
Untung saja Tia pernah hidup susah pada saat hilang ingatan di tolong oleh seseorang. Di desa tempat tinggal orang itu, Tia belajar mengerjakan urusan rumah tangga. Hingga penyamarannya sempurna.
"Untung saja waktu aku berada di rumah Almarhumah Nenek Ijah, aku sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga. Sudah tidak asing lagi bagiku untuk mengerjakan semuanya. Lagi pula ini hanya awal saja, nanti aku akan membuat Dita yang menjadi asisten rumah tangga di rumahnya sendiri. Dan aku akan menjadi bos di sini," gumamnya di dalam hati.
Tia begitu antusias dalam mengolah masakan. Dan ia tidak di ragukan lagi bisa memasak dengan hasil yang tidak mengecewakan.
"Hem.. nikmat sekali. Tia, ini kamu yang memasak?" puji Leo menatap genit kearah Tia yang sedang menuang minuman.
Dita pun melirik sinis," mas, apa-apaan sih kamu? genit banget dech."
"Heh, jadi istri itu nggak usah cerewet begitu. Nggak usah terlalu posesif begitu, aku nggak suka! seharusnya kamu yang masak semua ini, jangan bisanya cuma kelayaban. Ternyata kamu ini tidak juga berubah! kamu jauh berbeda dengan Renata. Dia pintar dalam segala hal, masak bisa, urus anak bisa, dandan bisa, jadi pengusaha pun dia bisa. Intinya Renata itu serba bisa!"
__ADS_1
Dita naik pitam, ia pun menjatuhkan sendok dan garpunya. Hal ini sontak saja membuat si kembar ketakutan. Dan Tia tidak ingin pesikologi si kembar terganggu. Ia mengajak si kembar ke ruang tengah dan memanggil para baby sitter untuk mengurus si kembar.
Dita ngomel-ngomel pada Leo, dan pada saat Tia akan meraih sarapan untuk si kembar, ia kena omelan juga," heh, ini semua gara-gara kamu! lagi pula siapa suruh membawa anak-anakku pergi dari sini. Terlalu berani kamu ya! sebaiknya kamu pergi saja dari sini! baru sehari sudah membuat onar!"
Tia sebenarnya kesal, tetapi dia mencoba menahan amarahnya," Non Dita, saya mohon maaf ya. Anak-anak nggak seharusnya melihat pertengkaran orang tuanya, itu tidak baik loh untuk tumbuh kembang mereka."
"Sok tahu kamu, lagi pula kamu ini kan belum pernah menikah dan cuma asisten rumah tangga jadi nggak berhak mengatur majikan!"
Leo kesal mendengar celotehan Dita," heh, tahu seperti ini aku tidak mau menikahi resmi dirimu! menyesal tahu nggak? disini yang berhak banyak bicara dan mengatur itu cuma aku, bukan kamu! hilang selera makanku!"
Tia menghampiri Dita tanpa ada rasa gentar," apa kamu tuli Dita! di rumah ini yang berhak mengatur semuanya cuma Den Leo bukan kamu! jadi untuk apa aku menuruti perintahmu, hah?"
__ADS_1
Tia melotot ke arah Dita, hingga Dita merasa heran. Ia pun tidak ingin kalah begitu saja," heh, beraninya kamu ya? aku ini istri dari majikanmu jadi sudah sepantasnya kamu itu menurut padaku dan tidak boleh kurang ajar!"
"Istri untuk sekarang ini, tapi entah esok atau lusa kan nggak ada yang tahu. Bisa saja posisi anda itu tergeser," ucap Tia tersenyum mengejek.
Setelah itu ia membawa makanan untuk Leo, tetapi langkahnya terhenti oleh Dita.
"Mau ngapain kamu? mau mencoba menggoda suamiku? tidak akan aku biarkan!"
Dan pada saat Dita akan merebut makanan itu, Tia sengaja menjatuhkannya terlebih dahulu.
Leo pun mendengar hal itu, ia segera melangkah ke ruang makan lagi.
__ADS_1
Belum juga Dita berbicara, Tia pun pura-pura menangis," Den Leo, tolong nasehati istrinya jangan terlalu semena-mena, mentang-mentang saya cuma asisten rumah tangga."
"Dita, apa sih maumu hah?"