Suamiku Tajir Melintir

Suamiku Tajir Melintir
Ruang baca


__ADS_3

"Ada sahabat mama yang ingin membantu keluarga kita agar tidak gulung tikar restoran papa yang sekarang ini sudah sangat berkembang pesat."


"Dengan syarat mau menikahkan anak laki-laki nya dengan anak perempuan mama yaitu kamu nak." Sambung mama yang ikut menjelaskan pada anaknya itu.


Tak lupa mama andin mendekati anaknya itu untuk memeluk andin meskipun anaknya itu tidak menunjukkan reaksi yang sedih seperti sekarang ini tetapi jauh di lubuk hatinya pasti merasakan kesedihan.


Karena bagaimana pun mama andin peka terhadap perasaan anaknya itu.


Andin yang di peluk mamanya itu tidak menumpahkan tangisan tetapi bisikan ia berikan pada mamanya itu.


"Andin baik-baik saja kok ma." Bisik andin yang menenangkan mamanya itu.


Melihat kedua wanita yang ia sayangi itu papa andin sendiri ikut masuk dalam pelukan keduanya.


"Papa sangat menyayangi kalian berdua." Ucap papa andin kepada keduanya.


Setelah pelukan mereka bertiga terlepas papa andin langsung berpamitan untuk berangkat lagi pergi ke restoran milik dirinya itu.


Mama andin yang mempunyai salon yang sudah terkenal karena selalu di promosikan di online agar orang-orang mengetahui nya dan ternyata benar salon mama andin sudah banyak peminat nya.


Pelayanaan yang ramah dan beberapa treatment bisa di lakukan di sana, sesekali mama andin pergi kesana sekedar mengontrol perkembangan salonnya itu.


Karena ia yang tidak mau meninggalkan anaknya sendirian dirumah takutnya kesepian suaminya sudah di restoran dianya di salon begitulah fikir mama andin.


Andin yang berasal dari keluarga kaya tidak membuatnya berfoya menghabiskan uang papa dan mama nya tapi ia tabung untuk di perlukan nya sewaktu-waktu ia butuhkan.


Mobil yang banyak terparkir rapi di garasi nya tidak dia gunakan malah lebih memilih sepeda motor kesayangan nya itu yang bisa membuat nya kepanasan.


Kalau matahari yang tidak bisa di ajak kompromi dan kehujanan jika lagi turun hujan itulah yang dinamakan dengan kata apes atau lagu yang boming sekarang sial.


Mama andin langsung pamitan setelah berganti pakaian rumah nya tadi sama andin untuk pergi ke salon yang memang punya dia sendiri.

__ADS_1


"Din, mama mau ke salon dulu ya." Pamit mama andin terlebih kepada anaknya itu sebelum ia berangkat tentunya karena takutnya andin mencari-cari dirinya padahal tidak ada dirumah.


"Iya ma, hati-hati nanti di jalan nggak usah ngebut-ngebut." Balas andin yang menatap ke arah mamanya sambil tersenyum manis.


Mama andin pun berlalu pergi dari sana dan langsung meninggalkan andin yang pastinya akan sendirian dirumah karena mereka berdua sama-sama mau pergi hanya pelayan saja yang ada.


Tapi tak apa andin yang sudah terbiasa itu juga langsung memutuskan untuk masuk ke ruang baca yang ada di rumah nya khusus di buat oleh papa andin.


Papa andin yang mengetahui hobi anak nya yang suka membaca langsung membuatkan satu ruangan khusus dimana banyak buku baik buku yang berhubungan dengan sekolah maupun cerita-cerita lain seperti cerpen dan juga novel.


Bella langsung duduk menyenderkan punggung belakang nya di kursi yang ada tak lupa memegang buku sejarah yang ingin dia baca dan pahami karena besok ada pelajaran nya.


Walaupun kegemaran membaca tapi tidak membuat mata bella menggunakan kacamata karena kalian tau sendiri kan biasanya orang-orang pintar yang masih pelajar kebanyakan memakai kacamata.


Mungkin ada penyebab yang lain juga, melihat handphone dengan waktu yang lama juga bisa merusak kesehatan mata kita sendiri.


Entah lah memang andin berbeda dari perempuan yang kaya raya lainnya dimana-mana kalau orangtua nya sudah sibuk bekerja akan keluyuran kemanapun ia mau sampai lupa waktu.


Sudah satu jam ia menghabiskan waktu di dalam ruangan baca itu dia langsung pergi dari sana dan ingin kembali ke kamarnya sendiri karena sudah penat juga kelamaan dalam posisi duduk.


Langsung saja andin merebahkan tubuhnya yang penat itu karena sudah lama duduk di kursi tadi tak lama setelah itu handphone nya tiba-tiba berbunyi.


Dret dret dret.


"Assalamualaikum, sayang." Kata yang pertama sekali terdengar di sebrang sana.


"Walaikum salam kak." Balas andin yang menjawab salam dari kakak nya itu.


Aldi nama itulah yang diberikan orang tua andin kepada anak laki-laki mereka berdua yang sedang mengenyam pendidikan di luar negeri.


"Apa kabar kamu dek?" Tanya aldi yang ingin mengetahui apakah baik-baik saja adik nya yang berada jauh dari dirinya itu.

__ADS_1


"Alhamdulillah baik kak, papa dan mama lagi bekerja aku lagi dikamar habis dari ruangan baca tadi kak." Terang andin yang menjelaskan secara detail.


"Jangan terlalu keras belajar nya sesekali libur nggak apa-apa gunakan juga waktu luang mu untuk menyenangkan diri kamu sendiri." Nasihat aldi yang tidak ingin hidup adiknya monoton saja tapi masih mengarah ke arah yang positif.


"Tapi ingat jangan salah pergaulan, jangan melakukan hal-hal yang akan merugikan kamu sendiri, paham kan dek." Sambung aldi yang tidak pernah absen menasihati adik kecil nya itu.


Karena bagi aldi andin masih seperti adik kecil nya yang harus ia jaga meskipun dari kejauhan sekalipun.


"Iya kakak sayang andin juga tidak mau kok membuat kalian semua susah." Balas andin sambil tersenyum.


Karena sudah mendapatkan kata yang panjang lebar keluar dari mulut kakak kandung nya itu.


"Baiklah sampai kan salam kakak pada papa dan mama juga." Ucap aldin kepada andin.


"Siap kak." Jawab andin dengan tangan yang hormat meskipun aldi tidak melihat nya itulah refleks yang ia lakukan kepada kakak nya.


"Kakak tutup dulu ya." Balas aldi yang ingi mengakhiri telpon nya bersama adiknya itu.


"Assalamualikum." Sambung aldi yang mengakhiri perbincangan dari telepon.


"Walaikum salam kak." Balas andin menjawab salam dari kakak nya


Panggilan pun terputus.


Begitulah kakak beradik ini di waktu luang masing-masing saling berkomunikasi karena jarak yang memisahkan kedua nya tidak seperti dulu yang selalu bersama sebab aldi yang tidak mau adiknya salah pergaulan.


Karena pergaulan jaman sekarang sedikit banyak nya sudah tidak bisa di kontrol lagi oleh para orang tua bila di nasehati juga.


Bukan nya menurut tapi malah marah-marah tak jarang membuat orang tua merasa sakit hati meskipun tak akan lama karena itulah bentuk dari rasa kasih sayang orang tua untuk anak nya.


Jika sudah masuk ke dalam pergaulan bebas itu maka tidak akan susah memperbaikinya dengan sendiri karena banyak orang yang tidak ingin rusak sendirian maka dari itulah dia mengajak orang lain untuk ikut terjun bersama dirinya.

__ADS_1


Sangat rugi untuk masa depan yang akan menanti kita kalau sudah lulus dari sekolah apalagi harapan orang tua yang ingin anak nya menjadi orang sukses langsung pupus sudah dengan sendirinya hanya kekecewaan dan rasa sedih yang di rasakan pada diri sendiri begitu juga dengan keluarga.


__ADS_2