Suamiku Vampir Penghisap Darah

Suamiku Vampir Penghisap Darah
Bab 40


__ADS_3

Sudah hampir 3 hari Trishna mengurung diri di dalam kamar milik Ferdian yang berada di kastil milik Ferdian. Awalnya Ferdian tidak ingin pulang dulu ke kastilnya tetapi karena Trishna mengalami syok dan sering berteriak histeris akhirnya Ferdian memutuskan untuk kembali ke kastilnya sendiri.


Wajah pucat lesu Trishna memperlihatkan bahwa dirinya begitu stress dan ketakutan. Dia takut suatu hari para vampir ini akan membunuhnya, terutamanya Ferdian.


Setiap kali melihat wajah Ferdian, Trishna sering berkeringat dingin dan gementar hebat, masih terngiang-ngiang bayangan Ferdian yang menghisap tengkuk lehernya.


Ceklek!


Bunyi pintu terbuka, Trishna dengan cepat menatap ke arah pintu, jantungnya telah berdegup kencang karena sangat takut jika Ferdian yang memasuki kamar itu.


Trishna menjadi sedikit lega karena bukan Ferdian yang masuk tetapi dua orang pelayan sedang mendorong troli yang berisi makanan untuknya.


"Nona silakan makan," ucap kedua pelayan tersebut.


Trishna tidak menjawab dia hanya mengangguk dengan menunjukkan wajah datarnya. Dia tidak tahu apakah pelayan di kastil Ferdian merupakan vampir atau manusia biasa, makanya dia tidak ingin terlihat ramah seperti biasa.


Aroma makanan cukup mengunggah selera Trishna tetapi kedua pelayan tersebut belum juga berganjak dari hadapannya.


'Lapar banget mana mereka belum mau keluar, nanti mereka mengira aku rakus bagaimana,' batin Trishna menggerutu.


Cacing-cacing dalam perut Trishna sudah berteriak kelaparan. Walaupun Trishna sedang merasa takut akan nasibnya tapi dia tidak pernah lewatkan jadwal makannya.


Ehem!


Trishna pura-pura berdehem memberi kode pada kedua pelayan itu, hasilnya mereka seperti mengerti dan langsung saja pamit keluar.


"Nona jika ada perlu apa-apa tinggal bunyikan loceng saja, kami akan siap berada di luar kamar," ucap salah satu pelayan tersebut.


Trishna hanya mengangguk tetapi hatinya sudah berteriak menyuruh mereka keluar karena perutnya terasa sangat lapar. Setelah memastikan kedua pelayan tersebut telah benar-benar keluar barulah Trishna berganjak dari atas kasur empuk menuju ke meja yang berdekatan dengan jendela besar.


Makanan telah tertata rapih di atas meja itu. Trishna mulai membersihkan tangannya dengan mengelap menggunakan tisu lalu mulai menyendok nasi dan lauk-lauk yang mengunggah seleranya.


"Tuan Galang tahu persis seleraku bagaimana," puji Trishna tanpa sadar.


Trishna menikmati hidangan makanan itu dengan nikmatnya hingga dia merasa perutnya sudah kenyang barulah dia berhenti.


Setelah cukup istirehat menurunkan makanan sampai ke dalam perutnya barulah dia membunyikan loceng untuk memanggil para pelayan itu.


Kring.. kring...


Pelayan tersebut masuk dan Trishna hanya memberi kode lewat tatapan saja dan mereka langsung mengerti. Kedua pelayan tersebut telah keluar mendorong kembali troli yang kini isinya telah kosong.


Baru saja Trishna hendak berbaring tiba-tiba pintu kembali dibuka, Trishna yakin yang masuk kali ini adalah Ferdian, dia menoleh cepat menatap ke arah pintu.


Sosok yang tidak ingin dia temui kini muncul di hadapannya. Ferdian dengan raut wajah yang tersenyum sudah berdiri di hadapan tempat tidur Trishna.


"Bagaimana hari ini? Kamu sudah kenyang?" tanya Ferdian tiba-tiba. Memang selama tiga hari ini Ferdian sering menanyakan pertanyaan itu karena dia takut Trishna memaksa diri untuk tidak makan.


Walaupun sebenarnya dia sering memeriksa kedua pelayan yang khusus ditugaskan untuk melayani Trishna. Tetapi entah kenapa dia merasa tidak puas, dia ingin mendengar sendiri jawaban dari bibir Trishna.


Sudah sejak tiga hari lalu Trishna tidak pernah berbicara dengan Ferdian walaupun Ferdian sering bertanya padanya, Trishna hanya mengangguk dan menggelengkan kepalanya saja sebagai jawaban.


Terdapat gurat ketakutan pada wajah Trishna, dia masih belum berani untuk berbicara dengan Ferdian. Bayang-bayang saat Ferdian menancapkan gigi taring pada lehernya membuat Trishna begitu ketakutan jikalau hal itu berlaku lagi.


"Trish, aku tidak mengerti jika kau hanya diam. Berbicaralah biar aku mengerti," pinta Ferdian dengan suara lembut.


Ferdian mulai mendekati Trishna dan duduk di pinggir tempat tidur Trishna. Terlihat Trishna menunduk membuat Ferdian semakin merasa bersalah. Entah dia harus bagaimana untuk membujuk Trishna agar mau menerima kenyataan ini.


"Trish, aku minta maaf. Aku janji jika kau berbicara padaku, aku akan menurut apa pun keinginanmu kecuali berpisah denganku aku tidak mau," ujar Ferdian lagi.


Ferdian berusaha membujuk Trishna agat Trishna mau berbicara. Dia berharap hati Trishna kali ini melunak. Tetapi apa yang dia dapat, Trishna hanya menggelengkan kepalanya.


Ferdian mencari ide lagi, karena dia tidak akan membiarkan Trishna terus membuat jarak antara Trishna dan dirinya.


"Atau kau mau ketemu orangtua dan adikmu?" tanya Ferdian dengan nada lirih. Kali ini dia yakin Trishna akan berbicara padanya.


Mendengar ucapan Ferdian, Trishna coba menoleh ke arah Ferdian dengan sedikit ragu-ragu.


Trishna membuka mulutnya untuk berbicara dengan Ferdian, tetapi dia merasa tengkorokannya tiba-tiba mengering mungkin karena saking gugupnya dirinya.


"A-ai-ir," ucap Trishna gugup dan terbata-bata.


Ferdian mendengar dengan seksama, setelah mendengar Trishna menyebut air barulah dia mengerti Trishna ingin minum. Kebetulan air minum Trishna terletak pada nakas dekat Ferdian saat ini.


Ferdian menuang air lalu memberikan pada Trishna, dia menatap Trishna meneguk air di dalam gelas tersebut hingga tandas.


"Mau tambah?" tanya Ferdian lagi.


Trishna menggeleng, lalu dengan cepat Ferdian mengambil gelas dari tangan Trishna lalu meletakkannya kembali ke atas nakas.


Ferdian menunggu ucapan yang akan keluar dari mulut Trishna, walaupun sudah hampir 5 menit berlalu dalam keadaan hening.


Selama 5 menit Trishna mengumpulkan tenaganya agar bisa bicara dengan Ferdian, kebetulan dia memang merasa rindu dengan orangtuanya apalagi dengan adiknya Tiana.


"Ehem." Trishna berdehem kecil.


"Benarkah Tuan izinkan saya bertemu dengan keluarga saya?" tanya Trishna tanpa kegugupan walaupun masih tersisa sedikit rasa takut.

__ADS_1


"Sudah tentu, apa pun untukmu Trish," jawab Ferdian dengan senyuman yang mengembang.


"Terus syaratnya apa?" tanya Trishna lagi, karena dia tahu jalan pikiran Ferdian yang sedikit licik dan tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.


Ferdian tersenyum, tidak menyangka Trishna bertanya tentang syarat sebelum dia mengatakannya sendiri.


"Hmm kamu tidak boleh lari dariku, tidak boleh ketemu lelaki lain dan setiap malam kamu harus tidur di tempatku. Pagi-pagi aku akan menghantarmu kembali ke rumahmu biar mereka tidak curiga," sahut Ferdian dengan yakin.


Trishna mengangguk mengerti,


"apa hanya itu?"


"Aku akan menambahnya ketika aku ingin, sekarang kamu bersiaplah kita akan langsung berangkat ke apartemen karena besok kamu akan pulang ke rumah orangtuamu," jawab Ferdian.


"Oh iya, satu lagi. Kamu harus ingat Trish, kamu adalah istriku dan aku suamimu. Mengerti?" lanjut Ferdian lagi.


Dengan berat Trishna terpaksa mengangguk, yang penting dia bisa bersama dengan keluarganya.


'Kau kira aku akan mengikuti syaratmu? Jangan kepedean, aku akan menyusun rencanaku sendiri,' batin Trishna.


Trishna telah berpikir lama untuk melarikan diri sejauh mungkin dari Ferdian karena dia pikir dia tidak siap untuk menjadi wadah makanan Ferdian dan bisa mati muda nanti.


Ferdian keluar dari kamar untuk membiarkan Trishna bersiap dan memberi perintah pada kedua pelayan tadi untuk membantu Trishna bersiap dan menyediakan pakaian untuk Trishna.


.


.


.


.


.


"Apa tidak salah jika Tuan mengizinkan Nona untuk tinggal di rumahnya?" tanya Roben yang turut merasa khawatir jika Trishna nekad melarikan diri.


"Setelah yang lain tidur, aku akan menjemputnya. Dia akan tetap tidur di apartemen dan paginya aku akan kembali menghantarnya," jawab Ferdian sambil meminum darah segar dari hewan liar di hutan.


Beberapa hari ini Ferdian terpaksa meminum kembali darah hewan agar tidak terlalu memaksa Trishna. Ferdian sebenarnya tidak mau Trishna takut padanya apalagi mencoba untuk meninggalkannya.


Ferdian sendiri tidak tahu kenapa ada rasa seperti takut kehilangam seperti itu. Dia belum mengerti tentang perasaannya saat ini. Apalagi Ferdian masih menyimpan foto seorang vampir wanita yang telah lama meninggal karena di gigit oleh kawanan serigala.


Oleh itu, dia semakin tidak peka dengan perasaannya sendiri. Ferdian ingin bertanya pada Roben tetapi dia tahu apa yang alan dijawab oleh Roben nanti.


"Maaf Tuan jika saya lancang. Tetapi bagaimana Nyonya Alia?" tanya Roben tiba-tiba.


"Eh Tuan belum tahu? Hmm bukankah Nyonya Alia ingin bertemu dengan Nona, kemarin saya sudah memberitahu kepada Tuan," terang Roben.


"Oh iya aku lupa, tunda dulu. Aku tidak mau mental Trishna kembali tergoncang gara-gara bertemu vampir lain," ucap Ferdian lalu menghela nafas panjang.


'Kenapa sih dia sok perhatian sekali,' batin Ferdian sedikit kesal.


.....


"Sayang kita nikah yuk," ucap Daya pada Daniel setelah melakukan hubungan panas.


Daniel sebenarnya merasa kesal kepada Daya karena membiarkan dirinya putus dengan Ferdian dan kini Ferdian telah menikahi Trishna. Semakin sulit untuk dia menjauhkan Trishna dari Ferdian.


"Daddymu bagaimana?" tanya Daniel berpura-pura sedih.


Walaupun dia benar mencintai Daya, tetapi dia tidak bisa membiarkan dendamnya terhadap keluarga Alverio tidak terbalas. Dia yakin dia bisa membalas semuanya suatu hari nanti.


"Nanti aku yang bujuk Daddy, Sayang santai saja kita pasti menikah," jawab Daya dengan penuh kegembiraan.


"Baiklah aku akan menunggu saat itu Baby," sahut Daniel lalu memeluk tubuh Daya yang belum mengenakan sehelai pakaian pun.


"Sayang aku jadi pengen lagi, bagaimana kalau kamu buat aku hamil saja," ujar Daya dengan lirih.


"Kamu yakin ingin hamil anakku?" tanya Daniel dengan intens.


"Aku sangat ingin hamil anakmu Sayang," ucap Daya dengan penuh menggoda.


"Baiklah kalau begitu siap-siap untuk hamil anakku yang banyak," sahut Daniel dengan penuh bersemangat.


Selama ini Daniel sering meminta untuk membuang air kehidupannya dalam rahim Daya tetapi Daya sering menolak dengan berbagai alasan.


.....


Cahaya matahari masuk lewat celah-celah gorden di dalam kamar Trishna, dia membuka mata dengan begitu bersemangat karena sudah beberapa hari dia tidak merasakan cahaya matahari.


Trishna turun dari atas kasur empuknya dan membuka gorden jendela dengan penuh bersemangat lalu dia membuka jendela dan keluar ke balkon kamarnya.


Trishna menghirup udara segar dengan cahaya matahari yang mengena pada kulitnya.


"Indah begitu indah," ucap Trishna dengan bahagia.


Tiba-tiba sepasang tangan melingkar pada bagian pinggang Trishna membuat Trishna sedikit berjengit kaget.

__ADS_1


"Biarkan begini saja dan teruslah menikmati cuaca pagi," ucap Ferdian setengah berbisik.


Trishna pun tidak coba melepaskannya dan mengikuti ucapan Ferdian dengan menikmati cuaca pagi. Entah kenapa sejak Ferdian memeluk pinggangnya dia merasa semakin bahagia hari ini.


"Tuan izinkan saya ke kantor hari ini," pinta Trishna masih berdiri seperti tadi.


"Baiklah tapi kamu harus menciumku dulu," sahut Ferdian lalu memutarkan tubuh Trishna sehingga mereka kini berhadapan.


Ferdian mengangkat dagu Trishna lalu mengikiskan jarak antara mereka. Ferdian menempelkan bibirnya pada bibir Trishna. Setelah merasa tidak ada penolakan barulah Ferdian memberanikan diri melu*at bibir Trishna dan mencoba memainkan li*ahnya.


Ciuman mereka berlangsung sekitar 10 menit, itu juga Trishna karena Trishna hampir kehabisan nafas dan memukul-mukul dada bidang Ferdian.


"Maaf, maaf. Ayo masuk ke dalam minum air dulu," ucap Ferdian lalu mengenggam tangan Trishna dan membawa Trishna masuk kembali ke dalam kamar.


Ferdian dengan cepat mengambil gelas dan menuangkan air minum untuk Trishna.


"Ini minum dulu." Ferdian memberikan gelas berisi air minum itu pada Trishna.


"Sekarang kamu bersiaplah aku tunggu di luar," lanjut Ferdian lagi.


Sebelum keluar dari kamar Trishna Ferdian menyempatkan diri mengecup bibir Trishna sekilas lalu barulah dia pamit keluar.


Trishna merasa aneh, setiap kali Ferdian melakukan seperti itu pasti jantungnya akan berdegup kencang.


"Jangan bilang aku mulai bawa perasaan," ucap Trishna lirih.


Trishna menatap pintu kamarnya yang telah tertutup rapat lalu melengkungkan senyuman pada bibirnya. Tanpa sadar juga perasaan cinta telah tubuh pada hati Trishna terhadap Ferdian.


"Ih kenapa aku senyum-senyum, pasti aku sudah gila! Tidak ini tidak boleh terjadi, aku harus pergi jauh dari lelaki vampir ini," ucap Trishna lagi.


Trishna pun bersiap untuk ke kantor hari ini karena sudah hampir seminggu dia tidak memasuki kantor, pasti pekerjaannya semakin menumpuk.


Namun, sebenarnya bukan pekerjaan yang menumpuk alasan Trishna untuk masuk ke kantor tetapi untuk mengambil beberapa barang berharga miliknya seperti laptop dan foto keluarga yang ada di ruang kerja miliknya.


Trishna akan memastikan rencananya hari ini tidak boleh gagal. Setelah selesai Trishna sempat meminta izin pada Ferdian untuk menjenguk adiknya Tiana di sekolahnya terlebih dahulu dengan alasan memberikan uang jajan kepada sang adik.


"Kalau begitu saya dengan taksi saja, biar orang-orang tidak curiga kita datang bersamaan," ucap Trishna setelah memasuki lift apartemen.


"Baiklah tapi kamu jangan lama-lama, kalau lama aku potong gajimu nanti," sahut Ferdian yang sebenarnya berat untuk membiarkan Trishna pergi sendiri apalagi akan mampir ke sekolah adiknya.


Pikiran Ferdian mulai berpikir buruk tapi dia coba menepis semuanya agar tidak terjadi kesalahfahaman dengan Trishna.


"Baiklah Tuan, sebelum jam 9, saya pasti sudah berada di kantor," ujar Trishna membuat wajah yang biasa-biasa saja, lagian memang mereka sudah terlambat untuk masuk kantor.


"Janji?" tanya Ferdian dengan wajah menelisik.


Trishna sedikit ragu, dia takut apa yang direncanakan akan gagal tetapi sebaik mungkin dia membuat wajah ceria seperti biasa.


"Saya berjanji Tuan," jawab Trishna.


Ferdian terlihat sedikit lega setelah mendengar Trishna berjanji padanya. Kini dia hanya perlu mempercayai Trishna saja dan tidak membuat Trishna merasa sulit.


.....


Taksi yang dinaiki Trishna kini menuju ke sekolah Tiana, dia mencoba masuk ke bagian ruang guru untuk memanggilkan Tiana untuknya.


Benar saja setelah guru membuat pengumuman dan menyebut nama Tiana, kini Tiana telah memasuki ruang guru dengan wajah bingung.


"Tiana, maaf jika memanggilmu waktu pelajaran telah dimulai tetapi Kakakmu sedang menunggumu di ruang tunggu," ucap Guru tadi sambil menunjuk ke arah ruang tunggu.


"Terima kasih Miss, kalau begitu saya pergi ke sana dulu," jawab Tiana lalu segera menuju ke arah ruang guru.


Trishna mondar mandir di dalam ruangan tunggu itu sambil menunggu kedatangan Tiana.


"KAK!" teriak Tiana lalu berlari dan langsung memeluk Trishna, rasa rindu yang telah membuncah di hati Tiana membuatnya lupa, bahwa mereka masih di lingkungan sekolah.


Trishna mengusap rambut Tiana, air matanya mengalir begitu saja.


"Tia, kamu baik-baik saja kan?" tanya Trishna yang masih betah memeluk Tiana.


"Baik Kak, tapi Tia rindu Kakak. Kemarin sumpahan itu kembali, mujur saja Tia cepat memakan obat tidur dan memasuki kamar Tia jadi Tia tidak ketahuan," cerita Tia pada Trishna.


"Maafkan Kakak tidak ada di saat kamu sedang memerlukan Kakak," ucap Trishna lagi yang merasa semakin sedih.


"Oh ya, Kakak sudah izin kamu pulang awal tadi," lanjut Trishna lagi.


"Eh untuk apa Kak?" tanya Tiana yang merasa sedikit bingung.


Trishna tidak ingin membuang waktu lagi untuk berbasa basi.


"Tia, kamu bawa Ayah dan Ibu ke rumah Om Ronald ya, jangan lupa pakaian kamu juga dibawa. Kita akan pergi dari sini, tempat ini tidak selamat dan Kakak telah dijebak. Tolong kamu jangan bertanya lagi, sebentar jam pulang kerja Kakak langsung ke rumah Om Ronald karena hanya dia yang bisa membantu kita,"


Tiana mengerti jika Trishna tidak ingin dia bertanya berarti hal ini benar-benar darurat. Oleh itu, dia menuruti semua ucapan Trishna dan mencoba menghubungi kedua orangtuanya untuk bersiap.


....


"Kau terlalu lama Trish!"

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2