Suamiku Vampir Penghisap Darah

Suamiku Vampir Penghisap Darah
Bab 34


__ADS_3

Trishna melangkah dengan cepat menuju ke ruangannya. Sebelum memasuki ruangannya Trishna sempat menoleh ke belakang karena merasa ada seseorang sedang mengikutinya.


Namun, Trishna tidak menemukan seseorang pun di loronng itu hingga akhirnya dia memilih masuk ke dalam ruangannya.


Trishna duduk di sofa di dalam ruangannya dan merogoh isi tasnya yang terletak di atas meja berhadapan dengan sofa itu. Setelah menemukan obat barulah dia cepat-cepat mengambil minuman botol yang terletak di atas meja itu.


Trishna meneguk obat itu dengan cepat, seketika kepala Trishna mulai merasa ringan. Rasa pusingnya beransur hilang.


"Aku harus ketemu dokter untuk periksa kesehatanku," ucap Trishna lirih.


Trishna melirik ke arah jam tangannya untuk melihat sekarang pukul berapa. Memandangkan hampir 5 menit lagi waktunya pulang, Trishna cepat-cepat bersiap.


Hari ini Trishna akan pulang lebih dahulu karena dia harus periksa kesehatan terlebih dahulu.


Loceng waktu pulang akhirnya berbunyi serentak dengan Trishna yang membuka pintu ruangannya. Walaupun kepalanya masih tersisa rasa pusing, tapi saat ini dia sudah bisa mengontrolnya.


Trishna memesan taksi online. Awalnya dia hendak pamit kepada Ferdian tetapi setelah mengingat bahwa Ferdian membuatnya kesal tadi, dia kembali urungkan niatnya dan langsung keluar dari bangunan perusahaan.


Sekitar 5 menit akhirnya taksi yang ditunggu pun tiba, Trishna berlari masuk ke dalam taksi karena langit mulai menjatuhkan butir-butir airnya.


'Sepertinya akan hujan, hmm harap-harap pemeriksaan tidak akan lama,' batin Trishna setelah masuk ke dalam mobil taksi.


30 menit perjalanan menuju ke rumah sakit besar. Trishna sempat tertidur dan akhirnya dikejutkan oleh sopir taksi tersebut.


"Maaf ya Om, ini bayarannya," ucap Trishna lalu memberikan selembar uang merah kepada sopir taksi tersebut.


Setelah keluar dari mobil taksi, Trishna langsung saja melanjutkan untuk pergi ke ruang pendaftaran. Trishna akan melakukan pemeriksaan darah dan x-ray atau foto rontgen pada pundaknya karena sering berasa sangat ngilu seperti patah.


Kini Trishna sedang duduk di kursi menunggu untuk pemeriksaan x-ray. Dia menunggu sehingga gilirannya tiba.


Berapa menit kemudian.


"Trishna Miera Lindel," ucap salah satu perawat yang keluar.


Trishna mendengar namanya disebut lalu dia segera berdiri dan mengikuti perawat itu masuk ke dalam ruangan x-ray.


"Tidak ada yang patah ya mau pun retak, semua baik-baik saja. Mungkin pundak kamu sedikit terseleo, hati-hati saat tidur," ucap Dokter yang memeriksa Trishna.


"Baiklah terima kasih Dok," jawab Trishna.


Setelah selesai pemeriksaan Trishna bersiap untuk pulang. Baru saja hendak memesan taksi, panggilan dari nomor Ferdian masuk. Dengan malas Trishna menjawab panggilan telepon Ferdian.


["Helo, Trish kau di mana? Kenapa kau tidak berada di apartemen? Kenapa kau pulang sendiri tadi?"] tanya Ferdian dari seberang sana.

__ADS_1


Seperti biasa Ferdian akan bertanya dengan pertanyaan beruntun. Trishna memutar bola matanya malas hendak menjawab karena masih berasa kesal kepada Ferdian.


["Sebentar lagi pulang,"] jawab Trishna dengan nada malas.


["Kau di mana?"] tanya Ferdian lagi karena Trishna tidak menjawab satu pun pertanyaannya.


["Sudah ya Tuan, ini saya sudah mau pulang. Kita ketemu di apartemen saja,"] jawab Trishna lagi-lagi tidak menjawab pertanyaan Ferdian.


Trishna mematikan panggilan telepon sepihak dan mulai memesan taksi online. Trishna hanya menunggu sekitar 2 menit hingga taksi tiba.


.


.


.


.


.


Trishna memasuki apartemen yang terlihat sepi, merasa aneh karena biasanya Ferdian akan menunggu dirinya di ruang tamu.


"Ck, aku kira dia akan menunggu tapi ...," ucapan Trishna tergantung karena setelah membuka pintu kamarnya dia melihat wajah Ferdian sedang berdiri di hadapannya saat ini.


Ferdian mengambil posisi di atas Trishna. Kedua netra mata mereka beradu. Trishna seperti terhipnotis dengan tatapan teduh Ferdian.


'Matanya sungguh cantik,' batin Trishna tanpa sadar memuji Ferdian.


"Kau dari mana tadi Trish?" tanya Trishna Ferdian kepada Trishna.


Seperti seseorang yang terhipnotis, Trishna menjawab pertanyaan Ferdian dengan jujur.


"Saya dari rumah sakit Tuan," jawab Trishna masih betah menatap Ferdian.


"Kau sakit lagi? Kepalamu sakit?" tanya Ferdian mulai mencemaskan Trishna.


"Ya kepala saya sempat sakit, saya cek tensi darah tadi ternyata rendah dan saya juga melakukan x-ray terhadap pundak saya yang merasa ngilu dan perih ternyata mungkin keseleo sewaktu tidur kata dokter," terang Trishna.


Tidak ada lagi pertanyaan dari Ferdian. Tetapi entah apa yang membuat Ferdian terdorong untuk memagut bibir Trishna. Tidak ada penolakan dari Trishna sehingga Ferdian berani mengeluarkan ludahnya untuk memaksa bibir Trishna terbuka.


Trishna menutup kedua matanya tanpa sadar dia terbuai dengan permainan Ferdian. Trishna membalas ciu*an Ferdian, entah sejak kapan juga dia mulia mengalungkan kedua tangannya pada leher Ferdian.


Sedang asyik bercumbu, Ferdian dan Trishna dikejutkan dengan bunyi ponsel Ferdian. Dengan perlahan Ferdian melepaskan tautan bibir mereka dan kembali berdiri lalu merogoh ponselnya di dalam saku celananya.

__ADS_1


Trishna mematung di tempat


'Apa yang sudah aku lakukan, kenapa aku malah menikmatinya. Ck di mana harus aku letakkan wajahku, aku malu sangat-sangat malu,' ucap Trishna dalam hati.


Trishna coba menarik selimut miliknya tanpa menggerakkan tubuhnya lalu menutup wajahnya yang kian bersemu merah. Namun kembali dia buka selimutnya karena mendengar suara Lena dari ponsel Ferdian.


["Helo Tuan, maaf menganggu. Hmm saya bisa minta tolong?"] ucap Lena dari seberang sana.


Ferdian menoleh ke arah Trishna yang kepo ingin mendengar ucapan Lena. Senyuman tipis terukir pada bibir Ferdian, dia lantas duduk dibibir kasur empuk milik Trishna.


["Kenapa minta tolong pada saya? Tidak ada orang lainkah? Saya atasan kamu, jadi kamu jangan seenaknya,"] ucap Ferdian tegas.


Senyuman Trishna mengembang mendengar ucapan tegas Ferdian.


'Hehh, aku kira Tuan sudah jatuh cinta sama sekretaris seksinya padahal tidak,' ucap Trishna dalam hati sambil tertawa kecil


Ferdian sempat melirik ke arah Trishna yang diam-diam ketawa perlahan, dia mengaku dirinya sudah mulai tertarik pada Trishna hingga saat ini dia merasa bahagia bisa membuat Trishna tertawa kecil.


["Maaf Tuan maaf, tapi tidak ada yang bisa bantu saya. Saya tidak punya keluarga dan kenalan, hanya Tuan saja kenalan saya,"] jawab Lena lagi dari seberang sana.


["Kau bisakan telepon Roben kalau tidak ada yang bisa membantumu. Sudah kau telepon Roben saja, aku masih sibuk,"] sahut Ferdian lalu mematikan ponsel sepihak.


Tiba-tiba Trishna mengacungkan kedua jempolnya kepada Ferdian dengan wajah tersenyum senang. Apa yang dia lakukan bersama Ferdian tadi dia sudah lupa begitu saja.


"Kau senang sekali aku tegas pada Lena, bukankah dia temanmu?" tanya Ferdian.


Trishna langsung merubah raut wajahnya, entah kenapa dia tidak suka Ferdian berkata begitu.


"Dulu ya sekarang tidak, dia sendiri yang menolakku menjadi temannya," jawab Trishna lalu membuang mukanya ke samping.


Rasa kesal terhadap Lena semakin membesar apalagi kejadian di kantor tadi. Dada Trishna tiba-tiba kembali terasa panas karena kesal dan dia ingin melampiaskannya.


"Ck, Tuan tahu? Tadi dia coba mendorong saya tapi Tuan membelanya dan hari-hari lain dia selalu mengganggu saya membuli saya. Pernah satu kali dia mengunci saya di ruang OB, tapi Tuan tetap menutup mata. Ck sekarang keluar saja Tuan, saya sangat kesal!" ucap Trishna dengan nada yang semakin tinggi.


Ferdian menghela nafasnya. Sebenarnya dia sudah tahu semuanya, ada beberapa karyawan yang melaporkan padanya tetapi ini yang dia tunggu, Trishna memberitahu masalah dengan Lena pada dirinya.


"Tapi Trish, kau yang meminta dia menjadi sekretarisku. Terus sekarang kau mau aku memecat Lena? Ok kalau itu pilihanmu," sahut Ferdian dengam santainya.


"Eh jangan dipecat, huhh terserah Tuan mau apain Lena tapi jangan dipecat," ucap Trishna kembali tidak tega jika Lena dipecat.


Ferdian menatap Trishna dengan intens lalu memanggil nama Trishna dengan nada lembut dan menggoda.


"Trishna,"

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2