
Hanya beberapa jam saja...
Renata dan Mamah Leka telah sampai di sebuah rumah yang tidak cukup mewah, tetapi rapi dan indah. Rumah persinggahan keluarga Renata, pada saat almarhum papahnya dulu masih hidup.
Jika mereka akan bertamasya ke kota tersebut, selalu tinggal di rumah itu.
Esok harinya...
Leo memutuskan untuk mengajak si kembar guna menemui Renata, karena Resti terus saja memanggil nama Renata.
Tetapi Leo begitu kecewa karena pada saat sampai di rumah Renata, tidak ada istrinya dan mamah mertuanya.
"Pak, masa iya bapak tidak tahu kemana perginya istri dan mertua saya? tolong beritahu tahu, pak. Karena anak saya ingin bertemu dengan ibunya. Nanti saya akan memberikan imbalan pada, bapak."
Leo mencoba membujuk dan merayu security rumah tersebut untuk memberi tahu tentang keberadaan Renata saat ini. Tetapi security ini tidak mata duitan, hingga ia menolak mentah-mentah uang tersebut.
"Bagaimana ini, kok mendadak Renata pergi ya? apakah dia pergi hanya sebentar saja ya? baiklah, besok aku akan datang kemari lagi. Dan aku yakin, besok pasti akan bertemu dengan Renata.
Leo pun dengan sangat halus memberikan pengertian pada Resti, bahwa saat ini Renata sedang pergi. Dan ia berjanji pada Resti, esok akan mengajaknya kembali lagi untuk menemui Renata.
"Renata, sebenarnya kamu saat ini ada dimana si ? kenapa juga tiba-tiba menghilang begitu saja? masa iya kamu begitu marahnya padaku?"
Terus saja Leo bergumam di dalam hatinya, seraya sesekali memukul-mukul kemudinya.
Sesampainya di rumah, barulah ia menelpon Renata untuk mengetahui keberadaannya saat ini.
__ADS_1
"Ada apa lagi kamu menelponku, mas?"
"Aku barusan dari rumahmu, tetapi tidak ada dirimu. Tolong beritahu aku di mana saat ini kamu tinggal?"
"Untuk apa, mas? itu tidak penting bagimu."
"Untuk aku bisa meminta maaf padamu dan untuk bertemu denganmu."
" Nggak perlu minta maaf, mas. Bukannya kamu itu merasa selalu benar bukan?"
Setelah itu Renata kembali mematikan panggilan telepon dari Leo. Hal ini membuat Leo semakin tidak menentu.
"Aduh, jika seperti ini bagaimana aku harus mengatakan pada Resti? aku tidak boleh menyerah, aku harus terus membujuknya untuk bisa kembali lagi ke rumah ini. Apalagi saat ini dia sedang hamil anakku, pasti dia mau kembali."
Leo pun memutuskan untuk mengirimkan beberapa chat pesan pada nomor ponsel, Renata.
Renata membacanya dan segera membalas chat pesan tersebut.
[Bukan demi anak yang sedang aku kandung, tapi demi anakmu bersama dengan Dita. Kamu tidak pernah peduli dengan anak yang aku kandung. Bahkan selama aku hamil dan ngidam, pernah kamu perhatian? selalu saja marah-marah padaku. Bahkan di saat aku tinggal di rumah mamah selama satu bulan, aku selalu menanti kedatanganmu. Tetapi kamu sama sekali tidak pernah datang atau bahkan menanyakan bagaimana kabarku dan anak yang ada di dalam kandunganku? kamu egois, mas. Hanya datang di saat butuh aku saja. Bukankah ada Dita, ibu kandung si kembar. Suruh saja dia yang mengurus si kembar.]
Chat balasan yang begitu panjangnya di baca oleh Leo. Dia pun sejenak diam dan merenung. Dia ingat bagaimana perlakuannya pada Renata di saat Resti di culik. Dia sangat menyesali perbuatannya tersebut.
"Astaghfirullah aladzim, apa yang telah aku lakukan selama ini pada istriku yang tengah hamil anakku? aku tidak memperlakukannya dengan baik padanya. Bahkan aku selalu saja menekan dirinya dengan menyalahkannya atas hilangnya, Resti."
"Ya Allah, aku memang bersalah besar padanya. Tidak percaya dengan segala yang dia katakan. Bodohnya aku yang telah menyia-nyiakan istri sebaik dan sesetia Renata."
__ADS_1
Terus saja Leo merutuki tindakan sendiri yang memang menyakiti hati Renata. Kini dia tidak tahu lagi, harus membujuk Renata seperti apa lagi supaya bersedia kembali ke rumah.
Sementara saat ini Renata juga sedang melamun sendiri. Mamah Leka pun tidak ingin melihat kesedihan di wajah anaknya tersebut.
"Nak, ikuti saja kata hatimu. Jika memang kamu ingin kembali ke rumah Leo, mamah tidak akan melarang mu. Dari pada kamu murung terus seperti ini. Kasihan juga bukan, anak yang ada di dalam kandunganmu?"
Namun Renata tersenyum, dan ia mengatakan bahwa dirinya tidak ingin kembali ke rumah Leo. Dia sudah benar-benar tidak bisa mentolerir sikap dan perilaku Leo padanya.
"Nggak mah, aku tidak akan kembali lagi ke rumah itu. Dimana aku tidak pernah di anggap sebagai seorang istri. Aku hanya di anggap sebagai seorang baby sitter saja. Karena segala yang aku katakan tidak pernah di hargai sama sekali. Ia hanya mendengar apa yang di katakan oleh Dita saja."
"Aku masih ingin betul bagaimana sikap dan perilakunya padaku saat itu, mah. Rasa sakit yang aku pendam selama ini begitu menyesakkan dada."
"Dia bahkan tidak peduli dengan anak yang sedang aku kandung. Yang dia pikirkan hanyalah si kembar saja."
"Dia menginginkanku kembali juga bukan karena dia rindu padaku dan anak yang sedang aku kandung. Tetapi karena Resti menanyakan tentang diriku."
Mamah Leka juga bisa merasakan kekecewaan dan kepedihan yang saat ini sedang di rasakan oleh, Renata.
"Lantas, bagaimana dengan kelanjutan rumah tanggamu? apakah kamu sudah siap jika anakmu kelak tidak memiliki seorang ayah?"
Renata diam, dia tidak bisa menjawab apa yang di tanyakan oleh, Mamah Leka.
"Renata, pikirkan baik-baik tindakanmu. Jangan dengan amarah di saat dirimu memutuskan sesuatu yang penting untuk rumah tanggamu."
Di dalam hati Renata sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan rumah tangganya dengan Leo. Ia akan mengurus perceraiannya setelah kelak melahirkan.
__ADS_1
Dia sudah merasa lelah dan cape, dengan segala permasalahan yang ada di dalam rumah tangganya. Dia merasa sudah tidak ada lagi harapan untuk bisa memperbaiki rumah tangga yang baru seumur jagung.
Leo terus saj membela mantan istrinya, hingga membuat Renata memutuskan untuk mundur.