Suamiku Tajir Melintir

Suamiku Tajir Melintir
Cokelat


__ADS_3

"Ini bel tadi di jalan aku ngeliat cokelat jadi teringat muka kamu." Kata tiara dengan apa adanya tanpa ia lebih-lebihkan pastinya.


"Ah kamu sweet sekali." Balas andin yang langsung mencubit kedua pipi tiara dengan gemas nya.


Andin yang tidak sadar akan perbuatan nya itu membuat pipi tiara menjadi merah sangkin bahagia nya ia di berikan cokelat.


Bukannya tidak mampu membeli cokelat itu sendiri tapi kalau dikasih orang lain itu rasanya sedikit berbeda daripada kita membeli sendiri.


Ada kebahagian tersendiri di dalam hati kita kalau orang lain memberi apapun jenisnya yang memang kita sukai dan senangi itu.


"Kamu mah kebiasaan mana sakit banget lagi rasanya." Kata tiara dengan menekuk wajahnya.


Andin yang melihat itu merasa lucu dengan pipi yang merah tak lupa raut wajah yang dimana bibir tiara sedikit condong maju ke depan rasanya ia ingin mencubitnya sekali lagi tapi ia tahan karena tidak ingin menyakiti sahabatnya itu.


"Yaudah aku minta maaf ya habisnya aku bahagia." Balas andin dengan memasang wajah penuh harap nya.


Dan benar saja perlahan wajah tiara sudah kembali ke semula tidak ada lagi kerutan di dahinya serta bibir monyong nya yang seperti tadi ia lakukan.


"Nah gitu dong kan cantik." Ucap andin yang ingin merayu sahabatnya itu.


"Kan emang aku cantik." Balas tiara yang kembali ke mode awalnya.


"Iya-iya kamu emang cantik, tapi sayang masih cantikkan aku." Jawab andin dengan menggoda sahabatnya itu.


Memang benar kalau kecantikan andin ada di atas tiara dan ia juga mengakuinya dengan sendirinya mangkanya itu ia hanya diam saja karena mendengar candaan yang diberikan andin barusan.


Tiara hanya memutar bola matanya dengan malas sambil memilih untuk duduk di kursi dia sendiri seperti biasanya.


Ando yang sudah datang melihat andin yang memegang cokelat itu sudah bisa menebak kalau itu pasti di kasih tiara karena memang benar seperti itulah adanya yang terjadi.


"Aku nggak dikasih cokelat ni." Kata ando dengan tiba-tiba yang mengagetkan kedua sahabatnya itu.


"Kebiasaan deh orang satu ini." Balas tiara yang kesal pada ando.


"Ngapain juga aku kasih kamu cokelat yang ada kamu tuh yang kasih aku." Sambung tiara yang sedikit nyolot sambil mendengus kesal pada sahabat satunya ini.

__ADS_1


Andin hanya melihat dan menyimak saja tanpa mau menimbali perkataan di anatara kedua sahabatnya ini.


"Cie ngodein aku ya." Jawab ando dengan muka genit nya untuk menggoda tiara yang dengan wajah jutek nya itu.


"Siapa juga yang ngodein orang bilang aja kan emang benar dimana-mana cowok yang beri cokelat pada cewek lah ini cowok yang mau minta cokelat sama cewek benar-benar gesrek." Terang tiara dengan kata panjang lebar nya.


"Kan sama aja penjelasan kamu gitu pada aku." Jawab ando sambil mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu.


"Terserah kamu aja deh mau bilang apa." Jawab tiara yang tidak ingin merusak mood nya di pagi hari ini.


Karena pelajaran saja belum di mulai masa wajah cantiknya yang lagi berseri-seri di pagi hari ini akan hilang karena perdebatan nya yang memang setiap hari nya terjadi bersama dengan ando ini.


Jawaban terserah itulah yang sering wanita ucapkan di kala ia tidak ingin ada perdebatan pada siapapun itu.


"Ya di nyerah gitu aja ngambek pakek bilang kata terserah lagi." Ledek ando sambil menatap ke arah tiara.


Tiara hanya menutup kuping nya karena tidak mau mendengar lagi suara ando itu tak lupa mata nya ia pejamkan karena tidak mau terpancing jika sudah melihat muka ando yang masih berada di depan nya itu.


Ya posisi nya dimana andin dan juga tiara yang sudah duduk di kursi mereka masing-masing dan ando memilih duduk di kursi yang dimana berada di depan andin karena pemilik tempat duduk itu belum datang tentunya.


Tiara tidak melihat nya karena posisi dirinya yang lagi memejamkan mata itu tetapi andin bisa melihat nya dengan jelas senyum sahabatnya itu yang jarang ia lihat karena biasanya senyum ledekan yang di berikan ando saat mereka bertiga lagi kumpul.


Tapi tidak untuk kali ini agak berbeda dari biasanya entahlah andin tak mau ambil pusing baginya tak masalah juga toh mereka semua teman dan kalau mereka berdua memang berjodoh andin tidak mempermasalahkan nya.


Malahan ia mendukung jika memang itu terjadi karena di antara kedua nya juga sama baik tidak pernah terdengar kabar yang buruk masuk ke telinga andin tentunya.


Karena dalam diri andin memang per hanya untuk sahabatan bersama ando tanpa menggunakan perasaan hati di dalam nya.


Tiara yang mendengar suara ando yang dimana ia bilang mau memberi cokelat untuk dirinya langsung membuka kedua matanya yang terpejam tadi.


Setelah ia membuka mata nya itu ternyata memang benar sekali pendengaran nya yang dimana ando bilang ingin memberikan ia cokelat.


Karena cokelat itu memang sudah ada di depan nya yang dimana ando lagi memegang itu dan memberikan senyum tulus kepadanya bukan senyum ledekan seperti biasanya.


Dan itu sukses membuat tiara salah tingkah karena tatapan ando kepadanya sekarang ini dia rasakan sedikit berbeda pada biasanya.

__ADS_1


"Ini buat kamu." Kata ando karena tiara yang tidak mengambil cokelat itu dari tangan nya.


"Terima kasih." Balas tiara yang langsung mengambil cokelat nya.


"Cie ada yang di kasih cokelat pagi-pagi begini." Ledek andin sambil menatap kedua sahabatnya itu.


"Apasih kamu ini tiara." Balas tiara dengan wajah merona nya.


Rasa malu dan senang bersamaan yang kini di rasakan tiara karena mendapatkan ledekan dari sabahat nya itu.


Ando yang mendengar itu hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


Tiara yang melihat ibu guru sudah memasuki kelas langsung menyuruh ando untuk duduk di kursinya sendiri yang dimana berada tepat di belakang dirinya itu.


"Ando sudah ada ibu guru yang datang." Terang tiara yang menatap ke arah sahabatnya itu.


Ando yang mendengar itu langsung berpindah posisi dengan segera karena tidak ingin membuat kesalahan lagi seperti sebelum nya yang dimana ia langsung di suruh keluar dari kelas bu mela itu.


"Selamat pagi anak-anak." Ucap ibu guru yang akan menyapa murid di dalam kelas terlebih dulu.


"Pagi bu." Jawab mereka serempak dan dengan kompak nya.


"Wah semangat sekali pagi ini ya." Balas bu guru memberikan senyum terbaik nya di pagi hari.


"Iya dong bu."


"Kan ibu nya cantik mangkanya kami semangat." Puji ando yang dengan terang-terangan itu.


Murid yang mendengar hanya memberikan sorakan dan teriakan nya karena hanya di tanggapi oleh ibu itu dengan gelengan kepala saja.


Mungkin karena sudah biasa dengan tabiat anak murid satunya ini yang selalu memberikan ia lontaran kata pujian yang setiap kali ia mengajar di kelas nya.


Tidak mempan lagi gombalan yang di berikan ando kepadanya karena bukan ando saja yang biasa memberikan kata pujian itu melainkan beberapa siswa yang berbeda kelas dari ando pastinya.


Bu guru pun menjelaskan materi yang dia akan sampaikan di pagi hari ini murid pun tidak bersuara lagi hanya fokus ke papan tulis yang di mana sudah ada tulisan di sana.

__ADS_1


__ADS_2