
Pada saat Dita lengah dan terus menerus menangis, apa lagi terlihat panik pada saat meraba kedua pipinya yang mengeluarkan darah. Kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Syntia, ia segera berlalu pergi dari kamar Dita.
Dita menangis histeris menutup wajahnya sendiri. Ia pun ketakutan dan segera berlari keluar rumah menuju ke kantor Leo.
"Aku harus menemui Mas Leo, mengatakan jika arwah Syntia datang dan mulai menggangguku," batin Dita gemetaran ketakutan.
Dita pergi ke kantor Leo dengan membawa sopir pribadi. Wajahnya terus saja ditutupi dengan kain, ia sengaja memakai kerudung supaya tidak terlihat pipinya yang luka kena sayatan pisau.
Tok tok tok tok tok tok
Dita mengetuk pintu ruang kerja Leo dengan sangat gemetaran dan ketakutan.
"Masuk!"
Dita segera masuk dan ia menangis dihadapan Leo, hal ini membuat Leo heran.
"Ada apa sih, datang-datang kok menangis seperti itu? lantas kenapa juga kamu memakai penutup wajah seperti itu?"
Perlahan Dita membuka penutup wajahnya perlahan dihadapan Leo, ia pun tersentak kaget pada saat melihat kedua pipi Dita.
"Astagaaaa ... kenapa dengan kedua pipimu itu? sudah jelek tambah jelek tahu!"
Dita mendengus kesal pada saat mendengar omongan Leo," kok kamu ngomongnya seperti itu sih? bukannya iba dengan kondisiku ini, malah menghinaku!"
Dita pun mengatakan banyak hal pada Leo, bahwa Syntia telah kembali lagi untuk membalas dendam.
"Mas, apa yang terjadi padaku ini juga karena ulah hantunya Syintia. Dia menggoreskan pisau ke pipiku. Mas lihat sendiri kan, kondisi pipiku ini?"
Tetapi Leo malah tersenyum sinis," halah, kamu sudah gila ya. Merekayasa hal ini? mana mungkin orang yang sudah mati bisa melukaimu. Kalau mau berbohong itu yang kira-kira!"
"Ini pasti akal-akalanmu saja karena takut aku berpaling darimu hingga kamu melukai dirimu sendiri kan? apa lagi kamu tahu jika aku mulai suka dengan Tia. Kamu sadar nggak, dengan kamu melukai dirimu ini bukannya membuatku bertambah cinta padamu. Justru aku malah semakin jijik padamu. Sudah sana pergi, aku sedang banyak pekerjaan!"
__ADS_1
Dengan sangat terpaksa, Dita pun pergi dari ruang kerja Leo. Ia sangat kecewa karena pengaduannya pada Leo justru mendapatkan hujan dan cacian dari Leo.
"Sialan banget sih Mas Leo! masa iya nggak percaya padaku, dan dengan bangganya mengatakan bahwa dirinya mulai jatuh cinta pada Tia. Ini nggak bisa dibiarkan begitu saja, aku harus menyingkirkan Tia. Selagi Mas Leo di kantor, aku bosa dengan leluasa mengusir Tia. Tetapi aku ke dokter dulu untuk mengobati luka di pipiku ini," gumamnya didalam hati.
***********
Beberapa saat setelah dari dokter untuk memeriksakan luka yang kena sayatan pisau pada kedua pipinya. Barulah mobil yang di tumpangi oleh Dita merayap ke arah rumah mewah milik Leo.
Dan tak berapa lama sampai juga.
Dengan amarah yang menggebu, Dita mencari keberadaan Tia.
"Heh, cepat kamu pergi sekarang juga dari rumahku!" usirnya melotot ke arah Tia.
Tetapi Tia hanya tersenyum sinis saja, ia bahkan tidak gentar atau bergeming dari tempat duduknya," rumahmu, nggak usah mimpi deh. Kamu disini itu cuma numpang hidup saja. Begitu pula dengan suamimu, harta yang ia dapatkan juga hasil dari merampas bukan?"
Dita terperangah pada saat mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Tia. Pada saat Dita akan berucap, Tia telah menyela terlebih dahulu," kenapa terkejut seperti itu? aku tahu dari mulutmu sendiri, barusan pada saat kamu di kamar ketakutan sambil ngomong sendiri seperti orang gila."
"Bahkan kamu melukai kedua pipimu sendiri dengan pisau. Mungkin itu pertanda sebentar lagi kamu perlu dirawat di rumah sakit jiwa kali ya? sudah ngoceh sendiri, ketakutan sendiri, melukai dirimu sendiri."
"Kamu yang gila! mana mungkin aku melukai diriku sendiri? yang ada aku ingin melukai dirimu!"
Tetapi didalam hatinya, Dita di penuhi dengan tanda tanya.
"Masa iya aku hanya berhalusinasi semata? masa iya aku melukai diriku sendiri seperti ini? apa iya aku benar-benar mulai tidak waras?"
Melihat Dita diam saja dan terlihat panik, Tia sangat senang," yes, pasti dia saat ini berpikiran bahwa dirinya gila. Rasakan pembalasanku ini!"
Dita berlalu pergi dari hadapan Tia, entah kenapa ia mengurungkan niatnya untuk mengusir Tia. Tetapi ia malah menelpon ke yayasan penyalur tenaga kerja untuk mengirimkan satu orang lagi asisten rumah tangga.
Beberapa jam kemudian...
__ADS_1
Datanglah seorang wanita seumuran Dita, ia calon asisten rumah tangga yang baru di rumah itu. Dita tersenyum sinis karena sangat yakin jika asisten rumah tangganya bisa menghadapi Tia.
"Kamu ingat ya, bekerja yang benar. Dan berusahalah untuk menyingkirkan Tia. Jika kamu berhasil membuat Tia keluar dari sini, aku akan memberikan banyak uang tips padamu. Dan kamu bekerja yang baik ya."
Dita tidak sadar jika obrolannya dengan asisten rumah tangga yang baru, di abadikan moment tersebut oleh Tia lewat rekaman videonya.
"Sudah aku katakan kepadamu Dita, bahwa aku ini cerdik. Kamu tidak akan bisa melawanku. Sebelum kamu bertindak terlampau jauh, justru aku yang akan bertindak terlebih dahulu. Kita lihat saja suamimu akan lebih percaya kepadamu atau kepadaku?"
Tia tersenyum sinis, saat ini sedang menunggu drama berikutnya.
"Aku sudah tidak sabar lagi ingin melihat Leo marah pada Dita," batin Tia.
Sore menjelang, Leo heran karena ada seorang asisten rumah tangga yang baru.
"Dita, apakah kamu yang membawa asisten rumah tangga yang baru itu?" tanya Leo heran menatap tidak suka pada asisten rumah tangga tersebut.
Bahkan pada saat asisten rumah tangga tersebut menyajikan minuman untuk Leo, ia sama sekali tidak mau. Ia hanya mau minum buatan Tia.
"Tia, mana tehnya? kok kamu tidak melayaniku? padahal aku hanya ingin dilayani olehmu saja."
Tia pun pura-pura menangis, hingga Leo merasa iba padanya. Ia pun menghampiri Tia dan menghapus air matanya di depan Dita dan asisten rumah tangga yang baru.
"Kenapa kamu menangis Tia? apakah Dita menyakiti dirimu?"
Belum juga Tia menjawab, Dita sudah nyerocos," heh Tia, sandiwara apalagi yang sedang kamu mainkan? dan kamu mas, dia ini cuma seorang asisten rumah tangga masa iya kamu memperlakukannya dengan istimewa seperti itu?'
"Den Leo, lihat kan? aku belum berkata apapun, istri aden yang posesif itu sudah mengatakan hal buruk tentangku.. Padahal ia yang ingin berbuat hal buruk padaku, den."
Tia meraih ponselnya dan memperlihatkan rekaman video percakapan antara Dita dengan asisten rumah tangga yang baru.
Pyang!
__ADS_1
Leo sengaja melempar gelas yang berisi minuman buatan dari asisten rumah tangga yang baru.
"Ditaaaaaa......jadi kamu punya maksud buruk pada Tia!!!!!!"