Suamiku Vampir Penghisap Darah

Suamiku Vampir Penghisap Darah
Bab 39


__ADS_3

Seharusnya hari ini adalah hari terakhir Trishna berada di apartemen Ferdian, tetapi karena janjinya akan Ferdian, dia terpaksa harus tinggal lagi berapa hari.


"Tahu begini lebih baik aku tidak berjanji dengan Tuan ihh." Trishna membuang sembarang bantal tidurnya karena merasa kesal.


Padahal kemarin Trishna sudah membayangkan akan bebas dari Ferdian, ternyata semua bayangannya hancur karena Ferdian melarang keras dia untuk keluar karena dalam waktu dekat mereka akan menikah.


Trishna merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk dalam kamarnya. Dia menatap langit kamar yang dia tempat. Hari ini dia baru sadar bahwa corak di bagian penjuru langit kamar merupakan corak kelelawar dan bulan sabit.


"Cita rasanya aneh banget," ucap Trishna lirih.


Dia mengubah posisinya dengan baring menyamping. Entah kenapa merasa hidupnya sekarang telah dikelilingi oleh Ferdian, tidak tahu sejak kapan, karena waktu tidak terasa dia sudah bersama Ferdian sebulan.


'Kenapa bisa aku terjebak dengan pria aneh,' batin Trishna.


Setelah lelah dengan perasaan yang berkecamuk, akhirnya Trishna terlelap dengan nyenyak. Dia tidak sadar Ferdian telah berada di dalam kamarnya.


Ferdian tersenyum melihat Trishna yang sedang tertidur, raut wajah Trishna begitu tenang, tidak seperti tadi pagi sewaktu dia melarang Trishna pulang, wajah Trishna terlihat begitu kesal.


"Kau akan jadi milikku sebentar saja lagi," ucap Ferdian lirih.


Ferdian meletakkan sihir pada Trishna agar Trishna tidak terbangun dari tidurnya. Ferdian akan membawa Trishna ke kastil utama keluarganya di kota vampir.


Alia telah memberitahu Ferdian bahwa dia telah berhasil membujuk Ayahnya agar memutuskan pertunangannya dengan Daya dan menikah dengan wanita pilihan dirinya.


Oleh itu, Ferdian telah merencanakan pernikahannya akan dilangsungkan hari ini pada jam 12 malam nanti.


Ferdian menggendong Trishna ala-ala bridal, agar Trishna tetap merasa nyaman. Dia membawa Trishna memasuki kamarnya dan mulai berdiri di atas lingkaran teleportasi.


Ferdian menggoyangkan tangannya kirinya dan mereka mulai memasuki ruangan teleportasi dengan cepat hingga kini mereka telah berada di dalam kamar milik Ferdian.


"Selamat datang Tuan," ucap Roben sambil membungkukkan sedikit tubuhnya.


Roben telah berada di kastil sejak semalam, karena mengurusi acara pernikahan sang majikan yang akan dilangsungkan malam ini.


"Apa semuanya telah siap?" tanya Ferdian sambil membaringkan Trishna di atas kasur empuk miliknya.


"Sudah Tuan, maaf apa perlu saya sediakan satu kamar untuk Nona Trishna?" sahut Roben dan kembali bertanya.


"Tidak perlu, aku tidak mau ada hal buruk yang berlaku padanya. Aku dan dia akan berada di satu kamar, panggil saja semua pelayan ke sini dan bantu bersihkan Trishna lalu rias dirinya dan aku akan duduk di sofa sana memerhatikan pekerjaan mereka," ucap Ferdian sambil mengusap pipi mulus Trishna.


"Baiklah Tuan, kalau begitu saya akan memanggil mereka ke sini," sahut Roben.


Sungguh Ferdian berhati-hati karena Trishna merupakan seorang manusia dengan darah vampir. Dia tidak mau ada yang coba mencicipi darah spesial Trishna.


.


.


.


.


.


Setelah selesai Trishna dibersihkan dan dirias akhirnya para pelayan itu pamit keluar. Ferdian tertegun menatap wajah Trishna yang telah memakai gaun berwarna merah darah dan make up yang sedikit tebal tapi terlihat sangat cocok.


"Dia terlihat sangat cantik Ferdi," ucap Alia yang tiba-tiba saja berada di dalam kamar itu.


Ferdian sebenarnya masih memiliki rasa benci dan kesal tetapi dia telah berjanji, tidak baik untuk dia pungkiri. Ferdian terpaksa menunjukkan wajah datar dan terpaksa memanggil Alia dengan sebutan Ibu.


"Tapi kamu harus menjaganya dengan baik apalagi dia bukan dari kaum kita, setelah pernikahan kalian pasti kalian akan menerima banyak masalah dari kaum-kaum kita dan kaum serigala, ibu mau kamu tetap berada di sampingnya," lanjut Alia lagi dengan wajah teduh.


"Aku tahu. Terima kasih telah mengingatkanku ... ibu," ucap Ferdian sedikit canggung.


Senyuman Alia mengembang setelah mendengar Ferdian memanggilnya ibu untuk pertama kalinya walaupun dia tahu Ferdian hanya terpaksa.


.....


Trishna dikejutkan dengan bunyi trompet yang bersahut-sahutan. Dia bangun lalu yang pertama dia lihat adalah langit-langit kamar. Trishna menatap bingung kenapa langit-langit kamar terlihat sangat berbeda.


'Kenapa langit kamar ini berubah jadi hitam-hitam dan corak pada penjurunya juga kenapa berubah menjadi corak burung warna keemasan, bukankah tadi kelelawar dan bulan sabit?' batin Trishna merasa bingung.


Sekali lagi bunyi trompet kembali berbunyi dan bersahut-sahutan, membuat Trishna cepat-cepat duduk dan menoleh ke arah kirinya yang terdapat jendela yang gordennya telah disingkap.


"Ini bukan kamar tadi," ucap Trishna setelah sadar dengar keadaan dalam kamar ini.

__ADS_1


Baru saja dia hendak turun dari atas tempat tidur itu, dia kembali dibuat terkejut karena pakaiannya.


"Ken-kenapa aku memakai pakaian seperti ini," ucap Trishna kaget.


Trishna masih merasa bingung, sempat terlintas dipikirannya bahwa dia diculik oleh seseorang dan menganti pakaiannya tapi itu cukup mustahil karena untuk apa penculik menganti pakaiannya.


"Kau sudah bangun?" tanya Ferdian yang tiba-tiba saja muncul.


Trishna dengan cepat menatap ke arah Ferdian dan penampilan Ferdian terlihat begitu rapi dan sangat tampan.


Trishna tidak bisa berkata-kata karena pikirannya belum bisa mencerna apa yang terjadi. Sehingga Ferdian mendekatinya dan mengikis jarak antara wajahnya dan wajah Ferdian.


Cup!


Sebuah kecupan mendarat pada bibir Trishna yang dipolesi oleh gincu yang berwarna merah maroon.


"Jangan gugup, mari kita keluar. Kamu ikuti saja saya dan jangan banyak bicara," ucap Ferdian lirih.


Lagi-lagi Trishna seperti terhipnotis dengan ucapan Ferdian, dia mengangguk lalu dengan tangannya yang dipegang Ferdian, dia mulai turun dari atas kasur empuk itu.


Ferdian mengandengan tangan Trishna dan berjalan dengan penuh percaya. Setelah mereka melewati anak tangga yang cukup banyak itu dan lorong-lorong yang dipenuhi dengan pengawal kini mereka telah memasuki ruangan yang dipenuhi oleh banyak orang.


Setelah mereka telah masuk ke ruangan itu, sekali lagi trompet dibunyikan dengan bersahut-sahutan.


Trishna masih saja betah menatap wajah Ferdian yang membuatnya tidak bisa mengalihkan pandangannya.


Sebenarnya Ferdian sengaja memasang sihir pada Trishna agar dia tidak melihat tatapan sinis dari keluarga Gazel. Banyak juga yang menatap kagum dan menatap bingung.


Seorang Pendeta kini berada di hadapan mereka berdua. Saat nama Trishna disebut, barulah Trishna kembali sadar.


"Galang Ferdian Alverio dan Trishna Almeira Lindel, pada malam ini kalian akan bersatu menjadi suami istri lewat beberapa ritual yang akan dilakukan, apakah kalian siap?" ucap Pendeta itu dan kembali bertanya.


'Apa yang berlaku sebenarnya? Suami istri?' ucap Trishna dalam hati.


Namun, setelah ucapan sang Pendeta itu, Trishna dan Ferdian kompak menjawab dengan kata yang sama.


"Kami siap!"


"Baiklah kalai begitu kita akan mulakan ritualnya," sahut Pendeta itu.


Ferdian dan Trishna kini berhadapan, senyuman Ferdian tidak pernah luntur begitu juga dengan Trishna.


Trishna sadar apa yang dia lakukan bukanlah kehendak dirinya tetapi seperti ada yang mengawal dirinya.


Pendeta mulai mengambil tangan Ferdian lalu melukakannya menggunakan pisau hingga keluar darah yang banyak. Darah dari tangan Ferdian ditadahkan ke dalam sebuah gelas, setelah merasa cukup banyak barulah Pendeta tadi menghentikan darah Ferdian dengan mengusap tangan Ferdian.


'Di-dia lu-luka Tu-tu-Tuan ...,' ucap Trishna dalam hati karena kaget dengan kejadian aneh tadi.


Tiba-tiba tangan Trishna menerima gelas yang berisi darah Ferdian dan meneguknya hingga tandas. Walaupun dalam hati Trishna merasa jijik karena meminum darah Ferdian yang terasa seperti besi itu.


Apalah daya Trishna hendak protes, dirinya saja tidak bisa mengawal gerakan tubuhnya.


Trishna hanya pasrah dengan apa yang terjadi.


"Sekarang giliran kamu Ferdian, hisaplah darahnya pada bagian leher istrimu," ucap Pendeta memberi arahan.


Kalau biasanya Ferdian menghisap darah Trishna lewat pundaknya saja, tapi kali ini dia akan menghisapnya pada leher Trishna agar tanda suci suami istri akan muncul pada tengkuk Trishna.


Ferdian mengeluarkan taringannya yang panjang dan tajam, dia mulai menarik perlahan Trishna dan mengikis jarak antara mereka.


"Terima kasih karena sudah mau menjadi istriku," bisik Ferdian lirih pada telinga Trishna sebelum dia menancapkan taringannya pada leher Trishna.


Ferdian sungguh berhati-hati dalam menancapkan taringnya pada leher Trishna karena kalau salah bisa tamatlah riwayat hidup Trishna.


'APA! JADI BENAR MIMPIKU WAKTU ITU, TUAN GALANG ADALAH VAMPIR!' teriak Trishna dalam hati.


Ingin sekali dirinya berteriak tetapi apa yang terjadi saat ini tidak seperti kehendaknya. Ferdian telah menghisap darah sekitar 2 menit dan menyelesaikannya setelah Pendeta menyuruh berhenti.


Kepala Trishna mulai terasa berat karena darahnya telah dihisap, dia mulai merasa kesal terhadap Ferdian, sekaligus merasa benci kepada Ferdian tetapi tidak pada raut wajahnya yang terlihat begitu bahagia.


"Sekarang telanlah batu permata ini," ucap Pendeta dengan memberikan 2 batu permata yang berwarna hijau berkilau.


Trishna dan Ferdian serempak menelan batu permata tersebut dan tiba-tiba Trishna merasa tengkorokannya dan dadanya merasa sangat panas sehingga dia tidak bisa menahannya.


Brugh!

__ADS_1


Trishna ambruk dan hampir saja jatuh dilantai mujur saja tangan Ferdian cepat menyambutnya.


Selang berapa menit, sebuah cahaya muncul pada tengkuk Trishna dan telapak tangan Ferdian. Sebuah simbol berbentuk V dengan dilingkari corak bunga dan bentuk bulan sabit.


Simbol yang keluar itu membuat semua yang ada di sana tercengang, bagaimana bisa simbol yang keluar ada simbol yang unik dan berlaku kepada pemimpin pertama bangsa vampir.


Bisik-bisik para vampir yang lain terdengar di dalam ruangan itu.


"Siapa wanita itu sehingga dia bisa dapat simbol suci itu"


"Mungkin karena Ferdian keturunan Alverio"


"Berarti mereka merupakan pemimpin masa depan"


"Mereka sangat beruntung"


"Aku curiga wanita itu bukan manusia sepertinya"


"Pasti wanita itu merupakan vampir campuran"


"Berarti bukan Ferry yang memimpin nanti"


"Mau jadi apa kita dengan vampir muda ini"


Banyak lagi bisik-bisik yang terdengar, ada yang memuji, ada yang sinis dan ada yang bertanya-tanya. Ferdian coba mengabaikan semua bisikan itu, saat ini dia fokus pada Trishna yang masih tidak sadarkan dirinya.


"Jangan risau, dia akan bangun nanti itu efek dari batu permata tadi dan darah kamu yang telah dia minum. Semuanya akan baik-baik saja Ferdian, saya harap kamu bisa menjaga istrimu apalagi kamu ada pemimpin yang akan datang," ucap Pendeta itu.


Ferdian hanya mengangguk, kini waktunya ritual siraman air suci. Ritual tersebut akan dilakukan oleh Ayah dan Ibu tiri Ferdian sebagai tanda merestui hubungan mereka.


"Selamat ya nak," ucap Alia sembari mencium pipi kanan kiri Ferdian dan dia lakukan juga pada Trishna yang berada dalam gendongan Ferdian lalu menyiram pada kepala Trishna dan Ferdian air suci tadi.


Kini giliran Ayah Ferdian yang masih menatap Ferdian dengan sinis, sebenarnya dia tidak setuju Ferdian menikahi manusia karena bisa saja keturunannya akan dijelekkan masyarakat vampir tetapi setelah bujukan oleh sang istri tercinta dia terpaksa menuruti dan semakin yakin ketika melihat simbol Ferdian dan Trishna.


"Selamat, jaga baik-baik istrimu karena bahaya akan selalu mendekatimu," ucap Ayaj Ferdian lalu menyiram sedikit air suci di atas kepala Ferdian dan Trishna.


Kini sempurnalah sudah ritual pernikahan antara Ferdian dan Trishna. Saat ini acara telah bubar karena semuanya memang sudah selesai.


Ferdian membawa Trishna kembali ke kamarnya, dia berpikir untuk membiarkan Trishna menerima kenyataan barulah dia akan membawa Trishna kembali ke dunia manusia.


Seharusnya malam ini merupakan malam pertama mereka tetapi Trishna belum sadar dan Ferdian terpaksa menangguhnya. Lagi pula mana mungkin dia lakukan secara paksa kepada Trishna.


Ferdian memilih akan menunggu Trishna sehingga dia benar-benar mengizinkan dirinya, karena yang dia takuti adalah Trishna menjauhinya dan membenci dirinya.


"Sekarang kamu istirehat, tidur yang nyenyak ya," ucap Ferdian lalu mengecup bibir Trishna sekilas.


Ferdian memanggil beberapa pelayan kastil untuk membantu Trishna membersihkan dirinya dan mengantikan gaunnya menjadi gaun tidur.


Sedangkan Ferdian akan duduk di sofa dalam kamarnya dengan meminum anggur merah sambil menatap ke arah foto mendiang ibu kandungnya.


"Ibu, Ferdi sudah menikah. Dia cantik seperti ibu, sifat agak sedikit garang seperti ibu dan dia sangat baik seperti ibu. Semuanya sama seperti ibu," ucap Ferdian sambil minum anggur merah.


Ferdian kembali menoleh ke arah para pelayan yang sibuk menganti pakaian Trishna dan tiba-tiba saja Ferdian merasa sedikit panas dan tergiur dengan lengkuk tubuh Trishna.


'Tidak aku tidak boleh menyentuhnya sehingga dia mengizinkanku, huhh sabarlah junior pasti waktunya akan datang,' batin Ferdian yang mengalihkan pandangannya dari Trishna.


Ferdian berdiri dan berjalan menuju ke arah balkon kamar, dia melihat langit sungguh gelap dan dihiasi dengan bintang-bintang.


Ketika dia melihat ke bawah dia melihag Ferry yang keluar diam-diam dari kastil dan berjalan cepat menuju ke arah utara, di mana itu adalah jalan untuk keluar ke kota.


"Ke mana dia mau pergi malam-malam buta begini. Sangat mencurigakan," ucap Ferdian perlahan.


Ferdian memanggil Roben dan memberitahu Roben lewat telepati untuk mengikuti Ferry untuk mencari tahu apa yang akan dilakukan Ferry malam-malam seperti ini.


Entah kenapa Ferdian bisa merasa curiga, apalagi dengan pakaian yang tertutup begitu. Setelah melihat kepergian para pelayan itu, barulah Ferdian kembali masuk ke dalam kamar.


Ferdian menghampiri Trishna dan duduk di samping Trishna. Dia mengusap pipi Trishna dengan lembut dan mulai merasa gemas.


"Kalau kau diam begini terlihat semakin menggoda," ucap Ferdian dengan tertawa kecil.


Ferdian meninggalkan Trishna tidur dan dia pun membersihkan dirinya agar bisa tidur dengan sang istri.


Setelah selesai, Ferdian ikut berbaring di sebelah Trishna dan mulai memeluk Trishna dengan posesif.


"Mulai hari ini kau sudah sah menjadi milikku dan akan aku bunuh siapa saja yang berani mengambilmu dariku. Trish, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku percayalah," bisik Ferdian sebelum ikut meluncur ke alam mimpi.

__ADS_1


Sebenarnya Ferdian tidak tidur karena merasa sedikit gugup dengan posisinya bersama Trishna saat ini. Dia masih tidak habis pikir, wanita yang pernah meneriaki dirinya telah menjadi istrinya.


Bersambung....


__ADS_2