menuduhku merekayasa penculikan ini. Jika memang aku berniat jahat pada anak-anakmu, tidak usah menunggu hari ini."


"Tetapi aku bisa melakukannya pada saat pertama kali aku tinggal di rumah ini. Tetapi aku sama sekali tidak melakukan apapun pada salah satu anakmu, bukan?"


"Bagaimana bisa kamu berpikir buruk tentangku seperti ini? jika kamu merasa Dita itu lebih baik dariku, kenapa juga kamu memilihku untuk menjadi istrimu dan menjadi ibu sambung bagi anak-anakmu?"


"Kamu pikir, kata-katamu ini tidak menyakiti hatiku, mas? kamu sudah sangat keterlaluan! baiklah, jika kamu memang tidak ingin aku menjaga dan merawat Rasti lagi, aku akan pergi dari rumah ini!"


Namun Leo tidak mengizinkan Renata pergi dari rumah tersebut," tidak, aku tidak akan mengizinkanmu pergi dari rumah ini sebelum Resti di ketemukan!"


"Mas, biarkan saja dia pergi. Bukannya sudah ada aku yang menjaga, Rasti? jadi Renata sudah tidak di butuhkan lagi di rumah ini," ucap Dita.


"Iya, apa yang di katakan oleh Dita memang benar, mas. Aku sudah tidak berguna lagi di rumah ini. Jadi biarkan saja aku pergi, untuk apa di pertahankan. Dan setelah anak ini lahir, aku juga tidak akan mempertahankan rumah tangga kita. Silahkan saja jika kamu ingin rujuk dengan, Dita. Aku sudah tidak akan menghalangimu lagi," ucap Renata.


Tetapi entah kenapa, Leo berkeras hati supaya Renata tetap tinggal di rumahnya walaupun sudah ada, Dita.


Hingga dengan berat hati, Renata tetap tinggal di rumah tersebut. Walaupun dia tidak menginginkannya karena adanya, Dita.


*******


Esok harinya....


Sifat Leo masih saja dingin dan arogant pada Renata, walaupun dia tahu saat ini Renata sedang hamil anaknya.


"Mas, aku bisa minta tolong nggak? aku ingin sekali makan lotek, tetapi aku pusing sekali untuk jalan ke luar rumah."


Leo marah-marah," enak saja! setelah apa yang kamu lakukan pada Resti, kamu ingin aku memanjakamu?"


"Mas, ini untuk anakmu juga. Aku bukan ingin manja, jika aku tidak pusing pasti aku akan membelinya sendiri."


Tetapi Leo sama sekali tidak menghiraukan apa yang di katakan oleh, Renata. Justru ia berlalu pergi menghampiri Dita yang sedang bermain dengan, Rasti.

__ADS_1


Bahkan sejak adanya Dita, sikap Rasti pada Renata juga telah berubah. Ia sudah tidak mau lagi dekat dengannya.


"Ya Allah, cobaan apa lagi ini? masa iya, aku harus tinggal di rumah lagi dengan mantan istri suamiku? aku nggak akan sanggup," batin Renata.


Baru satu malam saja, Dita tinggal di rumah Leo. Renata sudah merasakan sakit hati. Apa lagi Dita begitu sengajanya, memancing cemburu Renata. Dengan selalu bermesraan dengan Leo dan Rasti.


Satu Minggu berlalu....


Tetapi tidak ada kabar berita keberadaan, Resti. Hal ini membuat Leo semakin bersikap arogant dan dingin pada, Renata.


Pada saat Leo sedang berada di kantor, hal ini di gunakan Dita untuk mengejek Renata," kamu lihat kan? pada akhirnya aku datang lagi kemari. Dan aku sangat yakin jika kali ini aku akan berhasil menyingkirkan dirimu!"


"Ohhh...jadi semua ini ulahmu? jadi Resti di culik itu juga rekayasamu dan kamu memutar balikkan fakta seolah aku yang melakukan hal ini, supaya Mas Leo membenciku?" ucap Renata lantang.


"Kamu sudah gila apa? aku sama sekali tidak menyuruh siapapun, lagi pula aku uang dari mana untuk membayar orang melakukan penculikan ini! tetapi adanya penculikan Resti, membuat keberuntungan di pihakku."


"Aku tidak perlu melakukan hal kotor dengan tanganku sendiri. Karena sudah ada orang yang melakukan hal ini. Walaupun aku tidak tahu siapa orang yang telah menculik Resti."


Renata merasa heran dengan sikap Dita,"


anakmu di culik, sudah satu Minggu belum di ketemukan. Tetapi kamu sama sekali tidak merasa sedih atau kehilangan. Ibu macam apa kamu? yang kamu pikirkan hanya dirimu sendiri saja!"


"Yah, memang beginilah aku. Aku tidak munafik, memang aku akui hal itu. Jika aku tidak mementingkan diriku sendiri, lantas siapa yang akan mementingkanku? tidak ada bukan? ini bukti rasa syukurku terhadap Yang Maha Kuasa, yakni mencintai diri sendiri."


Renata sama sekali tidak mengerti dengan jalan pemikiran Dita. Padahal dirinya sampai sekarang ini masih memikirkan bagaimana nasib dan kondisi, Resti. Tetapi ibu kandungnya sama sekali tidak memikirkan kondisi Resti. Dita terlihat bahagia, tidak ada rasa sedih di wajahnya sama sekali.


"Renata, sebaiknya kamu pergi sekarang juga. Dari pada semakin hari kamu semakin tersiksa dengan adanya keberadaan diriku di sini. Lagi pula, Mas Leo sudah tidak peduli padamu bukan?"


"Aku itu merasa kasihan juga padamu, di kala hamil malah tidak pernah di perhatikan oleh, Mas Leo. Tidak seperti aku dulu, selalu saja di perhatikan olehnya."


"Bahkan aku tidak pernah meneteskan air mata selama aku hamil si kembar. Aku selalu di buat senang dan bahagia.'

__ADS_1


"Kasihan sekali nasibmu, Renata. Aku benar-benar tidak tega, sebaiknya kamu pulang saja dech, ke rumah mamahmu yang sok ngatur itu."


Terus saja Dita mengejek nasib Renata saat ini, tetapi Renata mencoba untuk tidak terbawa perasaan dan tidak terpancing emosi.


Dia malah berlalu pergi begitu saja dari hadapan, Dita.


"Astaghfirullah aladzim, kuatkan aku ya Allah. Untuk menghadapi permasalahan rumah tanggaku ini. Dan semoga saja, Resti segera di temukan supaya Mas Leo tidak marah lagi padaku."


Bibi yang melihat kesedihan demi kesedihan di wajah Renata merasa turut iba," Non Renata, yang sabar ya. Pasti semua akan terselesaikan. Non kecil Resti segera di temukan."


"Amin, terima kasih Bi doanya."


"Ya non, jangan khawatir ya. Saya akan selalu ada buat non, dan selalu mengawasi tindak tanduk si Dita. Karena saya juga tidak ingin, Dita melakukan hal buruk pada, Non Renata."


Si bibi sangat sayang pada Renata, karena dia tahu bagaimana liciknya Dita.


Dita sangat yakin, jika sebentar lagi Renata akan memutuskan untuk pergi dari rumah tersebut.


Sementara di suatu tempat, Resti tinggal di sebuah rumah mewah tetapi tak semewah rumah milik Leo. Selama satu Minggu ini, Resti masih saja sering menangis dan ketakutan.


'Bisa nggak kamu itu tidak menangis? karena aku tidak menyakitimu!" bentak seorang wanita seumuran dengan, Dita.


'Tante, tolong lepaskan aku. Aku ingin pulang ke rumah Papah."


Hampir tiap hari anak ini terus saja merengek minta pulang. Tetapi wanita tersebut tidak mengabulkannya. Dia berniat untuk merawat Resti menjadi anaknya.


"Biar saja Leo dan Dita terus saja merasakan kehilangan akan anak ini! suatu saat nanti, aku juga akan menculik satu anaknya lagi!"


"Aku tidak akan membiarkan mereka hidup bahagia begitu saja. Aku akan membuat mereka hidup menderita seperti apa yang selama ini aku rasakan!"


"Aku akan mendidik anak mereka serupa denganku, supaya suatu saat nanti anak ini juga tumbuh seperti diriku. Tidak punya belas kasihan dan juga garang!"

__ADS_1


Entah kenapa wanita tersebut sangat dendam pada, Leo dan Dita.


__ADS_2