Suamiku Vampir Penghisap Darah

Suamiku Vampir Penghisap Darah
Bab 45


__ADS_3

Flashback on...


"Kau yakin mau terus menghidari dia?" tanya Blair pada Trishna.


Lidah Trishna terasa sulit untuk mengatakan ya. Entah kenapa saat ini dia merasa ingin sekali bertemu dengan Ferdian. Trishna mencoba untuk membuang pikiran tentang Ferdian tetapi hasilnya tetap sama.


"Aaakkhh." Trishna memegang tengkuknya yang tiba-tiba saja terasa panas dan sakit.


"Ada apa?" tanya Ronald dengan raut wajah ikut cemas.


"Sepertinya itu adalah panggilan ikatan kalian," jawab Blair.


Ronald langsung saja mendekati Trishna lalu menyingkap rambut Trishna, terlihat simbol yang begitu memukau yang mengeluarkan sedikit cahaya.


"Tuan Blair, aku merubah pikiranku. Aku pikir aku tidak selamanya aku bisa melarikan diri, aku harus mencari tahu kenapa Tuan Galang memilihku. Oleh itu, aku ingin meminta bantuanmu, jagalah keluargaku Tuan," ucap Trishna dengan mata berkaca-kaca.


Entahlah kenapa hatinya sedari tadi tidak tenang, dia terus membayangkan ada sesuatu yang buruk jika dia tidak bertemu dengan Ferdian.


Oleh itu Trishna memilih untuk bertemu dengan Ferdian dan menyerahkan dirinya, dia tidak tahu sama ada dirinya akan mati cepat atau lambat karena Ferdian merupakan vampir penghisap darah.


"Tidak! Aku akan ikut dengan Kakak!" Teriak Tiana yang sedari tadi menguping percakapan mereka.


Trishna dan kedua penyihir itu langsung menoleh ke arah Tiana yang sedang menuju ke arah mereka.


"Tia ...," panggil Trishna lirih.


Tiana terus menggelengkan kepalanya, dia tidak mau berpisah dengan sang Kakak, karena baginya hanya Trishna yang mampu menjaga dirinya.


"Masa kita semakin suntuk," Ronald kembali memperingatkan Trishna dan Tiana.


"Kau benar-benar mau tinggal?" lanjut Ronald lagi.

__ADS_1


Trishna mengangguk lalu menoleh ke arah Tiana yang terlihat sedih.


"Kakak tidak bisa menjamin keselamatanmu Tia, makanya lebih baik kamu ikut dengan Om Ronald. Bantu Kakak jagain Ibu dan Ayah," ucap Trishna.


"Tidak Kak! Tia tidak mau berpisah dengan Kakak, bagaimana dengan keselamatan Kakak nanti dan Tia tidak mau kehilangan Kakak." Tiana tiba-tiba berlutut memohon agar Trishna tidak meninggalkannya.


Trishna juga ikut berlutut berhadapan dengan Tiana.


"Tia, kalau kamu ikut Kakak, nanti siapa yang menjaga Ayah? Siapa yang membantu Ibu? Bagaimana kalau mereka sakit, siapa yang menjaga mereka? Tolong Tia, dengarkan Kakak kali ini," ujar Trishna.


"Kalau begitu Kakak harus ikut kita dan Kakak jangan pergi," rayu Tiana.


Trishna mengusap puncak kepala Tiana lalu mengukirkan senyuman pada bibirnya.


"Untuk sekarang Kakak belum bisa ikut tapi Kakak akan kembali setelah semuanya selesai. Kakak janji," ucap Trishna membujuk Tiana.


Akhirnya Tiana setuju dan memegang janji yang Trishna katakan. Tiana akan tetap menunggu Trishna kembali suatu saat nanti.


Trishna memasuki kamarnya dan berbaring, dia mengunci dirinya hingga tidak ada siapa pun yang sadar akan kehadirannya. Sehingga dia mendengar ricuh di luar barulah Trishna keluar dari kamarnya.


Flashback end...


"Tuan, kapan Tuan akan membunuhku?" tanya Trishna tiba-tiba.


"Membunuhmu? Aku tidak akan membunuhmu Trish," jawab Ferdian.


"Mari kita bicarakan di tempat lain atau kita pulang saja," lanjut Ferdian lagi.


Ferdian coba menarik tangan Trishna tetapi Trishna dengan cepat menepis tangan Ferdian.


"Kau selalu menghisap darahku! Itu berarti kau membunuhku secara perlahan!" tegas Trishna yang tidak ada kata sopan lagi seperti biasa.

__ADS_1


Ferdian menghela nafasnya lalu menatap wajah Trishna dengan intens.


"Aku mengaku memang aku menghisap darahmu tetapi aku tidak berniat membunuhmu," jawab Ferdian dengan harapan Trishna memahaminya.


"Tidak! Aku tidak percaya," sahut Trishna.


"Baiklah, aku tidak akan menghisap darahmu lagi dan aku tidak peduli jika kau tidak mempercayaiku, yang penting kau tidak melarikan diri lagi," ujar Ferdian mulai mengalah dan coba memahami Trishna.


Trishna tidak menjawab Ferdian, dia menatap Ferdian dengam tatapan kecewa dan takut. Seandainya waktu bisa berulang kembali, dia tidak ingin mengenali Ferdian.


"Kita pulang ya, kita bicara di rumah saja," bujuk Ferdian lagi.


"Aku mau tahu, kenapa kau memilihku untuk menjadi istrimu?" tanya Trishna dengam raut wajah serius.


Ferdian mengira tidak ada lagi perkara dalam pikiran Trishna rupanya dia salah, dia sedikit kesal karena tidak bisa mengetahui isi pikiran Trishna.


Seandainya Ferdian bisa membaca pikiran Trishna, dia akan memberitahunya tanpa Trishna perlu bertanya.


"Karena dirimu spesial Trish," jawab Ferdian dengan memperlihat wajah tulusnya.


"Aku manusia biasa Tuan, aku tidak spesial dan masih banyak lagi wanita spesial dibandingkan dengan diriku," ucap Trishna merendahkan dirinya karena memang itu yang dia rasakan.


"Suatu saat kau akan tahu," sahut Ferdian sambil tersenyum.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


... End.....


Hello readerss maaf author tamatkan mendadak sekali, masih banyak yang belum terungkap tetapi author janji akan ada season 2 yang mengupas hal yang belum terungkap, harap sabar menunggu diriku yang masih labil dalam berkarya ini.


Sampai jumpa di season 2 yaa, teruskan mendukung dan jangan lupa tinggalkan komen like yaahh.. Love you sekeboooon 😘😘

__ADS_1


__ADS_2