Suamiku Vampir Penghisap Darah

Suamiku Vampir Penghisap Darah
Bab 41


__ADS_3

Ferdian berada di dalam ruangan Trishna, dia bersedakap dada karena sampai saat ini batang hidung Trishna belum muncul. Terbesit rasa curiga terhadap Trishna.


"Apa jangan-jangan Trishna kabur!" ucap Ferdian yang terlihat sedikit panik.


Tiba-tiba Roben berbicara lewat telepati.


"Nona sudah berada di dalam lift Tuan."


Ferdian tidak menjawab dia melihat ke arah jam yang melingkar pada tangan kirinya.


Jam sudah menunjukkan pukul 9:05 menit berarti Trishna terlambat selama 5 menit.


Padahal janjinya tadi pagi, dia akan tiba sebelum jam 9. Rasa curiga Ferdian semakin menjadi-jadi karena jarak antara kantor perusahaannya dengan sekolah Tiana hanya memerlukan 20 menit jika terjadi kemacetan dan jika tidak terjadi kemacetan perjalanan hanya akan memakan lebih kurang 15 menit.


Ceklek...


Trishna membuka pintu ruangannya dan sedikit kaget karena Ferdian sedang duduk pada kursi meja kerjanya. Trishna menelan air liurnya dengan bersusah payah karena takut ketahuan apa yang dia rencanakan.

__ADS_1


"Kamu terlambat Trish!" seru Ferdian dengan wajah sedikit dingin.


"Ma-maaf Tuan tadi saya hampir lu-lupa waktu saat bertemu dengan Tiana," sahut Trishna dengan sedikit gugup.


"Kamu yakin?" Ferdian memicingkan kedua matanya. "Kamu tidak ketemu pria lain kan?" lanjut Ferdian lagi dengan menatap intens ke arah Trishna.


Trishna menghela nafas lega karena Ferdian tidak mencurigai hal lain. Tetapi merasa aneh karena bisa-bisanya Ferdian mengira dia akan bertemu dengan pria lain.


"Yakinlah Tuan, tidak ada pria lain Tuan," sahut Trishna dengan memasang wajah memelas.


"Ingat Trish, kau sudah menjadi istriku. Jangan dekat-dekat dengan pria lain," ucap Ferdian kembali mengingatkan Trishna.


Setelah merasa puas dengan jawab Trishna, Ferdian kini berjalan menuju ke arah Trishna yang berdiri dekat pintu masuk ruangan Trishna.


Ferdian berhenti di hadapan Trishna dengan tatapan yang tidak lepas dari menatap wajah Trishna. Jujur Ferdian mengakui bahwa Trishna terlihat semakin cantik setelah menikah dengannya dan membuat Ferdian semakin tertarik dan tanpa sadar sifatnya tadi menunjukkan betapa posesifnya dia.


"Tuan ini di kantor, jangan macam-macam," ucap Trishna karena saat ini jarak mereka benar-benar sangat dekat.

__ADS_1


Trishna takut Ferdian akan kembali mencium bibirnya dan ada karyawan yang melihatnya. Dia tidak mau namanya baiknya dicoret oleh ulah Ferdian.


"Aku hanya ingin mencium istriku saja," ujar Ferdiaj enteng dan tanpa aba-aba segera menarik pinggang Trishna hingga menempel pada dirinya.


Ferdian kembali ******* bibir Trishna dengan begitu berg**irah. Semakin hari semakin dia tidak bisa menahan hasratnya sebagai seorang laki-laki.


Trishna coba memberontak karena saat ini mereka masih berada di kantor, bisa saja mereka ketahuan. Tetapi apalah dayanya Ferdian semakin mendalami tautan bibir mereka.


Nafas Trishna mulai tersengal-sengal karena ulah Ferdian. Dia berusaha menolak diri Ferdian hingga Ferdian sedikit terdorong dan langsung melepaskan tautan bibir mereka.


"Maaf-maaf, aku tidak bisa mengawal diri," ucap Ferdian merasa bersalah setelah melihat Trishna meraup oksigen dengan cepat.


Setelah sedikit tenang, Ferdian kembali mendekati Trishna lalu mengusap puncak kepala Trishna.


"Kerja yang baik, sebentar malam aku menjemputmu," ucap Ferdian sebelum keluar dari ruang Trishna.


Ferdian meninggalkan Trishna agar Trishna bisa fokus mengerjakan pekerjaannya tanpa dia tahu tujuan sebenar Trishna datang ke kantor apa.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2