Suamiku Masih Mencintai Mantan Istrinya

Suamiku Masih Mencintai Mantan Istrinya
Belum Berani Mengungkapkan Rasa


__ADS_3

Satu musuh telah berhasil disingkirkan oleh Tia. Ia begitu senang karena satu penghalang sudah pergi dari rumah mewah yang seharusnya menjadi miliknya.


"Rasakan pembalasan setimpal dariku, aku yakin saat ini kamu menjadi gembel dan tinggal di kolong jembatan. Kini tinggal pembalasan untuk Leo akan segera dimulai," batin Tia.


Selagi Tia melamun sendiri, satu tepukan mendarat di bahunya. Hal ini membuat ia tersentak kaget, dan segera menoleh," Den Leo, bikin kaget saja dech. Apa ada yang bisa saya bantu?"


"Maaf, kaget ya? seharusnya aku tidak mengagetkan dirimu, tetapi ada hal yang perlu kamu ketahui."


Tia pura-pura terkejut mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Leo," apa itu Den? kok saya jadi penasaran ya?"


Tiba-tiba Leo memegang kedua tangan Tia," aku duduk membuat satu keputusan yang besar sesuai dengan keinginan dirimu. Aku sudah menyingkirkan Dita, supaya kita berdua bisa lekas bersama. Karena aku sudah tidak sabar lagi ingin menikahimu, Tia."


Tia pura-pura senang," ah masa sih Den? saya merasa tersanjung dan merasa bagaikan melayang di udara mendengar ungkapan dari Den Leo."


Leo semakin percaya diri dengan apa yang dikatakan oleh Tia. Ia pun sempat yakin jika dirinya akan benar-benar bahagia jika sudah menikah dengan Tia.


Leo memberikan banyak janji pada Tia, bahwa ia akan selalu menomorsatukan Tia dan segala yang diinginkan oleh Tia akan ia penuhi dalam waktu itu juga.


Perkataan Leo tersebut, benar-benar sangat menguntungkan dirinya saat ini.


"Apakah yang Den Leo katakan saat ini tidak bohong? apakah Den Leo benar-benar akan menikahi saya secara resmi? apakah Den Leo benar-benar akan menerima semua persyaratan dari saya untuk pernikahan kita?"


Leo mengangguk dengan sangat pasti bahwa ia akan melakukan apapun yang Tia inginkan. Ia yakin dengan syarat yang Tia inginkan pasti ia bisa memenuhinya.

__ADS_1


Tetapi Tia tidak ingin ceroboh dan percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Leo. Ia sudah pernah ditipu mentah-mentah oleh Leo dan ia kali ini harus lebih berhati-hati. Hingga ia tidak langsung mengatakan apa yang ia inginkan atau persyaratan apa yang harus Leo kerjakan untuk dirinya bisa menikah dengannya.


Leo benar-benar sudah tidak sabar lagi ingin segera hidup bersama dengan Tia. Tetapi Tia seolah mengulur waktunya saja.


"Tia sayang, mulai sekarang kamu nggak usah bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah ini lagi. Bukannya asisten rumah tangga Dita juga masih ada di rumah ini kan? biar ia dan yang mengerjakan semua urusan rumah."


"Tia sayang, kenapa juga kamu tidak mengatakan sekarang saja semua syarat untukku bisa menikahimu?


padahal aku sudah tidak sabar lagi ingin segera bersanding dengan dirimu."


Tetapi Tia tetap pada pendiriannya, dia tidak akan mengatakan persyaratan tersebut pada Leo. Sebelum ia melihat dengan mata kepalanya sendiri surat cerai Leo dengan Dita. Ia masih ragu. Ia sengaja seperti itu supaya Leo benar-benar mengurus secepatnya surat cerai dirinya dengan Dita.


*******


Sementara kabar keluarnya Dita dari rumah mewah Leo juga terdengar di telinga Renata dan Mamah leka. Karena Tia selalu saja memberi tahu jikaada kabar baru di rumah Leo.


Mamah Leka hanya tersenyum," Renata, biarkan saja itu menjadi urusan mereka. Walaupun kamu juga merupakan salah satu korban dari Leo. Tapi mamah harap kamu benar-benar tidak turut campur dengan ajang balas dendam yang sedang Syntia lakukan saat ini. Ingat selalu pesan mamah ya."


Renata pun terkikik, karena Mamah Leka begitu sangat serius, ketakutan jika dirinya akan turut serta membalas dendam pada Leo.


"Mah, harus berapa kali aku menyakinkan mamah jika aku tidak akan turut campur dalam aksi ajang bala dendam yang sedang dilakukan oleh Syntia saat ini? Ku hanya fokus dengan diriku sendiri. Dengan kehidupan baruku ini," ucap Renata.


Mamah Leka sangat senang, tetapi juga sedih karena Renata terlalu menutup dirinya untuk pria yang mendekatinya. Padahal impian Malah Leka hanya satu yakni ingin melihat Renata bersanding dengan seorang pria yang bertanggung jawab dan setia.

__ADS_1


Selagi mereka sedang bercengkrama, datanglah Hans. Ia sengaja sering datang karena untuk pendekatan dengan Keluarga Renata. Bukan hanya dengan Renata saja.


"Hans, duduklah. Kok baru main kemari sih, darimana saja?" tanya Mamah Leka.


Satu Minggu, Hans tidak menyambangi rumah Renata karena ia ada urusan pekerjaan di luar kota. Hingga baru hari ini ia bisa kembali datang ke rumah Renata.


Mereka sudah akrab saja seperti layaknya seorang anak dan ibunya. Bahkan kerap kali Renata hanya diam melihat Mamah Leka dan Hans bercengkrama.


"Renata, temani Hans ngobrol. Masa iya s mamah yang selalu ngobrol panjang lebar dengannya."


Mamah Leka bangkit dari duduknya dan ia segera berlalu pergi dari hadapan Hans dan Renata.


Jika sudah berdua saja, justru lidah Hans terasa kelu. Ia ingin sekali Berkata panjang lebar seperti pada saat bersama dengan Mamah Leka. Tetapi jika dihadapan Renata, ia tidak bisa berkata apa-apa. Hal ini tentu saja membuat Renata heran.


"Hans, ada apa dengan dirimu? kok kamu terlihat seperti ini? tadi dengan Mamah kamu bisa berkata banyak hal. Sekarang denganku, kamu malah tidak bisa mengatakan apapun?"


Satu teguran dari Renata mengagetkan Hans, sejenak ia tergagap," a-a-anu Renata hhehehe..."


"Anu apa? kok begitu sih jawabnya? apa aku panggil saja mamah ya, biar kamu asik ngobrol dengannya. Padahal dulu kamu nggak seperti ini loh, Hans," ucap Renata mulai merasakan ada yang berbeda dengan Hans.


Memang dulu ia masih bisa menahan getaran cintanya pada Renata. Tetapi tidak dengan saat ini. Setiap ia berdua saja dengan Renata, selalu saja ingin mengungkapkan semua rasa yang telah lama terpendam tetapi ia ragu dan khawatir. Ia belum siap jika mendapatkan penolakan dari Renata.


"Hans, bersikaplah biasa saja seperti pada saat dulu kita bersahabat. Nggak usah gugup atau salah tingkah seperti ini. Lagi pula aku tidak akan menerkam dirimu kok," canda Renata terkekeh.

__ADS_1


Renata sengaja menggoda Hans supaya suasana tidak terlalu kaku. Sontak saja Hans tersenyum.


"Renata, aku justru ingin diterkam oleh dirimu. Silahkan terkam aku dengan cintamu dan peluk diri ini erat biar tidak ada lagi beban di pikiranku. Beban karena aku tidak bisa mengungkapkan rasa cintaku padamu. Semoga saat kelak aku bisa mengungkapkannya dan semoga saja kamu juga tidak menolak rasa cinta ini," batin Hans.


__ADS_2