Suamiku Vampir Penghisap Darah

Suamiku Vampir Penghisap Darah
Bab 43


__ADS_3

Kedatangan Trishna dan keluarganya di sambut baik oleh keluarga Ronald. Sekarang mereka telah berada di desa Poraldo, Italia dan desa ini dikatakan sebagai desa para penyihir baik.


Trishna dan keluarganya diberikan sebuah rumah tamu untuk mereka tinggal, entah untuk berapa lama Trishna sendiri tidak yakin.


Namun, Trishna bersyukur karena berada jauh dari Ferdian si vampir itu. Walaupun dalam hati keculinya dia sangat merindukan Ferdian.


Trishna coba menolak kenyataan bahwa dia telah jatuh cinta dengan suami vampirnya itu, dia berpikir dirinya masih waras untuk menjalinkan hubungan dengan seseorang yang bukan manusia. Apalagi seseorang itu merupakan vampir penghisap darah.


Saat ini Trishna sedang duduk di meja makan di rumah sederhana yang mereka tempati itu. Ibunya datang menyapanya.


"Trish, ibu sudah tidak betah tinggal di sini tanpa jaringan tanpa tv, bagaimana ibu bisa hidup?" ucap Ibu Trishna dengan wajah tidak ramah lagi.


"Bersabarlah Ibu, tunggu keadaan membaik lalu kita akan kembali ke kota," jawab Trishna tanpa menatap ke arah sang Ibu.


Awalnya Ibu Trishna tidak masalah untuk tinggal di sini tetapi karena kehidupan di desa ini memang sangat sederhana sehingga membuatnya tidak betah. Apalagi kebiasaan berbelanja online dan menonton drama kesukaannya.


Ibu meninggalkan Trishna duduk sendiri dengan menggerutu. Trishna coba menoleh ke arah sang Ibu lalu menghela nafas panjang.


'Maafkan aku Bu karena telah menyeret kalian ke dalam masalahku,' ucap Trishna dalam hati.


Trishna kembali menatap ke luar, dia mulai menghitung sudah berapa hari dia berada di tempat ini tetapi tidak ada tanda-tanda.


Dia sendiri tidak tahu apakah benar Ferdian tidak mencari dirinya dan apakah dirinya sudah selamat jika kembali. Trishna tidak ingin menanggung resiko.


Oleh itu dia lebih memilih untuk tinggal beberapa tahun di desa ini, sekalian biar sang Ibu akan terbiasa hidup sederhana.

__ADS_1


'Kenapa aku terus memikirkan Tuan,' ucap Trishna dalam hati.


Trishna mencoba menyentuh bibirnya dan mulai membayangi wajah Ferdian. Lalu dengan cepat dia langsung menurunkan tangannya dan tubuhnya mulai gementar.


"Ke-kenapa dia seperti melihatku?" ucap Trishna.


Entah kenapa saat membayangkan Ferdian, wajah Ferdian terlihat marah dan menatap tajam ke arah Trishna.


"Apa jangan-jangan Tuan juga menggunakan sihir," lanjutnya lagi.


Trishna langsung bergegas keluar dari rumah menuju ke arah rumah Ronald untuk menceritakan hal ini. Dia tidak mau Ferdian menemuinya tetapi hati kecilnya terus memberontak ingin bertemu dengan Ferdian.


"Om! Om Ronald!" Teriak Trishna sambil mengetuk pintu rumah Ronald.


Trishna langsung menoleh ke arah suara Ronald lalu dengan cepat mendekati Ronald.


"Om tolong, tadi ... sepertinya Tuan sudah menemukanku," ucap Trishna mulai terisak-isak.


"Maksudnya bagaimana Trish? Om tidak mengerti," jawab Ronald sedikit bingung.


Trishna mulai bercerita tentang bayangannya tadi dan terlihat jelas raut wajah Ronald berubah, dahi Ronald mulai mengerut.


"Berarti dia menunggumu membayangkan dia Trish, sepertinya dia juga telah menggunakan kekuatan sihir." Ronald berkata sambil mengambil tongkat saktinya.


"Terus bagaimana sekarang Om?" tanya Trishna yanh terlihat semakin cemas.

__ADS_1


"Ajak keluargamu ke rumah Tuan Blair, kita akan meminta bantuan dari dia. Pergilah sekarang, jangan sampai Galang datang duluan sebelum kita pergi." Titah Ronald sambil mengemasi barang bawaannya.


"Baiklah." Trishna langsung saja keluar lalu kembali ke rumahnya.


.....


"Aku sudah menemuinya dan aku melihat simbol matahari. Roben, aku tahu di mana Trishna berada dan kita akan ke sana sekarang." Perintah Ferdian sambil tangannya membuat lingkaran teleportasi yang akan mereka gunakan.


'Trish, kenapa kau pergi? Aku sudah tahu kenapa aku ingin menikahimu, aku sudah jatuh cinta padamu Trish. Aku ingin mengatakan itu dan tidak akan membiarkanmu terlepas dariku lagi," ucap Ferdian dalam hati.


Ferdian dan Roben memasuki lingkaran teleportasi itu. Sekelip mata mereka menghilang.


.


.


.


.


.


"Kita sudah sampai,"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2