
Andin yang langsung berjalan pergi melangkah kan kaki nya ke daerah dapur tempat tujuan yang pertama sekali yang memang ia ingi masuki.
Sedikit kesenangan ia dapatkan di sini serta pembelajaran yang bisa ia dapatkan dari pelayan yang bertugas di sana.
Selain memang sudah menjadi hobinya tidak membuat nya sulit untum membantu orang-orang yang bekerja disana untuk membuat beberapa menu yang sudah di pesan oleh pembeli yang lagi menunggu di meja mereka masing-masing.
Kalau urusan memasak andin jago nya, mama nya yang selalu memasak di rumah dan andin yang selalu berada di rumah jadi ia terus memperhatikan bagaimana cara mama nya memasak dengan rasa yang bisa pas di mulut dan terasa enak bila di kecap dengan lidah.
"Mbak lagi bikin apa?" Tanya andin kepada salah satu pelayan yang lagi bergelut di dapur.
"Lagi buat steak non." Balas pelayan itu dengan rasa sungkan nya karena andin yang sudah berada sangat dekat dengan dirinya.
"Sini aku bantui." Jawab andin yang ingin mengambil ahli tugas pelayan itu.
"Eh jangan non nanti kena marah tuan." Ucap pelayan itu yang melihat andin ingin memegang peralatan di sana.
"Tidak apa-apa papa juga nggak tau." Balas andin sambil tersenyum.
Pelayan itu hanya bisa pasrah melarang pun juga percuma karena mereka yang ada di sana sangat hafal dengan watak anak bos nya itu keras kepala.
Keras kepala andin lain daripada yang lain biasanya kebanyakaan orang melawan omongan orang tua nya karena tidak ingin di nasehati dengan alibi karena sudah dewasa tau mana yang baik mana yang buruk.
Kalau andin dia tidak mau mendengar bantahan orang-orang yang menolak apa yang ingin dia lakukan tapi dalam hal positif ya seperti sekarang ini yang dia lakukan.
Andin yang sudah bergulat di sana bercampur dengan pelayan yang bertugas di dapur itu perbedaan sosial tidak membuat andin merasa ilfeel berada di dekat mereka semua.
Di sanalah dia melihat kesederhaan bisa membuat kita bahagia bukan dengan kemewahan harta saja.
Dengan duduk bersilah di atas karpet bercengkraman saling lempar tawa satu sama lain yang jarang terjadi di kumpulan orang-orang kaya.
Yang jika kumpul hanya handphone saja yang mereka hadapi sedikit ngbrol nya banyak gadget nya itulah yang sering terjadi.
__ADS_1
Setelah selesai andin merapikan pakaian nya kembali tak lupa membersihkan tubuhnya terlebih dulu barulah ia pindah ke meja kasir.
"Mbak sesil aku bantui ya." Ucap andin yang pertama sekali duduk di depan kasir.
"Eh non andin, silahkan non." Balas sesil sambil tersenyum ramah.
"Lagi sibuk ya mbk?" Tanya andin yang melihat sesil berkutat dengan komputer yang ada di depan nya.
"Nggak juga non ini lagi menyiapkan bill mereka yang lagi pada makan aja non." Terang sesil sambil menoleh ke arah andin lalu fokus kembali menghadap komputer nya itu.
Andin yang tidak mau menganggu tidak lagi bertanya dia hanya fokus saja memainkan handphone nya itu meski tidak ada yang penting tapi dia menscroll tikton dan ig pribadi nya itu.
"Berapa mbak total nya?" Tanya salah satu pengunjung yang ingin membayar bill nya itu.
"Maaf meja nomor berapa ya mbak?" Tanya andin dengan nada ramah nya.
"306 mbak." Jawab pengunjung itu sambil menunjuk meja yang di tempati tadi.
"Ini mbak." Balas pembeli itu sambil menyerahkan kartu atm nya sebagai pembayaran nya yang ia gunakan.
"Pin nya mbak?" Tanya andin sambil tersenyum ramah menatap pembeli.
Pembeli itu langsung memasukkan pin nya dan keluar lah kertas transaksi yang ia lakukan di restoran papa andin sendiri.
Andin menyobek nya satu untuk pembeli satu lagi untuk dia yang akan di catat di keuangan restoran tersebut.
"Terima kasih mbak." Ucap bella sambil tersenyum manis.
Membuat siapa saja yang melihat nya tidak bisa mempungkiri kecantikan yang terpancar dari luar maupun dari dalam hati andin saat ini.
Penampilan yang tidak terlalu berlebihan ia kenakan terlihat sesuai dengan usia yang muda ia miliki saat ini.
__ADS_1
Karena siapa saja yang sudah mengenal nya pasti tau bagaimana sifat dan karakter yang andin miliki pada dirinya sendiri.
Orang nya yang ramah serta tau tata krama membuat orang yang ada di sekeliling nya merasa senang dan tidak risih ataupun malas berada di dekat andin.
"Ini mbak transaksi nya tadi." Kata andin menyerahkan bill nya pada kasir papa nya itu.
"Terima kasih non maaf jadinya merepotkan non." Balas sesil sambil mengambil bukti transaksi yang ada di tangan andin.
Andin hanya mengangguk seraya tersenyum menatap sesil.
Sesil yang melihat andin melayani transaksi pembeli itu merasa kagum atas sifat yang di miliki anak majikan nya itu yang terlihat ramah dan baik kepada pembeli dan tidak bicara ketus kepada siapapun itu.
Setelah andin memberikan bill tadi kepada sesil ia duduk kembali sambil melihat ke segala arah penjuru orang-orang yang lagi makan ada juga yang sedang berbincang bahkan befoto sesuka hati mereka sendiri.
Karena memang tempat nya banyak di minati oleh kalangan remaja untuk berkumpul bersama teman nya dan berpacaran serta mengambil angle untuk berfoto yang akan di jadikan kenang-kenangan untuk mereka berdua nantinya jika sampai ke pelaminan nanti.
Kalau tidak jadi dalam artinya gagal maka akan di hapus semua foto yang sudah terlanjur mereka post di akun pribadi mereka masing-masing.
Dan itu sangat menyakitkan terkadang bisa membuat orang melakukan di luar kendali mereka yang bisa membahayakan dirinya sendiri dan orang yang berada di sekitar nya.
Rasa putus asa yang telah menggeroti dalam dirinya sendiri saat itu terjadi bisa membuat dirinya sangat rugi kalau sudah tersadar telah melakukan kesalahan yang besar dalam hidup yang ia jalani sekarang.
Itulah banyak orang tua tidak menyuruh anak nya berpacar-pacaran terlebih dulu apalagi jika masih dalam keadaan labil karena usia yang masih sangat muda.
Mereka berdua berbicara dan bercerita satu sama lain baik dari kegiatan sehari-hari ataupun kegiatan jika sedang berada di luar.
Jarak usia yang tidak berbeda jauh membuat andin dan sesil bisa berbicara dengan nyambung dan nyaman satu sama lain.
Andin yang memang sering berkunjung ke restoran memang membuat dirinya itu hampir akrab semua dengan karyawan yang bekerja disana.
Sifat nya yang mudah bersosialisasi dan ramah kepada orang membuat lawan nya yang bersikap kaku dan sungkan untuk menanggapi andin seiring berjalan nya waktu akhirnya terbiasa dengan sendirinya ternyata sama seperti mereka semua.
__ADS_1