
Sejenak Leo mematikan panggilan telepon tersebut, dia pun mengetik sebuah chat pesan dan mengirimkan pada nomor ponsel, Renata.
Sejenak Renata ingat sesuatu, dia pun segera menelpon, Dokter Irwan tanpa sepengetahuan Leo.
📱"Hay, Dokter Irwan. Maaf saya menggangu sejenak ya?"
📱" Ya, nggak apa-apa. Ada apa ya Renata?"
📱"Dok, jujur saja saya sedang curiga pada Dita. Tentang pengakuannya beberapa waktu lalu jika ia memiliki suatu penyakit serius. Dan ia meminta tinggal di rumah bersama kami, di masa-masa sisa umurnya. Saya ingin meminta tolong supaya Dokter mengecek kesehatannya mumpung saat ini dia ada di rumah sakit, karena barusan saya tahu dari Mas Leo, jika anda yang menangani Dita. Saya penasaran apakah memang benar di dalam tubuh Dita ada suatu penyakit serius? karena saya rasa, Dita berbohong."
📱" Kamu nggak usah khawatir Renata, saya sudah mengecek sampel darahnya. Tetapi hasilnya tidak bisa langsung keluar, paling besok pagi. Kamu bisa ambil saja besok pagi di laboratorium rumah sakit ya."
📱"Baiklah, dok. Tapi bagaimana juga dokter tiba-tiba mengecek sampel darah, Dita?"
Sejenak Dokter Irwan mengatakan pada Renata, jika dirinya juga sempat curiga dengan kebenaran penyakit Dita. Setelah ia mendengarkan cerita dari, Leo.
Setelah cukup lama bercengkrama dengan, Dokter Irwan. Renata mematikan panggilan telepon dan ia lekas mengajak bibi ke rumah sakit.
"Alhamdulillah, ternyata Dokter Irwan sudah mengecek sampel darah Dita. Besok kebenaran pasti akan terungkap, apakah memang benar jika Dita sakit parah, atau semua itu hanya tipu dayanya saja supaya bisa tinggal di rumah bersama kami," batin Renata.
Saat itu juga Renata dan Bibi menyambangi rumah sakit dimana Leo membawa Dita. Hanya beberapa menit saja mereka telah sampai. Dita sangat kesal melihat kedatangan, Renata.
Kring kring kring kring kring
Ada satu panggilan telepon masuk ke dalam ponsel Leo.
"Sayang, aku keluar sebentar ya. Ada salah satu klien di kantor menelpon. Tolong temani Dita sejenak."
Leo berlalu pergi keluar dari ruang rawat tersebut untuk menerima telepon dari salah satu klien bisnisnya. Sementara bibi dan Renata kini berdiri tepat di samping brankar dimana Dita berbaring.
Sejenak Dita dan Renata saling berpandangan tanpa berkedip. Tatapan kebencian terlihat sangat jelas di mata, Dita.
__ADS_1
"Esok lusa, tipu daya apa lagi yang ingin kamu lakukan untuk menarik simpatik, Mas Leo?" tanya Renata pandangan tajam ke arah Dita.
"Renata, kenapa kamu kejam sekali kepadaku? tidak ada rasa iba sedikitpun padahal kondisiku seperti ini?" ucap lirih Dita.
"Kondisi kamu seperti itu kan karena perbuatanmu sendiri, kenapa aku harus merasa iba? justru aku iba terhadap si kembar yang memiliki ibu kandung tabiatnya sangat buruk sepertimu. Kamu rela menyakiti dirimu sendiri supaya bisa lebih lama lagi tinggal bersama, Mas Leo bukan?" sindir Renata.
Sejenak Dita terdiam, tiba-tiba dia berakting karena melihat diam-diam Leo sedang melangkah mendekati mereka, akan tetapi Renata tidak mengetahuinya.
"Renata, kenapa sih kamu kejam sekali padaku dengan mendoakanku untuk lepas mati? kamu sengaja membuatku tertekan hingga melakukan percobaan bunuh diri."
"Kamu paling bisa ya, Renata membuat hatiku hancur berkeping-keping dan tidak bersemangat hidup dengan segala perkataan pedasmu itu."
"Kamu kecewa, karena usaha bunuh diriku gagal hingga kamu mengatakan banyak hal padaku supaya aku down dan terus menyalahkan diriku sendiri. Dan aku melakukan hal yang lebih fatal lagi dari ini?"
Perlahan air mata buaya Dita mulai keluar, Leo segera melangkah cepat pada saat mendengar isak tangisnya," Renata, apa yang telah kamu lakukan pada Dita?"
"Hah, aku tidak melakukan apapun mas. Tiba-tiba dia mengatakan banyak hal seperti itu. Jika tidak percaya tanya saja pada, bibi."
"Ya, Den Leo. Non Renata tidak mengatakan apapun kok. Sejak tadi kami diam saja," Bibi ikut berkata.
"Diam kamu, bi! siapa juga yang menyuruhmu untuk berkata, hah? lancang sekali, keluarlah dari sini karena aku akan berbicara dengan Renata dan Dita saja!" bentak Leo.
Dengan wajah menunduk, bibi melangkah pergi dari ruang rawat tersebut. Hal ini membuat Renata tidak buat menahan rasa kesalnya lagi," mas, kenapa kamu menyalahkan bibi? apa yang dia katakan memang benar. Aku sama sekali tidak mengatakan apapun pada, Dita. Apa kamu juga tidak percaya padaku dan lebih percaya padanya!" tunjuk kasar Renata ke arah Dita.
"Bukan begitu, sayang. Kamu lihat sendiri bukan, bagaimana kondisinya saat ini? tolong jangan berdebat dulu ya?" pinta Leo lirih.
Renata sejenak menghela napas panjang, di dalam hatinya mencoba untuk bersikap tenang karena teringat akan kehamilannya.
"Astaghfirullah aladzim, ya Allah. Berikan hamba kesabaran dalam mengahadapi permasalahan rumah tangga yang di karenakan hadirnya kembali mantan istri, Mas Leo," batinnya.
Leo pun menasehati Dita," Dita, kenapa sifatmu belum juga berubah? sikap buruk yang sering kamu lakukan pada saat kita masih bersama? seharusnya kamu itu bisa koreksi diri dan menata diri untuk bisa menjadi lebih baik. Bukan malah seperti ini?"
__ADS_1
"Mas, aku seperti ini juga karena istrimu itu. Dia mengatakan hal yang membuatku sangat terpukul."
Dita mulai menghasut Leo, tetapi Renata tidak mau tinggal diam.
Dia pun membela diri," memangnya kapan aku menemuimu untuk mengatakan hal yang membuatmu terpukul? kalau mau berbohong itu di atur dan di tata yang benar dulu. Apa kamu lupa, seharian aku selalu bersama dengan, Mas Leo. Tidak mendekatimu sama sekali. Dan seharian, Mas Leo kan di rumah."
GLEG!"
Dita menelan salivanya.
"Astagaaa... bodohnya aku. Apa yang di katakan Renata memang benar adanya, jika seperti ini aku menjatuhkan diriku sendiri di hadapan, Mas Leo," batin Dita mulai panik.
"Dita, kenapa sih? kamu ingin sekali menjatuhkan Renata? apa yang ia katakan memang benar, seharian ia bersamaku dan tak mendekatimu sama sekali," tegur Leo.
Dita diam, lidahnya seraya tercekat. Hal ini pun di ketahui oleh Renata.
"Mas, kamu ini begitu polosnya atau begitu bodohnya? jelas saja dia ingin menjatuhkanku karena ia ingin kembali di sampingmu," sindir Renata menatap sinis ke arah Dita.
"Sudahlah, aku lelah dengan semua ini. Nanti aku akan meminta salah satu perawat khusus untuk selalu menjagamu, Dita. Karena aku tidak ada waktu berlama-lama tinggal di rumah sakit ini. Untuk biaya, kamu nggak usah khawatir, karena sudah aku atur semuanya."
"Memang lebih baik, kamu istirahat di rumah sakit saja. Yuk sayang, kita pulang karena aku masih banyak urusan."
Leo merangkul Renata melangkah pergi dari ruangan tersebut, hal ini membuat Dita sangat kesal.
"Sialan, tega banget sih kamu, mas? masa iya tidak bersedia menjagaku disini. Malah aku di tinggal sendiri!"
"Aku pikir, dengan cara pencobaan bunuh diri. Aku akan bisa mengendalikan, Mas Leo. Ternyata aku salah."
"Dia tidak iba padaku sama sekali, itu semua karena ucapan dari Renata. Jika seperti ini terus, usahaku tidak akan berhasil untuk bisa kembali di sisi, Mas Leo!"
Terus saja Dita mengumpat di dalam hatinya. Dia sangat marah karena usahanya gagal lagi.
__ADS_1
Padahal dia sempat membayangkan jika akan di temani dan di manja oleh, Leo selama dirinya terbaring lemah tak berdaya