
Gazel menunjukkan foto Daya sedang berpelukan dengan Daniel. Dalam foto tersebut terlihat Daya dan Daniel begitu mesra seperti mempunyai hubungan khusus.
Plakk!!
Sebuah tamparan kembali menghinggapi pipi mulus Daya, hingga hujung bibirnya mengeluarkan darah.
"Mulai hari ini kamu tidak bisa keluar dari kamar!" murka Gazel lalu menyuruh beberapa pengawal untuk membawa Daya kembali ke kamarnya dan kunci dari luar dengan beberapa sihir.
Ferdian menatap sinis ke arah Daya yang tidak berdaya lagi karena Gazel sedang dalam mode marah.
Setelah Daya sudah dibawa keluar dari ruangan itu barulah Gazel merubah raut wajahnya dan mulai mendekati Ferdian yang masih duduk sedari tadi.
"Ferdian, maaf saya minta maaf tentang masalah Daya. Nanti saya akan ajari lagi dia untuk menghargai kamu sebagai calon suaminya," terang Gazel dengan wajah penuh memohon agar Ferdian tidak memperbesarkan masalah ini dan memutuskan pertunangan mereka.
"Tidak perlu, aku rasa kau tahu sifatku. Aku tidak suka pengkhianat dan mungkin pertunangan ini akan dibatalkan," ujar Ferdian dengan serius.
"Tolong jangan batalkan pertunangan ini Ferdian, mungkin Daya hanya masih belum cukup dewasa dan rasa ingin bebas bergaulnya masih besar tapi saya mohon jangan batalkan," rayu Gazel dengan tangan yang disatukan.
Ferdian tidak lagi menjawab, karena dia paling tidak suka seseorang dengan mudahnya meminta peluang setelah melakukan kesalahan.
Apalagi Ferdian ingin mengambil kesempatan ini untuk memutuskan pertunangan yang tidak sama sekali dia inginkan.
Tanpa pamit Ferdian langsung menghilang dari ruangan itu, karena malas mendengar ucapan rayuan yang baginya sangat menjijikan baginya untuk didengar.
'Sial aku tidak boleh biarkan pertunangan ini batal,' batin Gazel setelah merasa Ferdian benar-benar telah pergi.
Gazel memanggil asistennya untuk melakukan persiapan untuk bertemu dengan William Alverio, dia akan meminta pernikahan antara Ferdian dan Daya dipercepatkan.
Gazel berani melakukan hal itu, karena dia yakin Ferdian tidak akan pulang ke kastil utama keluarganya. Semua rakyat vampir di kota itu tahu Ferdian tidak berhubungan baik dengan kedua orangtuanya terutama kepada Alia ibu tiri Ferdian.
Gazel keluar dari ruangan itu lalu berjalan menulusuri lorong-lorong yang menuju ke kamar Daya. Dia ingin bertemu dengan Daya untuk memperingati agar tidak berbuat sesuatu seperti melarikan diri.
Setelah Gazel bertemu Daya, dia keluar dan memperingati pengawal yang berjaga di depan pintu Daya.
"Kalian jangan sampai teledor! Kalau terjadi sesuatu kalian akan aku bunuh! Mengerti?" perintah Gazel dengan wajah garangnya.
"Baik Tuan!" jawab kompak dari ke empat pria yang berjaga di depan pintu kamar Daya.
Gazel meninggalkan kamar Daya tetapi sebelum itu dia tidak lupa untuk memasang sihir berlapis di depan pintu kamar Daya.
.....
Ferdian telah sampai di kamar apartemennya. Dia mulai menganti pakaiannya menjadi pakaian yang sedikit santai.
__ADS_1
Setelah berganti, dia menatap penampilan pada cermin yang terdapat dalam kamarnya.
"Trend manusia sungguh lumayan, aku terlihat semakin muda hehh," puji Ferdian pada dirinya sendiri.
Ferdian sengaja meminta Roben untuk membelikannya pakaian santai yang sering dikenakan oleh manusia sewaktu dalam keadaan santai.
Semua ini Ferdian lakukan untuk menarik perhatian Trishna. Entah kenapa dia ingin Trishna melirik kepadanya seperti para wanita yang sering memuja akan ketampanannya.
Kini Ferdian memasuki kamar Trishna, dia menatap Trishna yang sedang duduk di atas ranjang sambil mengerjakan sesuatu pada laptopnya.
"Kau masih sakit tapi kau memaksa diri untuk kerja," tegur Ferdian lalu mengambil laptop Trishna dan menyimpannya di atas nakas.
"Tapi Tuan, sa-saya sudah beberapa hari libur, setidaknya pekerjaan saya setelah saya kembali tidak akan bertumpuk," jawab Trishna dengan wajah masih terlihat pucat.
Terbesit rasa bersalah dalam pikiran Ferdian. Dia duduk dikursi sebelah ranjang Trishna lalu bersedekap dada.
"Kau mau asisten?" tanya Ferdian mencoba mencari solusinya.
"Asisten manager sudah ada tapi dia kan lagi mengerjakan hal yang lain," terang Trishna.
Ferdian menatap Trishna dengan tatapan sulit diartikan. Ferdian coba mencari cara lain lagi agar Trishna tidak memaksakan dirinya.
Tiba-tiba Trishna kembali bersuara.
"Tuan, kalau tambah asisten satu lagi tidak apa-apa tapi gaji saya jangan dipotong hehe," ucap Trishna sambil menyengir.
"Tapi Tuan, tidakkah itu terlalu ringan?" protes Trishna karena merasa agak aneh jika posisinya manager tetapi tidak berbuat pekerjaan yang seharusnya dia buat.
"Hmm baiklah aku gantikan saja jabatanmu dan jadilah sekretarisku," tawar Ferdian lagi kini dengan senyuman miring.
"Modus! Baiklah-baiklah saya terima yang pertama," sahut Trishna kesal.
Ferdian tersenyum senang lalu mengusap puncak kepala Trishna.
"Begitukan bagus jadi aku tidak perlu mengancam kamu untuk ganti jabatan lagi," ucap Ferdian.
Trishna terdiam dan terpaku karena perlakuan Ferdian yang menurutnya hangat dan mampu menggetarkan hatinya.
'Ish kenapa aku deg-degan,' batin Trishna.
"Besok salah satu karyawan akan dinaikan jadi asistenmu, jadi jangan terlalu banyak berpikir. Fokus pada kesehatanmu," ucap Ferdian lagi.
"Baiklah Tuan," jawab Trishna canggung.
__ADS_1
Tiba-tiba Trishna teringat tentang Lena, dia ingin Lena juga dinaikan jabatan tetapi dia tidak mau menjadikan Lena sebagai asistennya.
Oleh itu, Trishna kembali bertanya pada Ferdian tentang lowongan yang masih kosong di dalam perusahaan.
"Tuan, maaf boleh saya bertanya?" tanya Trishna sedikit ragu-ragu.
"Boleh, tanya saja," jawab Ferdian santai.
"Hmm di perusahaan masih ada lowongan? Atau posisi sekretaris Tuan, masih kosong?" tanya Trishna dengan wajah yang begitu antusias.
"Kalau untuk perusahaan tidak ada, tapi kalau untuk posisi sekretaris ada kalau kamu mau," jawab Ferdian dengan menyunggingkan senyumannya.
"Ck bukan saya, tapi teman saya yang kemarin. Tuan masih ingat Lena, yang makan bersama kemarin, masih ingat?" terang Trishna.
"Oh. Wanita itu kenapa?" Ferdian kembali bertanya.
"Bagaimana kalau dia saja menjadi sekretaris Tuan, dijamin pekerjaannya bagus banget," ucap Trishna dengan bersemangat.
"Posisi itu hanya untuk kamu saja Trish, kalau orang lain tidak," sahut Ferdian dengan wajah serius.
Trishna sedikit kaget dan tertegun mendengar ucapan Ferdian. Wajahnya mulai bersemu merah seperti tomat, tetapi dia kembali menggelengkan kepalanya mengingat Ferdian pasti ada modus lain untuk menjebaknya.
"Maaf Tuan, tapi saya kan manager. Bolehlah Tuan, kemarin juga Tuan tawarkan dia akan dinaikkan jabatan jika saya dinaikkan jabatan. Masa Tuan lupa," timpal Trishna.
"Itu supaya kamu terima penawaran dari aku Trish," jawab Ferdian.
"Ish Tuan bolehlah kasihan dia, saya janji kalau Tuan kabulkan permintaan saya yang ini saya akan ikuti apa pun kemauan Tuan kecuali menjadi sekretaris Tuan," tawar Trishna.
Awalnya Ferdian menghela nafas panjang tetapi tiba-tiba Roben berbicara padanya lewat telepati.
"Terima saja Tuan, toh Tuan bisa mengikat Trishna setelah itu," ucap Roben lewat telepati.
"Kamu ya jangan suka menguping, awas aku potong telingamu," jawab Ferdian lewat telepati dengan ancaman.
Tidak ada lagi terdengar suara sahutan dari Roben, berarti Roben telah menjauh karena takut akan ancaman Ferdian.
Namun, Ferdian tiba-tiba saja menyetujui permintaan Trishna, baginya ada benarnya yang dikatakan oleh Roben.
"Terima kasih Tuan, jangan lupa ya Tuan," ucap Trishna dengan girang walaupun kepalanya masih terasa berat.
"Jangan girang dulu, kamu tadi buat penawaran bahwa kamu akan mengikuti kemauan ku jika aku menyetujuinya," peringat Ferdian.
"Eh," Trishna mulai panik sendiri karena dia tahu Ferdian akan mengambil kesempatan ini.
__ADS_1
"Tapi bukan hari ni," ucap Ferdian sengaja membuat Trishna semakin ketar ketir.
Bersambung...