
Ferdian berjalan mondar mandir di dalam kamarnya, saat ini dia telah kembali ke kastil tua yang terletak di dalam hutan belantara.
Ferdian bersama Roben tampak sedikit panik karena mimpi yang dikatakan oleh Trishna tadi.
"Aku yakin itu adalah kekuatannya, tapi kamu yakin Rob sudah menghapus memori yang terjadi waktu itu?" tanya Ferdian entah yang ke berapa kalinya.
"Sangat yakin Tuan," jawab Roben.
"Saya rasa itu benaran cuma mimpi Trishna Tuan, lagian dia tidak mengatakan bertemu seorang wanita kan?" lanjut Roben lagi.
Ferdian menggelengkan kepalanya karena Trishna tidak menyebut tentang Daya yang datang tadi.
.....
"Wanita itu siapa sih Sayang? Apa jangan-jangan Sayang selingkuh di belakangku?" tanya Daya dengan wajah yang terlihat emosi.
Daniel menarik Daya hingga jatuh ke pangkuannya, dia menyempatkan diri mengecup bibir Daya sebelum menjawab pertanyaan Daya tadi.
"Dia ponakanku Baby," jawab Daniel berbisik di daun telinga Daya.
Daya tersenyum tipis tetapi dia masih saja merasa curiga karena Daniel tidak punya saudara lalu dari mana datang keponakannya. Hal itu membuat Daya kembali merengut.
"Ponakan? Bukankah kamu anak tunggal?" ketus Daya.
Daniel merasa gemas melihat sang kekasih yang terlihat cemberut, dia meletakkan kepalanya di pundak Daya.
"Aku punya seorang Kakak, tapi dia sudah meninggal," jelas Daniel dengan suara sendu.
Daya mengerutkan dahinya karena selama ini dia tidak pernah mendengar cerita tentang kakak Daniel.
"Kakakku Elizabeth Lindel, dia yang mati karena dihukum atas kesalahan yang bukan salahnya. Keluarga Alverio sudah lama mengincar kedudukan tertinggi sebagai pemimpin dan sebenarnya kedudukan itu tetap jatuh kepada Kak Elizabeth. Keluarga Alverio tidak menerimanya dan mencari tahu tentang Kakakku, sehingga mereka mengetahui Kakakku menikahi manusia dan memiliki anak tapi karena Ayah menuntut Kakak untuk meninggalkan manusia itu akhirnya Kakak kembali demi kebaikan mereka," cerita Daniel dengan serius.
"Hal itu membuat Kakak masuk dalam kesialan, ternyata kelompok serigala menangkap Kakak dan menjadikan Kakak budak mereka. Suatu hari Kakak hamil dari hasil hubungan dengan raja serigala dan di situlah Kakak ditangkap dan dihukum," lanjut Daniel lagi.
Daya mengangguk tapi dia masih kurang mengerti kenapa harus balas dendam kepada keluarga Alverio.
"Seharus kamu cari serigala itu bukan balas dendam pada keluarga Alverio," timpal Daya.
Daniel menatap Daya yang berwajah polos.
"Keluarga Alverio telah menjebak Kakak dan bekerjasama dengan kelompok serigala," ungkap Daniel.
Mata Daya membulat sempurna karena dia tidak menyangka keluarga Alverio begitu licik dalam merebut kedudukan tertinggi sebagai pemimpin.
"Tapi Sayang kamu yakin? Kamu ada bukti?" tanya Daya ingin meminta kepastian.
Daniel mulai merasa geram karena pertanyaan Daya seolah-olah menganggapnya menjelekkan keluarga Alverio.
"Kamu kenapa sih? Sepertinya kamu lebih memilih berpihak pada keluarga Alverio dan menganggap aku mengarang cerita saja," jawab Daniel dengan nada kesal.
Raut wajah Daya berubah, dia merasa bersalah karena telah meragukan cerita Daniel. Daya menc*um pipi Daniel.
__ADS_1
"Maaf Sayang, bukan aku berpihak kepada mereka. Hanya saja aku sedikit kaget dengan cerita itu dan tidak menyangka mereka sekeji itu," ucap Daya lalu mengalungkan tangannya di leher Daniel.
"Hmmm," jawab Daniel berpura-pura masih kesal.
"Ayolah Sayang, aku sudah minta maaf. Maafkan aku ya hmm atau kita ke kamar saja," goda Daya.
Daniel tersenyum lalu secepat angin membawa Daya berpindah tempat dan kini mereka telah berada di dalam kamar miliknya. Akhirnya terjadilah apa yang menurut readers pikirkan.
.
.
.
.
.
Trishna bangun pagi lalu bersiap untuk memasuki kantor hari ini karena dia telah berlibur selama 2 hari akibat mengalami anemia.
Hari ini Trishna melakukan tugas yang menjadi hukumannya. Awal pagi lagi Trishna telah memasak makanan yang membuat indera rasa siapa pun akan tertarik ingin mencoba masakannya.
"Haraplah Tuan Galang menyukainya," ucap Trishna lirih setelah selesai menata makanan sebagai sarapan pagi di meja makan.
Sekitar setengah jam Ferdian belum juga keluar dari kamarnya, Trishna tidak berani mengetuk karena dia pasti Ferdian tidak akan memperdulikannya lagi seperti kemarin.
"Dasar tidur mati," gerutu Trishna lalu mulai memakan sarapan pagi.
Trishna tidak bisa menunggu Ferdian lagi karena dia tidak ingin telat masuk ke kantor apalagi jabatan dia saat ini harusnya memberi contoh yang baik pada karyawan lain.
Trishna mengira dia akan terjatuh tetapi dengan kecepatan yang dia sendiri pun tidak sadar, tangan pria tersebut sudah menahan tubuhnya yang hampir jatuh.
"Maafkan saya, saya tidak sengaja," pria itu lantas membantu Trishna kembali berdiri tegak.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya pria itu lagi.
"Ya saya baik-baik saja," jawab Trishna menundukkan kepalanya.
Sebenarnya Trishna sempat terpana melihat wajah pria itu yang terlihat begitu sempurna. Bulu matanya yang terlihat melentik membuat Trishna kagum.
"Kamu lagi buat apa di sini?" tanya pria itu yang coba berbasa basi.
"Ah saya lagi tunggu taksi, habislah saya sudah terlambat," Trishna baru ingat tentang taksi yang dia tunggu dari tadi. Dia menjadi sedikit cemas karena jam telah menunjukkan jam 7:40 pagi.
Trishna melihat ke kiri kanan di jalanraya tersebut tapi tidak terlihat taksi yang lewat.
'Aduh aku akan telat,' batin Trishna.
"Ayo ikut mobilku, anggap saja ini permintaan maafku karena melanggarmu tadi," tawar pria itu yanh tersenyum tipis dan tulus.
Trishna tidak ada pilihan lain karena dalam pikirannya dia harus sampai ke kantor perusahaan sebelum jam 8 pagi. Trishna pun mengangguk lalu mengikuti langkah pria itu. Tidak ada rasa ragu mau pun takut karena Trishna mempercayai pria yang baru saja dia kenali itu.
__ADS_1
Sekitar 15 menit mereka menempuh jalan raya yang cukup padat. Kelihaian pria itu membawa mobil sungguh menakjubkan sehingga sampai ke kantor di mana Trishna bekerja hanya memerlukan 15 menit.
Sebelum berpamitan pria itu sempat berkenala dengan Trishna.
"Saya Daniel, ini kartu saya. Bisa hubungi saya jika ada waktu luang dan saya tunggu," ucap pria yang bernama Daniel itu.
"Ehh saya Trishna, baiklah apa pun terima kasih nanti saya pasti akan membalas budi Pak Daniel," jawab Trishna malu-malu lalu bersalaman dengan Daniel.
Trishna memasuki kantornya dengan wajah yang sumringgah.
"Hari ni beruntung banget, bisa ketemu calon masa depan," ucap Trishna lirih lalu tertawa kecil setelah sampai ke ruangannya.
Jam semakin berlalu kini sudah waktunya untuk pulang. Trishna merasa sedikit tenang karena satu hari bekerja hari ini tidak ada Ferdian datang memanggilnya dengan beribu alasan.
"Kalau begini tiap harikan bagus," ucap Trishna sambil mengemas barang-barangnya dan bersiap untuk pulang.
Trishna keluar dari kantornya dengan wajah yang masih saja sama seperti pagi tadi. Setiap karyawan yang menyapanya akan dia balas dengan sapaan dengan senyuman yang lembut.
Sebelum benar-benar pulang Trishna menyempatkan diri beristirehat di sebuah kafe yang tidak jauh dari kantornya dan hanya perlu berjalan kaki saja.
Sedang asyik menikmati kopi capuccino tiba-tiba seorang wanita mendekatinya dengan wajah datar. Trishna tidak sadar karena dia sedang asyik memainkan ponselnya dengan melihat sosmednya.
"Nampaknya kau sedang bersenang-senang," sindir seorang wanita tadi.
Trishna langsung saja mengangkat wajahnya dan menatap ke arah suara yang menegurnya tadi.
"Lena, kau buat apa di sini?" sapa Trishna sambil tersenyum bahagia karena bertemu dengan teman lamanya.
"Kafenya kamu hingga aku tidak boleh berada di sini," ketus Lena.
Lena masih saja menyimpan dendam dengan Trishna dan dendamnya semakin membara apabila mendengar Trishna dinaikkan jabatan secara tiba-tiba.
"Maaf maksudku bukan begitu Len," jawab Trishna yang merasa bersalah.
"Halah tidak usah sok polos, kamu kan memang begitu kemarin menolak tawaran sekarang tiba-tiba dinaikkan jabatan. Heh aku curiga dengan kau Trish, apa kau merayu Tuan Galang sehingga kau bisa menjadi manager?" ucap Lena dengan sinisnya.
Trishna sudah tentu tidak terima dengan tuduhan Lena, dia hanya tidak menyangka Lena yang dulunya baik hati dan lembut kini berubah. Apa mungkin ini adalah sifat asli Lena, Trishna pun tidak mengerti.
"Aku tidak merayunya," jawab Trishna.
"Terus menjual tubuhmu padanya?" ucap Lena lagi.
Plak!!
Kali ini Trishna sudah tidak bisa menahan amarahnya karena Lena sudah keterlaluan. Dia menampar Lena dengan kuat sehingga pengunjung kafe itu mulai berbisik-bisik.
Salah satu pelayan mendatangi Trishna dan Lena.
"Maaf mbak, jika kalian ingin berkelahi atau berdebat silakan keluar sebelum saya memanggil petugas keamanan," ucap pelayan kafe itu dengan wajah serius.
Trishna mengeluarkan uang merahnya 2 lembar lalu diletakkan di atas meja dan meninggalkan Lena yang masih berdiri terpaku.
__ADS_1
'Sial aku akan membalasmu Trish!' batin Lena.
Bersambung...