Suamiku Vampir Penghisap Darah

Suamiku Vampir Penghisap Darah
Bab 21


__ADS_3

Hari ini Trishna tidak memasuk kantornya karena tubuhnya masih terasa ngilu dan kepalanya masih saja terasa sakit. Dia sama sekali tidak mencurigai Ferdian sehingga dia dapat sebuah mimpi.


Trishna bangun dengan keringat dingin yang ada di wajahnya, sungguh mimpinya sangat menakutkan.


"Ck, masa ada vampir zaman sekarang," ucap Trishna lirih sambil mengusap dadanya agar dia tenang.


Dalam mimpi Trishna memperlihatkan bagaimana Ferdian yang bisa terbang dan menghilang, saat dia melihat kebelakang dia melihat Ferdian sedang menancapkan gigi taringnya di bahu seseorang lalu melihat ke arah Trishna dengan mata yang menyala seperti warna api.


Akan tetapi Trishna menganggap itu semua hanyalah mainan mimpi belaka, menurutnya sekarang zaman modern hal-hal seperti itu sangat tidak memungkinkan apalagi cerita vampir itu merupakan sebuah mitos saja.


Trishna memaksa dirinya untuk bangun dan menuju ke dapur. Dengan langkah kaki yang terasa teramat berat dia mulai memasuki dapur.


Prangg!!


Sebuah gelas kaca jatuh dari tangan seseorang saat Trishna mulai memasuki ruang dapur.


"Kau siapa?" tanya seorang wanita dengan mata yang terlihat merah dan tajam.


"Eh," Trishna bingung harus menjawab apa karena dia juga tidak tahu siapa wanita ini dan kenapa dia bisa berada dalam apartemen Ferdian.


Wanita itu berjalan mendekati Trishna dengan tatapan mata tajam dan menurut Trishna sangat aneh.


Bulu kuduk Trishna tiba-tiba saja merinding, dia mulai berjalan mundur sehingga ke ruang tengah. Kini kakinya telah bersentuhan dengan sofa di ruang tamu.


Wanita itu segera mencengkram dagu Trishna hingga membuat mendongak menatap wanita itu.


"Kau manusia biasa, bagaimana bisa berada di dalam apartemen tunanganku ini?" tanya wanita itu tatapan mata mengintimidasi.


"A-aku se-sedang menjalani hu-hukuman dari Tu-Tuan Galang," jawab Trishna terbata-bata.


"He,eh hukuman sebagai sumber makanan?" tanya wanita itu lagi dengan tersenyum licik.


"Hah?" Trishna bingung untuk menjawab karena dia tidak mengerti maksud pertanyaan wanita itu.


'Biar aku mencicipi milik Ferdian, mungkin saja lebih enak,' batin wanita itu.


Wanita itu mengeluarkan taring yang mulai memanjang, hingga membuat mata Trishna yang melihat hal itu membulat sempurna.


'Apa ni? Siapa dia? Kenapa gigi taringnya memanjang seperti vampir?' batin Trishna.


Wanita itu dengan bersemangat ingin menancapkan taringnya, akan tetapi tiba-tiba angin bertiup sangat kuat membuat wanita itu menatap ke arah angin yang bertiup itu.


"Ferdian!" gumam wanita itu dengan menatap tajam.


Wanita itu melepaskan Trishna yang sudah terjatuh ke atas sofa dan tubuhnya tiba-tiba saja melayang menghantam dinding pembatas ruangan dapur.


Trishna sempat melihat wanita itu tadi terbang melayang hingga menghantam dinding dan samar-samar dia melihat sosok Ferdian yang bergerak secepat angin.

__ADS_1


"Tidak mungkin pasti aku masih sedang bermimpi," ucap Trishna lirih hingga di menutup matanya dan tertidur.


Setelah Roben melihat Trishna sudah tertidur, dia pun membawa Trishna masuk ke kamarnya, membuat seakan-akan Trishna berada di alam mimpi.


Ferdian masih mencekik wanita yang merupakan tunangannya itu.


"Bagaimana kau bisa ke sini sialan!" teriak Ferdian tepat di wajah wanita itu.


Kekuatan wanita itu tidak sebanding dengan kekuatan Ferdian. Dia sudah coba memberontak tapi sedikit pun tidak tergerak tangan Ferdian yang mencekik lehernya.


"Tuan wanita itu tidak bisa menjawab jika Tuan terus saja mencekiknya," ucap Roben dari arah belakang.


Wanita itu tersenyum dalam hati karena dia merasa pelayan Ferdian membela dirinya tapi wanita itu lupa satu hal saat ini. Seorang pelayan yang sudah mempunyai tanda di tubuh mereka tidak bisa mengkhianati majikannya.


Ferdian melepaskan wanita itu dan dia berjalan ke arah sofa untuk duduk. Ferdian coba menenangkan dirinya. Dia sadar baru tadi dia bertindak gegabah di saat Trishna masih sadar mujur saja Roben dengan cepat membuat Trishna tertidur.


Uhuk...uhukk..


"Kau tega sekali Ferdian! Aku ini tunanganmu dan kau menyimpan manusia wanita di dalam apartemen mu!" murka wanita itu.


Ferdian tersenyum miring dengan tatapannya yang tajam.


"Daya, Daya kau berharap sekali ingin menjadi tunanganku," sindir Ferdian.


Ya benar wanita yang ingin mencelakai Trishna tadi adalah Daya alias tunangan Ferdian.


"Kalau kau tidak setuju, buat apa kau menyelinap masuk ke apartemenku?" ucap Ferdian. "Kau juga berani menyentuh barang-barang ku!" ketus Ferdian lagi.


"Oh rupanya wanita itu sekadar barang? Baiklah aku tidak perlu khawatir, eh tapi kenapa kau tidak mengizinkan aku mencicipi darah?" sindir Daya tersenyum menyungging.


Kesabaran Ferdian sudah hampir hilang, ingin sekali dia menghancurkan wanita yang ada di hadapannya saat ini, tetapi dia tidak bisa melakukannya sekarang karena satu hal.


"Roben bawa wanita ini pergi, sebelum aku memusnahkannya," berang Ferdian dengan mata yang semakin memerah dan gurat-gurat amarah mulai muncul di wajahnya.


Dengan secepat angin Roben bergerak membawa wanita itu pergi melewati demensi dunia manusia. Roben membawa Daya kembali ke dunia vampir yang terletak di atas awan yang berada di puncak gunung.


Baru saja Roben hendak pergi tetapi Daya menahannya.


"Tunggu!" ucap Daya dengan sedikit berteriak.


Roben menoleh ke arah Daya dengan tatapan datarnya. Roben tidak menanyakan kenapa dan hanya menatap Daya saja.


"Aku tahu kau ingin terlepas dari majikan seperti Ferdian dan aku menawarkan kau kebebasan tapi dengan syarat bekerjasamalah denganku," ucap Daya penuh percaya diri.


"Maaf sepertinya Anda salah," jawab Roben singkat lalu menghilang seperti ditiup angin.


Dalam perjalanan pulang, Roben menggerutu kesal karena tawaran Daya tadi dan dia pasti akan sampai kepada Ferdian nanti.

__ADS_1


.


.


.


.


.


Ferdian masih berada di ruangan sofa menunggu kedatangan Roben kembali, tetapi tengkorok dan dadanya tiba-tiba merasa panas lagi. Ferdian merasa begitu lapar dan haus.


Dengan cepat Ferdian melangkah ke kamarnya dan mencari stok da*ah binatang yang di simpan oleh Roben. Setelah menemuinya dia langsung saja minum tetapi dia kembali memuntahkannya karena da*ah binatang tersebut berasa pahit di dalam mulutnya.


Bayangan tentang da*ah Trishna terus saja berputar-putar dalam pikiran Ferdian, tapi dia coba menahan diri agar tidak menghisap kembali da*ah Trishna.


"Tidak aku tidak boleh mengambil da*ahnya lagi," ucap Ferdian perlahan.


Dia coba beberapa kali untuk melakukan teleportasi tetapi tidak berhasil sehingga gigi taringnya sudah mulai keluar. Tanpa sadar Ferdian sudah berada di dalam kamar Trishna, dia mendekati Trishna dan melihat pundak Trishna yang terekspos karena memang Trishna hanya mengenakan baju tidur yang bertali di bagian pundaknya.


Tidak ingin menunggu terlalu lama, sisi vampir liar Ferdian bangkit daj mulai mengigit pundak Trishna lalu menghisap da*ahnya.


Mujur saja Roben cepat tiba lalu memegang pundak Ferdian membuat Ferdian sadar. Ferdian menjauhi Trishna dan keluar dari kamar Trishna.


Dengan sigap Roben membersihkan perbuatan Ferdian tadi, dia menghilangkan tanda gigitan pada pundak Trishna dan membersihkan sisa darah yang mengalir menggunakan ilmu sihirnya.


Roben keluar setelah semuanya selesai, dia menemui Ferdian yang terduduk di sofa ruang tamu.


"Rob, apa dia baik-baik saja?" tanya Ferdian sambil menatap ke hadapan.


"Trishna baik-baik saja lagian Tuan hanya mengambil darahnya lebih kurang 2 menit saja," jawab Roben.


"Hampir 2 menit, tapi dadaku sudah tidak terasa panas dan aku sudah tidak merasa lapar dan haus," ucap Ferdian lirih sambil memegang dadanya.


Roben mengernyitkan dahinya karena dia mendengar ucapan Ferdian. Dia coba mengertikan arti dari hal itu.


"Mungkin Tuan harus meminum biar jumlah yang sedikit," ucap Roben.


"Tapi ada darah vampir yang mengalir di dalam tubuhnya Rob," jawab Ferdian.


***Bersambung....


Maaf readerssku, kemarin nggak up pengaruh author sangat-sangat sibuk plus lagi kurang enakan badan setelah malamnya, tapi mulai hari ni akan diusahakan untuk up biarpun cuma satu bab dulu.. Setelah selesai kesibukan lain barulah author up 2 hingga 3 bab yaa..


Sayang kalian, love youu sekebooonn..


Teruskan mendukung 🫶🫶🫶***

__ADS_1


__ADS_2