Suamiku Vampir Penghisap Darah

Suamiku Vampir Penghisap Darah
Bab 27


__ADS_3

"Tuan, Nyonya memanggil Tuan untuk kembali. Kata Nyonya ada hal penting yang harus dibicarakan," ujar Roben setelah Ferdian sudah habis bersarapan dengan darah segar beruang hutan.


"Ck, padahal hari ini aku ingin mengajak Trishna untuk melihat kantor cabang yang baru. Sudahlah, kita akan ke sana biar cepat selesai urusan dengan wanita tua itu," jawab Ferdian dengan ketus.


"Nyonya adalah Ibu anda Tuan," ucap Roben lagi sambip tersenyum.


"Ibu TIRI!" ketus Ferdian. "Sudah lebih baik kau diam saja Rob, sebelum aku sihir mulutmu biar tidak bisa bicara," lanjut Ferdian lagi lalu melenggang menuju ke ruang teleportasi.


Roben langsung menutup rapat bibir dan menyusuli Ferdian. Ferdian memang tidak menggunakan kekuatannya yang secepat angin karena dia akan berjauhan dengan Trishna hari ini. Apalagi sudah 2 hari tidak meminum darah Trishna, Ferdian sedikit kesulitan tapi dia masih bisa mengawalinya.


Setelah berdiri di atas bulatan teleportasi, Ferdian menggerakkan tangannya ke udara lalu dalam sekelip mata Ferdian dan Roben menghilang. Sekitar 2 menit akhirnya mereka sampai di depan kastil milik keluarga Arverio.


Ferdian dengan langkah yang sedikit cepat langsung memasuki kastil megah itu. Para pengawal dan pelayan yang berpapasan dengan Ferdian dan Roben langsung saja menunduk tanda hormat.


Ferdian tidak memperdulikan mereka dia hanya fokus menuju ke ruangan di mana sang Nyonya itu berada.


Roben membuka pintu setelah mendapat izin masuk.


"Silakan Tuan," ucap Roben karena dia tidak akan ikut memasuki ruangan itu.


"Tunggu di sini aku tidak akan lama," pesan Ferdian pada Roben.


Ferdian melangkah masuk dengan memasang wajah datar, wajah pertama yang dia lihat adalah wajah sang Ayah yang sedang duduk lalu menatap ke arahnya juga.


"Hei Ferdian Alverio kau baru datang setelah ibumu memanggilmu ke sini, kalau dia tidak memanggilmu aku yakin kau tidak akan pernah datang apalagi kau sedang asyik bermain bersama wanita manusia," sindir William Alverio yang merupakan ayah kandung Ferdian.


"Shh Sayang tidak boleh bicara Ferdian seperti itu lagian dia sedang mengurus perusahaannya di dunia manusia," bela Alia yang merupakan ibu tirinya.


"Kau terlalu membelanya, kau kira dia datang ke sini karena perintahmu memanggil dia? Kau tidak tahu dia datang ke sini hanya untuk memperingatkan kau untuk tidak menganggunya di sana," ucap William lagi dengan penuh kesinisan.


William tahu bahwa Ferdian sangat tidak menyukai Alia ibu tirinya karena sewaktu kecil Ferdian sendiri telah melihat kematian ibu kandungnya dan menyalahkan salah satu selir Ayahnya yaitu yang menjadi istrinya sekarang.


"Tuan William Alverio, cukup! Jangan pernah memojokkan Ferdian seperti itu," ketus Alia karena memang dia tidak suka William berbicara seperti itu.


Ferdian hanya melihat perdebatan keduanya dengan wajah yang datar. Dia tidak bangga karena dibela, yang ada hatinya menjadi semakin panas karena Alia ibu tirinya bersifat seolah-olah dia sangat mencintai Ferdian seperti anak kandungnya.

__ADS_1


"Sudah habis berdebat?" ucap Ferdian setelah kedua orangtuanya itu saling bertatapan sinis.


"Ferdian maaf, jangan disimpan di hati ucapan Ayahmu tadi," jawab Alia dan coba berjalan mendekati Ferdian.


"Aku tidak akan simpan di hati tapi ucapan Ayah benar dan tidak ada sedikit pun yang salah. Ternyata Ayah tahu niatku datang ke sini," jelas Ferdian kini dengan raut wajah sinis.


Alia menatap Ferdian dengan sendu lalu berhenti melangkah, alangkah terkejutnya dia mendengar ucapan Ferdian. Dia mengira Ferdian datang karena telah menerima dirinya ternyata masih sama dengan 1000 tahun yang lalu, Ferdian sangat membencinya.


"Ferdian ibu minta maaf, jangan dengarkan Ayahmu ya nak," ucap Alia kepada Ferdian, dia kini kembali berjalan untuk mendekati Ferdian karena sungguh dia merindukann Ferdian.


Setelah berhadapan dengan Ferdian, Alia coba memegang tangan Ferdian tetapi dengan cepat Ferdian menepisnya dan menatap Alia dengan sinis.


"Aku bukan anakmu dan kau bukan ibuku!" ketus Ferdian. "Berhentilah memata-mataiku dan jangan pernah mengangguku sebelum aku bertindak lebih kasar!" lanjut Ferdian lagi.


"FERDIAN ALVERIO!" teriak sang Ayah dari tempatnya.


"Kenapa? Ayah marah? Tidak terima? Hehh aku juga tidak terima kehadirannya!" ucap Ferdian tidak kalah emosi.


Dengan secepat angin William menuju ke arah Ferdian dan melayangkan tamparan di pipi Ferdian.


"Aaarrrgghh Sayang apa yang kau lakukan, kenapa kau menampar Ferdian!" Alia kaget dan terlihat panik, dia mencoba mengusap pipi Ferdian tetapi ditepis lagi oleh Ferdian.


"Jangan menyentuhku! Hehh Ayah puaskan? Sekarang jangan pernah mencariku lagi," ucap Ferdian ketus lalu membalikkan badannya.


"Oh ya aku hampir lupa, kalian jangan pernah menjodohkan aku dengan wanita ****** itu!" lanjut Ferdian tanpa menoleh ke arah kedua orangtuanya itu.


"Ferdian ... ," panggil Alia dengan lirih, raut wajahnya terlihat sangat menyedihkan.


"Ini semua salahmu!" lanjutnya lagi menyalahkan William lalu coba mengejar Ferdian yang telah keluar dari ruangan mereka.


Ayah Ferdian hanya berdiri saja dan tidak berbuat apa-apa, dia merasa begitu kesal karena Ferdian tidak berubah. Dia mulai menghela nafas panjang dan mengingat apa yang terjadi pada ibu kandung Ferdian.


"Bukan karena ibu tirimu Ferdian sebenarnya itu karena Ayah," ucap sang Ayah lirih.


.

__ADS_1


.


.


.


.


"Ferdian tunggu! Tunggu ibu, ibu ingin berbicara padamu, tolong berhenti," teriak Alia yang melihat Ferdian terus berjalan.


Tanpa dia duga Ferdian tiba-tiba berhenti dan Alia segera bergegas mendekati Ferdian.


"Maafkan ibu Ferdian, tolong jangan pergi tinggallah di sini beberapa hari lagi. Aku akan memarahi Ayahmu karena berani menamparmu tapi tolong jangan pergi dulu," rayu Alia pada Ferdian.


Netra mata Alia terlihat begitu tulus tetapi hati Ferdian sudah diselimuti dengan kebencian terhadap wanita yang ada di hadapannya saat ini.


"Kau siapa mau menghalangku pergi? Apa belum jelas lagi? Kau mau mendengarkannya lagi? Ok aku akan ulang untuk terakhir kali," ucap Ferdian dengan nada benci.


"Aku bukan anakmu dan kau bukan ibuku! Berhentilah berakting seolah-olah kau mencintaiku karena aku sangat membencimu. Aku tidak akan pernah mengaku kau sebagai ibuku!" ucap Ferdian lagi.


Deg!


Hampir saja Alia terjatuh mendengar ucapan Ferdian yang begitu menusuk hatinya. Dia tidak tahu di mana letaknya salah dirinya hingga Ferdian begitu membencinya dan tidak mau mengakuinya.


"Ibu tidak apa-apa, biar kamu membenci ibu tapi tolong jangan pergi dulu, kita sudah lama tidak berkumpul," jawab Alia dengan suara serak dan matanya mulai berkaca-kaca.


"Kau mau aku berada di sini? Sedangkan Ayahku saja membenciku karena aku membencimu. Oleh itu untuk apa aku di sini hah!" bentak Ferdian.


Roben merasa sedikit iba pada Alia, walaupun dia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya tapi bisa merasa ketulusan dari wanita itu. Tetapi Roben tidak bisa mencampuri urusan majikannya dia hanya bisa diam saja termasuk pengawal yang berjaga di lorong itu.


"Tidak-tidak Ayahmu tidak membencimu," jawab Alia yakin.


"Jangan buang waktuku, ayo Rob kita pergi," ucap Ferdian lalu meninggalkan Alia yang masoh berdiri sambil menangis di tempat itu.


'Apa karena aku bukan ibu kandungnya sehingga dia tidak menerima aku, aku harus bagaimana kalau dia saja tidak menerimaku,' batin Alia.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2