Suamiku Masih Mencintai Mantan Istrinya

Suamiku Masih Mencintai Mantan Istrinya
Sebuah Keputusan


__ADS_3

"Renata, nggak usah banyak berkata lagi karena itu percuma saja. Mata hati suamimu itu sudah tertutup dan sudah di butakan oleh segala tipu daya mantan istrinya. Suamimu itu berpendidikan tinggi, tetapi dia itu bodoh karena tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Kelak suatu saat nanti kebenaran akan terbongkar. Leo akan paham watak asli mantan istrinya itu."


Mendengar perkataan dari Mamah Leka, Leo mengepalkan tinjunya, tetapi dia mencoba menahan amarahnya. Dia tidak ingin Renata pergi begitu saja.


"Baiklah, aku sudah ambil keputusan."


'Wah, pasti Mas Leo akan membiarkan Renata pergi," batin Dita sumringah.


"Katakan cepat, nggak usah pake acara di jeda kata-katamu itu!" ucap Rencana kesal.


"Dita, aku minta maaf ya. Sebaiknya sekarang juga kamu kemasi semua pakaianmu, dan aku akan antar kamu pulang. Dan kamu sayang, nggak usah pergi karena aku tak ingin kamu jauh dariku. Nanti temani aku antar Dita ke rumahnya ya?"


Keputusan tersebut sontak saja membuat Dita kesal," mas, kamu tega padaku? apa kamu lupa dengan janjimu untuk mengizinkanku tinggal di sini untuk beberapa bulan? aku ini sedang sakit loh, mas? apa kamu tega sih, membiarkan aku tinggal di rumah sendirian? jika terjadi apa-apa denganku bagaimana?"


Renata tersenyum sinis," Dita, kamu ingin sekali sakit rupanya ya? nanti Allah turunkan penyakit parah padamu, baru kamu menyesal. Di saat sehat mengatakan hal buruk mengenai diri sendiri seperti ini."


"Apa di otakmu ini hanya ada satu lelaki saja. Bahkan kamu mengemis meminta belas kasihan seperti ini pada mantan suamimu. Apa kamu nggak malu. Di dunia ini banyak lelaki lajang, kenapa juga kamu memohon minta belas kasihan pada suami orang?"


"Pergi dari rumah ini dan temui lelaki lain dan mengemislah meminta belas kasihan mereka. Dasar wanita tidak punya sopan santun dan sudah hilang harga diri!"


Dita tidak peduli dengan perkataan hinaan yang terlontar dari mulut Renata, dia malah bersimpuh di kaki Leo," mas Leo, aku mohon jangan usir aku seperti ini. Biarkan aku tinggal di sini untuk beberapa hari lagi ya, aku mohon. Setelah itu aku akan benar-benar pergi dari rumah ini."


Leo sejenak diam, di dalam hatinya mulai dilema lagi. Hal ini membuat Renata sangat geram," mas, nggak usah banyak berpikir! masa iya seorang lelaki tidak bisa bersikap tegas. Dan aku tidak ingin kamu menjilat ludahmu sendiri. Dengan mengizinkan Dita tetap tinggal disini, walaupun dia beralasan untuk beberapa hari saja, aku tetap tidak sudi jika tinggal satu atap dengan mantan istrimu!"


Dita tiba-tiba mendekati Renata, ia kini bersimpuh di kakinya," Renata, aku mohon kamu jangan memusuhiku. Karena selama ini aku juga tidak pernah menganggapmu itu musuh. Biarkan aku di sini untuk beberapa hari saja ya, please aku mohon....


"Sekali nggak ya tetap nggak!" ucap tegas Renata.


"Mas, aku pamit ya. Aku sudah lelah terlalu banyak drama hari ini. Aku nggak ingin menunggu terlalu lama untuk hal yang tidak pasti dari seorang suami yang tidak bisa mengambil suatu keputusan yang tepat dan tegas!"

__ADS_1


Renata melangkah menyeret kopernya keluar dari kamarnya, di ikuti oleh Mamah Leka. Sementara Leo hanya diam saja, dia masih saja dilema dengan apa yang harus di putuskannya. Dan tiba-tiba dia tersadar juga dari lamunannya.


Dia terhenyak kaget pada saat melihat Renata sudah tidak ada di kamar. Secepat kilat dia berlari ke arah pelataran rumah, dan pada saat Renata akan masuk ke dalam mobil Mamah Leka, Leo memanggil.


'Renata, tunggu!"


Renata menahan tangan kanannya yang sudah ada di pintu mobil, ia pun menoleh ke arah Leo yang sedang berlari ke arahnya," ada apa lagi sih, mas? aku nggak mau ada perdebatan lagi diantara kita. Aku benar-benar sudah lelah, sakit banget kepalaku."


"Sayang, aku nggak ingin kamu pergi, tetaplah tinggal di rumah ini ya sayang, aku mohon padamu. Nanti kita bersama-sama antar Dita pulang ke rumahnya. Aku ingin merasakan menjadi seorang suami siaga bagimu dan bagi calon anak kita."


Leo menggenggam kedua tangan Renata seraya sesekali memegang perutnya dan ia juga mencium punggung tangan Renata.


Pemandangan ini sempat di lihat oleh, Dita. Ia begitu terbakar api cemburu," iihhhh..... seharusnya aku yang ada di posisi itu, bukan Renata! aku pikir usahaku telah berhasil, tetapi malah Mas Leo masih saja peduli pada, Renata!"


Terus saja Dita bergumam kesal.


"Iya nak, nggak apa-apa. Tetapi kamu harus bisa jaga dirimu baik-baik ya, ingat selalu pesan dan nasehat dari dokter. Dan kamu Leo, awas ya jika masih bersikap kekanak-kanakan dan tak bisa mengambil keputusan yang tegas! kali ini mamah masih percaya padamu untuk menjaga, Renata. Tetapi jika suatu saat nanti kamu membuat kecewa, mamah tidak akan tinggal diam!" ancam Mamah Leka pada, Leo.


"Siap, mah. Aku tidak akan lagi berjanji, tetapi akan aku buktikan dengan tingkah laku dan perhatianku pada, Renata," ucap Leo meyakinkan mamah mertuanya.


"Ya sudah, mamah pulang ya."


"Hati-hati mah."


Serentak Leo dan Renata berkata.


Leo merangkul Renata dan satu tangannya menyeret koper milik istrinya. Sementara Dita mencoba pasang wajah manis di hadapan mereka," Alhamdulillah, akhirnya kamu berubah pikiran untuk tidak pergi dari rumah ini. Aku ikut senang melihat kalian akur kembali."


"Nggak usah basa-basi lagi, sebaiknya sekarang juga kamu kemasi semua pakaianmu. Karena kita akan mengantar mu pulang," ucap Renata ketus menatap ke arah Dita.

__ADS_1


"Kamu nggak usah seenaknya begitu ya, di sini yang berhak menentukan aku pergi atau tidaknya itu, Mas Leo bukan kamu. Karena rumah ini rumah Mas Leo, bukan rumahmu jadi jangan seenaknya kamu mengusir diriku," ucap Dita.


"Dita, apa yang dikatakan oleh Renata benar kok. Lagi pula dia kan Istriku, jadi sudah sepantasnya dia itu berhak menentukan siapa saja yang berhak tinggal di rumah ini. Dan ini juga rumah Renata juga."


Ucapan dari Leo benar-benar membuat Dita kecewa, dia sudah tidak bisa membujuk Leo lagi. Hanya bisa menitikkan air mata buayanya," kamu benar-benar tega padaku, mas? akan membiarkanku tinggal di rumah sendirian? lantas jika terjadi hal buruk padaku bagaimana?"


"Tidak akan terjadi apa-apa padamu, aku sangat yakin itu," ucap Leo.


Namun Dita tidak juga melangkah ke kamarnya, dia malah masih tetap diam berdiri di tempat.


"Dita, lekas kamu kemasi pakaianmu sekarang juga! malah bengong, nangis pula. Padahal kan aku nggak kasar sa kamu!" tegur Leo.


Dita kembali merengek membujuk Leo, hingga Leo pun jengah dan marah. Dia pun meminta sang bibi untuk mengemas paksa semua pakaian milik, Dita. Hal ini membuat Dita marah pada sang bibi.


"Heh, apa-apaan ini! hust...hust..


Pergi sana! seenaknya saja kamu menyentuh semua pakaian mahalku ini!" bentak Dita.


Tetapi sang bibi tidak mengatakan apapun, dia terus saja mengemasi semua pakaian Dita ke dalam kopernya tanpa menghiraukan ocehannya.


"Heh, kamu tuli ya? sudah aku katakan jangan sentuh semua pakaian mahalku dengan tangan kotormu itu!" bentak Dita lagi.


Barulah bibi menghentikan pekerjaannya," tanganku ini nggak kotor, lihatlah bersih. Yang kotor itu mulutmu, yang tak bisa mengatakan hal baik." Bibi mencibir seraya menunjukkan kedua tangannya di hadapan muka, Dita.


Dita semakin kesal mendapatkan perlakuan tersebut," awas saja ya, aku adukan hal ini pada, Mas Leo. Baru kamu di pecat!"


Akan tetapi Bibi justru tersenyum mengejek. Dan hal ini membuat Dita semakin naik pitam, ia pun melangkah pergi dengan tujuan ke kamar Leo.


Tetapi ia semakin kesal pada saat mendengar suara des*han Leo dan Renata.

__ADS_1


__ADS_2