
Ferdian menatap marah ke arah pria yang berhasil ditangkap Roben, terrnyata Ferdian dan Roben berhasil dikelabui oleh Daniel.
Saat ini yang berada di hadapan mereka bukanlah Daniel tetapi merupakan manusia biasa yang terkena sihir yang busa menyerupai wajah seseorang.
Ferdian mulai tersenyum licik karena dia cukup mengenal seseorang yang mempunyai sihir seperti ini. Apalagi di dunia vampir cuma ada satu keluarga mempunyai sihir seperti ini.
"Rob, kita ke kastil besar Gazel," ucap Ferdian dengan wajah yang licik.
Roben mengangguk menyetujui Ferdian karena dia tahu apa yang akan Ferdian lakukan di kastil besar Gazel.
'Daya aku akan membuat kau dihukum,' batin Ferdian.
.
.
.
.
.
Sedangkan Daya saat ini asyik melakukan hubungan panas dengan Daniel, tiba-tiba pembantunya memanggilnya lewat telepati.
"Nona, nona! Tuan Besar memanggil anda dan sepertinya Tuan dalam keadaan marah. Dia mengancam akan membunuh kita kalau Nona tidak datang ke kastil sekarang," ucap pembantu Daya.
__ADS_1
"Apa!" ucap Daya tanpa sadar berteriak.
Goyangan Daniel terhenti karena kaget mendengar Daya berteriak.
"Ada apa Baby? Kau buat aku terkejut," tanya Daniel yang masih berada di atas tubuh Daya.
"Maaf, tetapi Daddyku sedang marah. Dia menyuruhku pulang sekarang kalau tidak aku akan dibunuh," jawab Daya dengan raut wajah cemas.
Daniel belum mencabut penyatuan mereka, dia masih merasa bingung dengan ucapan Daya.
"Sayang, aku harus pergi. Nanti baru kita lanjutkan ya," lanjut Daya lagi.
Daniel memasang wajah kesal karena belum ada air kehidupan yang berhasil dia lepaskan. Daniel mencabut paksa barangnya lalu kembali berdiri dengan wajah datar.
"Sayang maafkan aku, aku harus pulang karena Daddy memanggilku," rayu Daya lagi.
"Pergilah sebelum Daddymu semakin marah," ucap Daniel lalu memasuki kamar mandi dalam kamarnya itu, dia ingin membersihkan tubuhnya.
'Kalau bukan karena aku ingin mempergunakan kau saat ini sudah aku mengusirmu karena kau akan menjadi bagian Alverio,' batin Daniel kesal.
Daya tahu saat ini Daniel sangat kesal tapi dia tidak bisa mengingkari perintah dari Daddynya.
Dengan secepat angin Daya mengenakan kembali pakaiannya lalu menghilang dari dalam kamar Daniel.
.....
__ADS_1
Tuan Gazel yang merupakan ayah Daya terlihat begitu beremosi. Dia menunggu Daya di dalam ruangan pertemuan bersama Ferdian calon anak menantunya. Manik mata tajam Gazel memandang ke arah pintu setelah terbuka.
"Maaf Daddy, tapi ada apa Daddy memanggilku menggunakan ancaman?" ucap Daya dengan penuh sopan dan sempat melirik sekilas ke arah Ferdian yang tersenyum miring.
Gazel berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju ke arah Daya. Setelah berhadapan dengan Daya, Gazel langsung melayangkan tamparan keras pada pipi Daya sehingga membuat Daya terdorong ke sebelah kanan.
"Daddy kenapa menampar Daya?" tanya Daya sambil memegang pipinya yang terasa perih karena Daddynya menamparnya menggunakan sarung tangan yang berlapis perak.
"Jangan munafik kamu! Kamu bersekongkong dengan musuh calon suami kamu kan!" bentak Gazel.
Daya menggelengkan kepalanya, tubuhnya gementar. Dia takut hubungannya bersama Daniel terungkap.
'Sial apa gara-gara Ferdian!' batin Daya masih sempat menatap ke arah Ferdian yang sedang tersenyum licik sedari tadi.
Gazel masih merasa tidak puas karena dia merasa malu kepada Ferdian karena putri ketiganya benar-benar melakukan kesalahan fatal.
"Aku dengar dia berhubungan dengan pria yang bernama Daniel Lindel," sahut Ferdian sengaja mengompori Gazel.
Dengan cepat Gazel menarik rambut Daya sehingga kepala Daya mendongak.
"Apa benar kau menjalinkan hubungan dengan keturunan Lindel hah!" tanya Gazel dengan nada semakin berapi-api karena kemarahan.
"Ti-tidak Daddy, a-aku ti-tidak menge-nalinya," kelit Daya.
Gazel mengambil bukti lalu menunjukkannya pada Daya.
__ADS_1
"Terus ini apa?" tanya Gazel sambil menguatkan tangannya menarik rambut Daya.
Bersambung...