Suamiku Masih Mencintai Mantan Istrinya

Suamiku Masih Mencintai Mantan Istrinya
Usaha Bunuh Diri


__ADS_3

Dita terus menajamkan pendengarannya di balik pintu kamar, Leo.


"Ahhhh.... mas... pelan-pelan jangan terlalu kencang goyangnya. Ingat loh, ada calon anak kita."


"Ahhhh.....iya sayang... tenang saja. Aku pelan banget loh goyangannya. Ahhhh ... nikmat sekali sayang....kue apemmu..."


"Aah...... rudal mas juga selalu membuatku ketagihan..."


Keduanya saling meracau, dan hal ini membuat Dita yang sedang menajamkan pendengarannya di balik pintu kamar tersebut, terbakar api cemburu.


"Aku tidak akan membiarkan mereka bahagia di atas deritaku!"


Saat itu juga, Dita mengetuk pintu kamar Leo dengan sangat keras.


Tok tok tok tok tok tok!


"Mas, siapa itu kok mengetuk pintu kaya maling? apa mungkin si kembar sudah pulang sekolah?" tanya Renata.


"Ah.. biarkan saja, tanggung sayang... sebentar lagi mau keluar," bisik Leo dengan sangat menikmati penyatuan tubuh tersebut.


"Ih! kok nggak di buka-buka sih!"


Kembali lagi Dita mengetuk pintu kamar tersebut dengan keras.


Hingga pada akhirnya, Leo yang sedang tanggung turun sejenak dari atas tubuh Renata," sebentar ya sayang. Terpaksa kita hentikan dulu, penasaran juga siapa yang mengetuk pintu begitu kencang nya."


Leo segera memakai handuk piyama, dan sedikit membuka pintu kamarnya," Dita, ada apa sih?"


"Mas, lama amat sih? dari tadi aku ketuk-ketuk kok nggak di buka juga sih?" oceh Dita.


"Aku sedang tanggung main dengan Renata, kamunya saja yang nggak tahu sopan santun mengetuk pintu kamar. Apakah sudah siap untuk pulang?" ucap Leo kesal.


"Hah, pulang? siapa pula yang mau pulang? bukannya kamu mengizinkanku untuk tinggal di rumah ini beberapa hari lagi?" ucap Dita.


"Jangan asal bicara kamu ya, aku tidak pernah mengatakan hal itu. Justru pada saat kamu di minta mengemasi semua pakaianmu, malah berdiri saja. Hingga pada akhirnya ya terpaksa aku meminta bibi untuk mengemasi semua pakaianmu. Sudah nggak usah ganggu! sepuluh menit lagi, aku akan keluar dari kamar untuk mengantarmu pulang!"


BRAG!


Leo sengaja membanting pintu kamarnya pada saat dia menutupnya, hingga membuat Dita terlonjak kaget.

__ADS_1


"Siapa mas, kok kamu terlihat marah seperti itu?" tanya Renata di balik selimutnya.


"Dita, kaya gini burungku jadi tidur lagi. Bagaimana ini, sayang?"


"Lanjut nanti malam saja, sebaiknya kita antar Dita pulang dulu sebelum si kembar pulang. Jangan sampai ada drama lagi, mas."


Dengan sangat malas, akhirnya Leo membersihkan dirinya sejenak setelah itu mengenakan pakaiannya. Dia terus saja murung, karena hasratnya belum tuntas.


Renata juga membersihkan badan sejenak, setelah itu mereka berdua keluar dari kamar secara bersamaan.


Sementara Dita terus saja mencari akal, supaya dirinya tidak keluar dari rumah mewah milik Leo," aku tidak akan mundur, masih banyak seribu cara supaya aku bisa tetap tinggal di rumah ini!" batin Dita tiba-tiba senyam senyum sendiri. Entah apa yang sedang di rencanakannya saat itu.


Pada saat Dita sampai di kamarnya, dia melempar semua barang-barang yang terbuat dari keramik ke dasar lantai kamar.


PYANG! PYANG!


Terdengar benda-benda pecah dari arah kamar Dita.


"Non Dita, apa yang non lakukan? istighfar, non! jangan berbuat nekad!"


"Awas kamu, nggak usah ikut campur! lepas!"


"Mas, ada apa ya di kamar Dita?"


"Entahlah, sebaiknya kita cepat kesana. Sepertinya Dita ingin melakukan hal buruk."


Leo dan Renata mempercepat langkah kaki mereka menuju ke kamar Dita. Karena mereka penasaran dengan teriakan perdebatan antara bibi dan Dita. Mereka penasaran dengan apa yang sedang di lakukan oleh, Dita.


"Non-Non Dita, bangun Non! Den Leo-Non Renata, cepat kemari!" teriak sang bibi ketakutan.


"Ya Allah, apa yang telah Dita lakukan?" batin Leo mulai panik."


Leo sangat panik pada saat melihat salah satu pergelangan tangan Dita bersimbah darah," astagaa...Dita!"


Leo lekas menggendong tubuhnya yang tak berdaya di lantai kamar, dan segera melangkah cepat ke arah mobilnya. Ia pun meminta salah satu sopir pribadinya mengantarnya ke rumah sakit terdekat.


Karena rasa panik, Leo bahkan melupakan keberadaan Renata yang masih ada di dalam kamar Dita. Tetapi Renata mencoba untuk tidak berpikiran negatif, karena ia ingat akan kehamilannya. Ia penasaran dengan apa yang telah terjadi, hingga ia bertanya kepada bibi.


"Bi, sebenarnya apa yang telah terjadi pada Dita hingga dia terluka?"

__ADS_1


Sang bibi sempat gemetaran karena panik dan takut pada saat mengingat yang telah terjadi," anu, Non Renata. Si Dita itu tetap kukuh nggak mau pergi dari sini, padahal saya sudah selesai membantunya berkemas. Dan dia marah-marah gitu dech Intinya. Terus tiba-tiba dia mengamuk memecahkan semua barang-barang yang ada di dalam kamar. Dan pada saat dia meraih pecahan beling, saya mencoba menahannya tapi gagal. Dia berhasil menggoreskannya ke pergelangan tangannya."


"Astaghfirullah aladzim, ternyata sifat Dita sangat keras kepala," ucapnya tanpa sadar."


Bibi pun yang memang sudah lama bekerja di rumah Leo, sejenak menceritakan segala tabiat buruk Dita. Karena dia sudah hapal sekali dengan sikap, Dita. Bahkan bibi juga bercerita bahwa dulu selama Leo berumah tangga dengan, Dita tidak pernah akur. Sering saja cekcok.


Sementara saat ini Leo sudah sampai di rumah sakit terdekat. Dimana ada beberapa dokter yang bertugas di rumah sakit tersebut adalah sahabatnya. Hingga pada saat melihat Leo datang, salah satu dokter yang kebetulan melintas segera mendekat," ada apa dengan mantan istrimu, Leo?"


Dokter tersebut segera memanggil beberapa perawat untuk menantu Leo membawa Dita ke ruang penanganan.


"Biasa, mungkin dia ingin bunuh diri," ucap Leo kesal.


"Lah kok bisa begitu?" tanya Dokter Irwan.


Leo sejenak menceritakan tentang apa yang sebenarnya telah terjadi di rumah. Hingga Irwan turut penasaran dengan kebenarannya, apakah memang Dita memiliki penyakit serius atau tidak.


Tanpa sepengetahuan Leo, Dokter Irwan mengecek sampel darah Dita.


"Aku ingin tahu dan sangat penasaran dengan kasus Dita ini. Sepertinya ada yang janggal disini. Aku akan memberi tahu pada Leo nanti, jika hasil laboratorium telah keluar. Paling besok pagi," batin Dokter Irwan.


Karena dia juga tahu betul, bagaimana kisah kehidupan rumah tangga Leo dan Dita. Hingga tanpa sepengetahuan Leo, Dokter Irwan mengambil sampel darah Dita untuk di cek di laboratorium.


Tak berapa lama.....


Dita pun telah sadar, dan kondisinya saat ini baik-baik saja. Salah satu pergelangan tangannya telah di  balut perban.


"Mau sampai kapan, kamu bertindak seperti ini hah? seperti anak kecil saja!" umpat Leo kesal.


"Mas, seharusnya tak usah membawaku kemari. Biarkan saja aku mati, lagi pula aku juga sudah tidak semangat hidup toh beberapa bulan lagi aku pasti mati juga karena penyakitku bukan?" ucap lirih Dita.


Leo sangat kesal, tetapi dia tidak tega juga menatap Dita yang saat ini sedang tergolek tak berdaya. Selagi diam, ponsel Leo berdering dan ia sejenak menjauh dari Dita.


Sementara Dita mulai bergumam," pasti Renata yang menelpon, menyebalkan sekali!"


📱"Mas, bagaimana kondisi Dita?"


📱"Dia sudah sadarkan diri, dan kondisinya baik-baik saja. Sayang, aku minta maaf ya. Sampai lupa mengajakmu kemari."


📱" Nggak apa-apa, mas. Tinggal katakan saja dimana ruang rawatnya, nanti aku menyusul dengan bibi."

__ADS_1


📱"Baiklah, sayang."


__ADS_2