
"Iya sudah aku percaya dengan kata-katamu itu. Aku tidak akan mengizinkan Dita untuk tinggal di sini lagi kok. Cobalah untuk menahan amarahmu itu, sayang."
Sementara di rumah sakit, Dita merasa kesal karena Leo tidak juga kunjung menjenguk dirinya," tega banget, Mas Leo! masa iya sama sekali tidak peduli padaku? tidak menjengukku sama sekali."
Dita mencoba menelpon Leo, dan akhirnya tersambung juga.
"Ada apa, Dita?"
"Kok kamu bertanya ada apa sih, mas? kenapa kamu sama sekali tidak menjengukku?"
" Untuk apa, toh semua itu kamu buat sendiri kan? sakitmu sekarang ini karena ulahmu sendiri. Lagi pula aku sudah menyewa seorang perawat untuk khusus merawatmu loh. Kurang baik apa aku coba? sudahlah nggak usah lagi manja ya."
Leo menutup panggilan telepon dari Dita dan dia kini fokus pada Renata.
Dita merasa sangat kesal karena usahanya gagal lagi. Dia sama sekali tidak mendapatkan simpatik atau perhatian dari, Leo.
Esok harinya...
Dita sudah di izinkan untuk pulang, hingga Leo langsung saja mengantarkan Dita pulang ke rumahnya. Dita protes pada saat dirinya diantar pulang ke rumahnya.
"Mas Leo, ini kan bukan arah pulang rumahmu? tapi ini arah ke rumahku, jangan katakan jika kamu ingin mengantarkanku pulang ke rumah," ucap Dita mulai protes.
Namun Leo hanya diam saja di balik kemudinya, dia tidak mengatakan apapun hingga sampai di pelataran rumah Dita.
"Turunlah, Dita.. Sudah sampai di depan rumahmu!" perintah Leo.
"Aku nggak mau, mas. Lagi pula pakaianku masih ada di rumahmu."
Leo menoleh menatap ke arah Dita dari balik kemudinya," kamu nggak usah khawatir, karena sudah kopermu sudah siap ada di dalam bagasi mobil ini. Turunlah, nanti aku yang akan membawakan kopermu."
Dengan sangat terpaksa, Dita keluar dari mobil Leo dengan wajah murungnya.
"Sialan, bagaimana ini? kok aku malah kembali ke rumah jelekku ini, sih! ide apa ya, yang bisa membuatku bisa kembali ke rumah megah, Mas Leo?" batin Dita sedang memikirkan ide licik lagi.
Leo turun dari mobil dan membawa koper milik Dita. Renata juga turut turun. Setelah sampai di ruang tamu, Renata berkata," Dita, mana surat keterangan kesehatanmu. Kami ingin melihatnya sekarang juga."
DEG!
Dita wajahnya langsung pias, dia seketika gemetaran dan bingung. Lidahnya terasa tercekat tak bisa berbicara sama sekali.
__ADS_1
"Iya Dita, apa yang di katakan oleh Renata memang benar. Aku sengaja mengantarmu pulang karena sekaligus ingin melihat surat keterangan kesehatanmu," ucap Leo.
Tapi lagi-lagi Dita hanya diam saja, karena ia memang tidak mempunyai riwayat penyakit apapun. Sikap diamnya Dita, membuat Renata kesal," Dita, cepat ambil sana! malah kamu diam saja, apa jangan-jangan kamu cuma berbohong ya?"
"Eh, siapa yang bohong sih? untuk apa aku bohong tentang penyakitku ini, sebentar ya aku ambil di dalam kamar."
Dita melangkah ke kamarnya, dan di dalam kamarnya merasa semakin bingung," aduhhhh... kalau aku ketahuan bohong pasti Mas Leo tidak bisa aku luluhkan kembali."
Dita terus saja mondar-mandir di dalam kamarnya, dia pun terus saja mencari akal, tetapi otaknya buntu. Karena Dita tak kunjung keluar dari kamar, Renata dan Leo semakin kesal.
Hingga mereka berdua melangkah masuk ke dalam kamar Dita yang kebetulan tidak di kunci.
"Astagaaa...Dita! kami menunggu lama ternyata malah kamu sedang mondar-mandir? pasti kamu sedang bingung bukan, karena pada dasarnya kamu ini berbohong pada, Mas Leo? jika kamu jujur, sudah dari tadi membawa buktinya keluar."
"Makanya kalau mau berbohong, seharusnya kamu berpikir terlebih dahulu. Dan harus sudah siap dengan kebohonganmu, dengan menyimpan cek kesehatan palsu. Kamu nggak pintar untuk berbohong."
Terus saja Renata mengejek, Dita. Yang diejek hanya diam saja tak bergeming dari tempatnya berdiri.
"Dita, katakan saja jika kamu berbohong padaku. Nggak usah beralasan macam-macam lagi," ucap Leo.
Dita terus saja menunduk gemetaran dan ketakutan sekali, hingga pada akhirnya ia pun mengakuinya jika dirinya memang berbohong.
"Sialan, tega sekali kamu berbohong padaku! padahal aku sudah berbaik hati padamu! Sayang, ayok kita pulang. Dan kamu awas ya, jika berbohong lagi padaku! aku tidak akan mengizinkanmu menemui anak-anak!"
"Padahal selama ini aku tidak melarangmu untuk menemui anak-anak, tetapi malah kamu seperti ini!"
Setelah mengatakan banyak hal, Leo merangkul Renata mengajaknya pergi dari rumah Dita. Sementara Dita diam saja, tetapi di dalam hatinya tidak akan menyerah. Dia akan mencari cara lain yang lebih jitu untuk bisa mendapatkan, Leo.
"Pergilah kalian, tapi aku pastikan suatu saat nanti aku pasti menang dan berhasil memisahkan kalian berdua!" gumam Dita sama sekali tidak ada rasa penyesalan sedikitpun.
***********
Beberapa hari kemudian....
Di saat Renata menjemput sekolah si kembar, ada kejadian yang sangat mengejutkan. Dimana pada saat si kembar berjalan berdampingan, datanglah beberapa pria dengan memakai kain penutup wajah dan membawa pergi salah satu diantara si kembar.
"Mamah Renata... tolong...."
Si Resti kemudian di bungkam oleh salah satu pria berpakaian serba hitam hingga pingsan. Dan langsung di bawa pergi menggunakan motor.
__ADS_1
"Resti...heh... tolong... jangan bawa anakku!"
Renata menangis histeris seraya memeluk Rasti yang sedari tadi ketakutan.
"Ya Allah, aku harus mengatakan apa pada, Mas Leo? dia pasti akan marah besar mengetahui akan hal ini," batin Renata.
Dengan tangan gemetaran, Renata lekas menelpon, Leo.
" Mas Leo, to-long..."
"Ada apa, sayang? sepertinya kamu ketakutan? coba tenangkan dulu pikiranmu, supaya kamu bisa berbicara dengan benar, tidak terbata-bata seperti itu."
" Maafkan aku, mas."
"Maaf, sebenarnya ada apa?"
"Barusan Resti di culik, mas. Aku bingung karena kebetulan di depan pintu gerbang sekolah sepi nggak ada orang, hingga aku bingung ingin minta tolong pada siapa?"
Mendengar salah satu anaknya di culik, Leo segera memerintahkan sopir pribadinya untuk lekas mengantarnya ke sekolahan di kembar.
Hanya beberapa menit saja, Leo sudah sampai di depan pintu gerbang sekolahan si kembar.
Leo langsung menanyakan banyak hal pada, Renata.
"Bagaimana sih kamu! aku kan sudah mempekerjakan dua baby sitter untuk menjaga si kembar. Bukan kamu yang jemput mereka! jika masing-masing di temani baby sister, pasti kejadiannya nggak seperti ini!"
"Pokoknya jika terjadi hal yang tidak di inginkan dari, Resti. Aku tidak akan pernah memaafkanmu! Ingat itu baik-baik!"
"Sekarang juga kita ke kantor polisi, dan kamu katakan segalanya yang kamu tahu tentang kejadian tadi. Kamu ingat kan plat nomor kendaraan bermotor yang di kemudikan penculiknya?"
Renata hanya menggelengkan kepalanya, karena dia sama sekali tidak berpikiran untuk menghapal plat nomor kendaraan bermotor yang di kemudikan oleh si penculik.
Leo sangat kesal pada Renata, dia terus saja marah-marah pada istrinya tersebut. Ia melupakan jika saat ini Renata sedang hamil muda. Dan tidak boleh stres atau tertekan batinnya.
"Mas, tolong jangan terus menyalahkan aku. Semua ini di luar kehendakku. Aku juga tidak tahu akan terjadi hal buruk seperti ini. Aku minta maaf, mas. Positif tinking saja jika saat ini, Resti dalam kondisi baik-baik saja," ucap Renata.
"Jika aku tidak menyalahkanmu, lantas menyalahkan tembok! atau pintu gerbang sekolah ini! kamu tidak terlihat panik atau cemas karena aku tahu apa yang ada di otakmu itu."
"Kamu tidak khawatir dengan kondisi Resti, karena dia bukan anak kandungmu. Jika Resti anak kandungmu, pasti saat ini kamu sudah kalang kabut!"
__ADS_1
Ucapan dari Leo, sangat menohok hati Renata. Hingga air matanya tak bisa di bendung lagi," astaghfirullah aladzim, kenapa kamu tega mengatakan hal seperti ini padaku, mas? padahal selama ini aku merawat si kembar layaknya anak kandungku sendiri."