
"Aduh pd nya datang lagi." Kata ando dengan mode wajah yang jengah nya.
"Biarin." Balas tiara sambil menjulurkan lidah nya.
"Gini dong jangan masang wajah bad mood jelek tau." Sindir ando yang menatap wajah tiara yang sudah seperti biasanya.
Tiara hanya mendengus kesal.
"Aku pulang duluan ya." Kata ando yang sudah berada di dekat motor nya.
"Ya pergilah." Balas tiara sambil mengusir sahabat nya itu menggunakan kode tangan nya.
Kalau andin hanya menganggukan kepalanya seperti biasanya.
Ando hanya mendengus kesal menatap ke arah sahabatnya lalu ia menjalankan motor nya dan pergi berlalu dari sana.
Tiara dan andin tertawa bersamaan karena melihat wajah kesal dari wajah ando yang sempat mereka lihat.
"Lucu juga ya melihat wajah kesal ando." Ucap andin pada tiara yang berada di samping nya itu.
"Iya begini rasanya meledek orang ada kebahagian tersendiri yang muncul dalam diri kita hihihi." Balas tiara yang masih menginggat wajah ando dan itu membuat nya tertawa lagi.
Ando memang sama seperti andin yang menggunakan motor sendiri saat pergi ke sekolah karena menurut ando jika ia telat dalam artian kesiangan berangkat nya.
Bisa sat set saja menyalip kesana-kemari melaju dengan kencang menggunakan motornya itu tidak harus menunggu kemacetan yang kadang mendera di saat waktu yang tidak tepat pastinya karena kita yang sedang buru-buru.
Tak lama tiara melihat mobil yang biasa di suruh papa untuk menjemput dirinya yang menggunakan pak sopir karena papa tiara yang sibuk mengurusi bisnis nya.
Meskipun kesibukan yang padat tetapi tiara sendiri tidak kekurangan kasih sayang dari kedua orangtua nya karena mereka berdua selalu menyempatkan waktu luang nya untuk bersama-sama.
Kalau masalah jemput menjemput anak nya ini memang sesekali mengutus pak supir jika kedua orangtua tiara ada urusan yang tidak bisa di tinggalkan begitu saja.
Pastinya tidak mungkin asal suruh aja kalau nggak ada pekerjaan yang akan di kerjakan pastinya.
"Ndin pak supir udah jemput tuh." Kata tiara yang menunjuk mobil papa nya itu yang tidak jauh dari posisi mereka berdua saat ini.
Meskipun tiara bukan orang biasa dia termasuk golongan orang kaya tapi kalau masalah uang jajan ia di batasi bukan nya yang asal minta untuk membeli keperluan yang tidak ia butuhkan.
Bukannya pelit kedua orangtua tiara hanya berjaga takutnya jika di beri ongkos yang banyak di gunakan untuk hal-hal yang negatif maka dari itulah ia di beri uang jajan seadanya saja.
"Iya ati-ati bilangin pak supir nya nggak usah ngebut." Balas andin yang memperhatikan keselamatan sahabatnya satu ini.
Karena tak hanya sekali ini saja andin bilang begitu hampir tiap kali kalau ia di jemput pasti akan mengatakan pesan seperti ini terus menerus.
__ADS_1
Tiara tidak risih malahan ia senang karena sahabatnya satu ini tidak ingin terjadi apa-apa pada dirinya dan ia membalasnya dengan tersenyum dan mengangguk.
"Siap tuan putri nanti akan saya sampaikan pada pak supir." Jawab tiara dengan tubuh tegak nya seperti pengawal yang bertugas seperti biasanya.
Tiara langsung masuk ke dalam mobil nya tak lupa ia melambaikan tangannya pada sahabatnya itu dan pak supir menekan klaskon karena ingin menyapa andin tentunya.
lalu mobil yang di tumpangi tiara itu sudah berlalu pergi dari sana meninggalkan andin sendirian.
Mungkin inilah yang di sebut dengan keberuntungan menurut danil tentunya ia melihat bidadari yang dia taksir itu lagi sendirian karena ia tadi sempat melihat tiara yang menaiki mobil.
"Gue cabut duluan ya." Kata danil kepada dua sahabat nya itu.
"Oke bro." Kata dani sambil menepuk bahu sahabat nya itu yang sudah jatuh cinta pastinya.
"Selamat berjuang kawan." Sambung dikta sambil memberikan jempol nya itu sebagai dukungan yang dia berikan untuk sahabatnya.
Setelah melihat danil sudah menjauh dari mereka berdua sontak saja membuat kedua orang itu untuk bergegas pulang menggunakan motor yang ia gunakan tadi untuk berangkat ke sekolah pastinya.
Andin langsung saja berjalan ke arah parkiran yang dimana tempat dia menitipkan motor kesayangan nya itu tetapi baru berapa langkah ia mendengar ada yang memanggilnya dari arah belakang.
Dan itu cukup mampu membuat langkah kakinya terhenti dan menoleh ke belakang terlebih dulu untuk memastikan siapa orang yang memanggil dia itu
"Andin." Teriak danil yang cukup keras karena takut andin tidak mendengar suaranya itu.
"Ada apa?" Tanya andin.
Dia sedikit mengingat siapa laki-laki yang sudah tepat berada di depan nya ini karena andin binggung sendiri sebab ia sendiri yang jarang berinteraksi dengan teman lainnya kecuali bersama dengan kedua sahabatnya itu.
Tak lama setelah dia berfikir barulah ia teringat di danil karena ia makan di kantik sekolah tadi siang.
Danil yang mendengar kata tanya yang terlontar dari andin mendadak seperti orang bodoh karena mulutnya seakan terkunci rapat tidak tahu mau bilang apa ia hanya bisa menggaruk kepalanya sendiri yang tidak gatal itu.
"Ekhm sudah ada yang jemput belum?" Tanya danil pada andin.
"Kok tanya di balik dengan tanya lagi." Ucap andin yang sedikit aneh pada laki-laki yang berada di depan nya ini.
"Gini maksud aku mau nggak pulang bareng aku." Balas danil.
Dengan sedikit memberanikan dirinya agar bisa lebih dekat lagi sama orang yang telah berhasil mencuri hatinya seperti sekarang ini.
"Tapi aku bawak motor." Jawab andin yang memang benar apa adanya tanpa ia berbohong pada danil.
"Berarti lain kali bisa dong kita pulang bersama." Ujar danil yang masih berharap untuk bisa berboncengan bersama andin
__ADS_1
Meskipun banyak mobil yang ada di mansion nya itu tapi danil memang sering menggunakan motor karena tidak ingin terjebak macet yang banyak memakan waktu nya saat ingin pergi ke sekolah.
Andin hanya diam saja tidak menjawab perkataan yang terlontar dari mulut danil tadi karena dia tidak bisa sembarangan asal pulang saja bersama orang lain pastinya karena harus selalu waspada dimanapun kita berada pastinya.
Danil yang sudah merasa andin yang tak akan menjawab pertanyaan yang ia lontarkan tadi langsung saja mengalihkan pembicaraan nya karena tak ingin andin merasa terganggu karena ia yang langsung ingin dekat dengan dirinya itu.
"Kamu pulang naik apa?" Ujar danil bertanya pada andin.
"Aku bawak motor ini lagi mau jalan ke parkiran buat ambil motor nya." Balas andin.
"Yaudah aku anteri aja boleh." Tawar danil.
"Boleh." Jawab andin karena tidak ingin di anggap danil sok jual mahal.
Tapi bukan berarti dirinya jual murah bukan seperti itu juga konsep dalam diri andin.
Ia dapat melihat dan menilai mana laki-laki yang baik dan buruk seperti pandangan nya pada danil kali ini ia cukup percaya kalau danil tak akan berbuat macam-macam pada dirinya.
Mereka berdua berjalan beriringan ke parkiran yang dimana andin menaruh motornya itu tak lama sampai juga di rumah pak parkirnya.
"Makasih ya pak sudah jagain motor andin." Ucap andin sambil memberikan lembaran uang kepada pak parkir nya.
"Iya neng sama-sama." Balas pak parkir.
Interaksi yang dilakukan oleh kedua orang ini di saksikan oleh danil tentunya ia bisa menilai bahwa andin.
Sudah pasti masuk dalam kriteria yang ia cari dan idamkan pastinya untuk menjadi ibu dari anak-anaknya nanti.
"Aduh reyhan ini mimpi nya udah ketinggian jadi pacar aja belum eh mau langsung bilang ibu dari anak-anak nya tamati dulu sekolah nya baru mau cinta-cintaan." Ucap author yang meledek danil.
"Apaan sih author ini kalau iri bilang bos." Balas danil dengan sewot nya.
Andin langsung menghampiri danil yang berada di luar itu.
"Ini motor nya sudah aku ambil aku pulang duluan ya." Ucap andin.
"Hm iya hati-hati di jalan nggak usah ngebut nanti takutnya ada apa-apa." Balas danil dengan perhatian nya.
"Iya terima kasih." Jawab andin.
Lalu ia berlalu pergi dari danil dan kembali ke arah motornya yang tadi memang belum dia ambil karena melihat andin yang sudah sendirian.
Langsung saja danil menaiki motor nya ia pun menghidupkan terlebih dulu langsung di gas oleh dirinya untuk pulang ke rumah nya.
__ADS_1
Tak lama andin yang sudah sampai di rumah nya langsung berlari-lari kecil masuk ke dalam mansion nya ke arah dapur karena ingin melihat mama nya yang kemungkinan besar ada di sana karena memang benar adanya seperti itu.