Suamiku Vampir Penghisap Darah

Suamiku Vampir Penghisap Darah
Bab 33


__ADS_3

Sudah hampir 2 minggu, Lena sudah mulai bekerja sebagai sekretaris Ferdian tetapi dia masih saja cuek dan jutek kepada Trishna.


Sepertinya Lena begitu menyimpan dendam pada Trishna sehingga hari ini. Lena sengaja melanggar Trishna yang berjalan menuju ke arah ruang Ferdian lalu sempat mendorong Trishna.


Lena mengira Trishna akan jatuh tersungkur, tapi rupanya dia salah. Mata Lena membulat dan dia menutup mulutnya menggunakan tangan kirinya menyaksikan apa yang terjadi di hadapannya.


"Kau tidak apa-apa Trish?" ucap Ferdian dengan raut khawatir setelah membantu Trishna untuk kembali berdiri.


"Tidak Tuan, maaf Tuan. Tadi saya hampir jatuh dan terima kasih Tuan," jawab Trishna lalu menundukkan kepalanya karena malu.


"Kenapa kau bisa hampir jatuh?" tanya Ferdian lagi walaupun dia sudah mengetahui alasannya.


"Itu ta-di ...," jawab Trishna gugup lalu menoleh dan menatap tajam ke arah Lena.


Wajah Lena terlihat pucat, dia mulai berkeringat dingin setelah Ferdian dan Trishna menatap ke arahnya.


'Ck bagaimana Tuan Galang bisa berada di sini atau aku yang tidak lihat tadi, ahh jangan sampai aku dipecat gara-gara mendorong Trishna. Aku harus cari alasan,' batin Lena.


"Oh ...," ucap Ferdian lalu tersenyum seperti tidak ada masalah padahal dia sudah mendengar ucapan Lena di dalam hati.


"Lantainya mungkin licin, hmmm nanti aku akan peringati karyawan cleaning service untuk lebih memperhatikan pekerjaan mereka lagi," ucap Ferdian lagi dengan wajah serius.

__ADS_1


"Tapi bukan ...," jawab Trishna lalu menunjuk Lena.


Trishna sedikit kesal kenapa Ferdian menjadi tidak peka dengan sekitarnya padahal biasanya Ferdian bisa dikatakan posesif jika itu berkaitan dengan dirinya.


"Kenapa dengan Lena?" tanya Ferdian berpura-pura bodoh.


Trishna membuang mukanya. Darahnya terasa seperti mendidih apalagi sejak kehadiran Lena menjadi sekretaris Ferdian. Trishna sering dibuli oleh Lena.


"Tidak!" jawab Trishna ketus.


Ferdian mengernyitkan dahinya tetapi dalam hati dia tersenyum menang karena berhasil membuat Trishna kesal walaupun sebenarnya Ferdian ingin sekali memarahi Lena.


'Huft nasib Tuan tidak curiga itu aku,' batin Lena menghela nafas lega.


"Eh, saya-saya.. Oh saya ingin menghantar berkas ini ke Tuan tadi," jawab Lena sambil menunjukkan berkas di tangannya.


"Baiklah kalian berdua bisa masuk ke ruanganku sekarang," ucap Ferdian tegas lalu memasuki ruangannya terlebih dahulu.


Trishna dengan wajah kesal menyusul masuk setelah Lena telah masuk karena dia tidak mau kejadian tadi diulangi oleh Lena.


'Menyesal aku rekomen orang tidak tau diri,' gerutu Trishna.

__ADS_1


Setelah sampai di dalam ruangan Ferdian, tiba-tiba Trishna kembali pusing tapi dia berusaha menahannya agar dia tidak jatuh dari berdiri.


Wajah Trishna terlihat semakin pucat sehingga dia terpaksa memotong bicara Ferdian.


"Tuan, Tuan maaf saya mengintrupsi. Tapi izinkan saya keluar lebih dahulu, saya ada keperluan sangat penting," ucap Trishna memberi alasan.


Ferdian menatap wajah Trishna yang terlihat sangat pucat, dia mulai khawatir.


"Trish, kau pucat? Kau baik-baik saja kan?" bukan menjawab Ferdian malah kembali bertanya.


"Saya baik-baik saja Tuan, tapi izinkan saya keluar sekarang," ujar Trishna lagi karena kepalanya semakin terasa berat.


"Kayaknya Trishna lagi sakit Tuan, izinkan keluar saja Tuan. Biar saya susul dia kemudian," ucap Roben lewat telepati.


Ferdian mengangguk dan timbulah rasa bersalah dalam pikirannya.


"Baiklah kamu bisa pergi," jawab Ferdian.


Anak mata Ferdian tidak lepas melihat kepergian Trishna, mujur saja setelah Trishna keluar dari ruangannya, Roben langsung pamit ingin menyusul Trishna.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2