Suamiku Masih Mencintai Mantan Istrinya

Suamiku Masih Mencintai Mantan Istrinya
Terusir


__ADS_3

Melihat Renata tertawa ngakak, Hans pun heran. Tetapi ia tersipu malu ketika melihat dirinya sendiri dengan kondisi celananya basah.


"Astaghfirullah, kenapa air ini tumpah kecelana sih?" ucapnya heran sendiri.


Renata terus saja ngakak," Hans, apa yang membuatmu melamun sih? sampai air minum tertumpah di celana seperti itu?"


Hans pun salah tingkah, ia tidak mungkin mengatakan pada Renata jika dirinya melamunkan dirinya. Ia malah berpamitan pulang saat itu juga dengan alasan untuk segera berganti celananya yang basah.


******


Pagi menjelang...


Kembali terjadi keributan di rumah Leo, bahkan saat itu juga Leo menalak Dita dan mengusirnya dari rumah mewahnya. Walaupun Dita tidak bersedia pergi, tetapi Leo memaksanya untuk segera pergi.

__ADS_1


"Mas, aku nggak mau pergi. Bagaimana pun aku ibu kandung dari si kembar. Jika aku pergi, lantas bagaimana dengan si kembar?"


Leo tersenyum sinis," nggak usah mencari alasan anak . Karena sebenarnya kamu dari dulu tidak pernah perhatian pada anak, bukan? kamu hanya memikirkan dito sendiri saja! sudah nggak usah membujukku terus karena itu tidak akan berhasil! cepat pergi, surat cerai sedang di urus pengacaraku. Jika kelak sudah keluar akan aku antar ke rumahmu."


Dengan sangat kasar Leo menarik paksa Dita ke arah pelataran rumah. Bahkan Dita sampai jatuh terjerembab," aaauhh.. Mas Leo! kok kamu jahat banget sih? tolong pikirkan lagi mas, nanti kamu menyesal loh telah mengusirku."


Leo malah tersenyum sinis pada saat mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Dita," justru aku menyesal karena rujuk denganmu. Seharusnya aku tetap bertahan dengan Renata!"


"Ini semua gara-gara asisten rumah tangga itu. Bagaimana bisa seorang asisten rumah tangga kok bisa menggoda Mas Leo. Tapi aku tidak akan tinggal diam, aku akan membuat asisten rumah tangga itu menyesal karena telah membuatku seperti ini!"


Dita pergi dari rumah Leo dengan penuh kemarahan. Ia pun memutuskan kembali ke rumahnya sendiri. Tetapi ia terhenyak kaget pada saat sampai di rumahnya sendiri.


"Heh, kalian ini siapa? kok ada di rumahku?" tanya Dita kesal.

__ADS_1


"Kami pemilik rumah ini, memangnya ada apa? kok ketus begitu sih?" ucap seorang pria paruh baya yang saat ini sedang bersama dengan istrinya.


"Heh, pak. Jangan sembarangan ya kalau bicara. Rumah ini adalah rumah saya!" ucap lantang Dita seraya berkacak pinggang.


Tetapi pria paruh baya tersebut tidak mau kalah. Ia pun mengeluarkan bukti kuat yakni sertifikat tanah rumah tesebut. Dita terperangah melihat bukti tersebut.


"Bagaimana bisa, sertifikat tanah rumah ini ada pada bapak itu? padahal aku simpan di dalam rumah ini," batin Dita bingung.


Dita meminta pria paruh baya tersebut menunjukkan bukti yang lain. Dan pria paruh baya tersebut memberikan bukti perjanjian hitam putih di atas materai, dengan tanda tangan Dita.


Hal ini membuat Dita semakin terperangah karena dirinya sama sekali tidak pernah melakukan perjanjian jual beli. Tetapi pada saat dirinya terus membantah dan mengelak, justru pria paruh baya itu mengancam akan melaporkannya pada aparat kepolisian.


Dita mati kutu dan ia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia pun berlalu pergi dari hadapan pria paruh baya tersebut. Ia bingung harus tinggal dimana.

__ADS_1


__ADS_2