Suamiku Vampir Penghisap Darah

Suamiku Vampir Penghisap Darah
Bab 28


__ADS_3

"Ferdian!" panggil seorang pria dari arah kiri Ferdian.


Ferdian langsung menoleh lalu melihat seseorang yang selalu saja menentang dirinya sama seperti sang Ayah.


Ferdian menatapnya dengan sinis.


"Ferry!" ucapnya dingin.


Ferry merupakan Kakak kandung Ferdian. Sejak kematian sang Ibunda tercinta keduanya tidak pernah akur termasuk urusan bersama sang ibu tiri.


"Kau masih sama Ferdian, masih kasar dengan wanita. Hehh aku kira setelah hampir 100 tahun kau tidak pulang kau akan berubah, ternyata sama saja kau tidak pernah menyikapi sesuatu masalah dengan dewasa," sindir Ferry dengan raut wajah mengejek.


"Mungkin otakmu sudah dicuci dengan wanita rendahan itu, ayo Rob tidak perlu buang-buang waktu untuk orang yang tidak berguna," balas Ferdian dan langsung saja pergi dari tempat itu.


Anehnya terus melangkah dan tidak melakukan teleportasi. Roben pula terus saja mengikutinya tanpa banyak bertanya hingga Ferdian tiba-tiba berhenti.


"Sebelum pulang kita pergi melihat ibu dulu, aku sudah lama tidak melihatnya," ucap Ferdian pada Roben dengan suara yang terdengar sendu.


"Baiklah Tuan," jawab Roben singkat.


Ferdian langsung membuat lingkaran teleportasi menggunakan sihirnya lalu dengan menaikan tangannya dan menyebut nama tempat tujuan akhirnya sekelip mata mereka menghilang dari tempat itu.


Itulah kelebihan Ferdian yang bisa melakukan teleportasi. Kelebihan ini adalah turunan dari mendiang ibunya. Hanya dia saja satu-satunya vampir yang bisa melakukan teleportasi dan sekarang dia telah mengajarkan Roben cara-caranya walaupun Roben hanya dapat teleportasi ke tempat yang lebih dekat. Setidaknya Roben bisa menggunakan kekuatan itu jika terjadi sesuatu pada mereka.


Kini mereka telah berada di kawasan pergunungan pribadi milik keluarga Alverio. Mendiang ibunya dikuburkan pada puncak pergunungan tersebut.


Ferdian telah berhadapan dengan pusara sang ibu. Pusaranya terlihat bersih seperti sering dibersihkan dan dijaga.


'Mungkin Ferry sialan itu yang melakukannya,' batin Ferdian.


Ferdian mulai duduk di tepi pusara lalu mengusap batu nisan yang ada tertulis nama ibunya.


"Julia George Alverio" itulah nama mendiang ibu kandung Ferdian.

__ADS_1


Ferdian tidak mengatakan apa-apa dia hanya datang dan duduk saja karena tiba-tiba saja hatinya merasa sakit mengingat kejadian yang pernah berlaku di hadapannya sehingga dia tidak sadar saat ini dia meneteskan air matanya.


Cukup lama Ferdian dan Roben berada di tempat itu tanpa berbuat apa-apa. Tangan Ferdian tidak berhenti mengusap batu nisan itu, dia coba membayangkan hal-hal yang pernah dia lakukan bersama sang ibunya.


Senyuman pada bibirnya mulai melengkung karena tiba-tiba dalam bayangannya dia melihat kehadiran Trishna yang masih kecil.


"Apa aku pernah bertemu dengan Trishna sebelumnya?" tanya Ferdian pada dirinya tapi masih didengar oleh Roben.


"Kenapa Tuan? Ada sesuatu yang Tuan ingat?" tanya Roben lagi setelah mendengar ucapan Ferdian.


"Rob, aku membayangkan saat-saat aku bersama ibuku tapi tiba-tiba aku melihat Trishna kecil. Apa itu dia atau cuma terlihat sama?" jawab Ferdian menerangkan apa yang dia lihat pada bayangan dalam pikirannya tadi.


"Mungkin cuma terlihat sama Tuan, lagi pula tidak mungkin itu Trishna karena Trishna belum lahir saat Tuan masih kecil," sahut Roben kemudian.


Ferdian kembali mengangguk, benar apa kata Roben dan dia mulai ingin melupakan saja tentang hal itu.


"Kita pulang, sekarang sudah sore pasti Trishna sedang kesepian dan mungkin dia akan takut jika sendiri di apartemen," ucap Ferdian lalu pamit dengan ibunya.


....


"Tia tidak menyangka Kakak kenal dengan Pak Daniel, dia ini loh yang bantu Tia kemarin sewaktu hampir terlambat masuk ke kelas. Pak Daniel merupakan donatur terbesar di sekolah Tia," jelas Tiana sewaktu sedang membantu Trishna untuk memasak makan malam mereka.


"Benarkah? Sungguh sangat kebetulan ya," jawab Trishna yang masih tidak habis pikir bagaimana ini semua bisa jadi kebetulan.


Daniel sedang duduk di ruang tamu dan bercerita kosong bersama Ayah dan Ibu Trishna. Ayah Trishna tahu bahwa Daniel seorang sosok yang menakutkan tapi entahlah kenapa dia tidak bisa menolak Daniel sebagai tamu mereka.


Daniel sengaja meletakkan sihir pada kedua orang tua Trishna biar mereka terlihat lebih akrab bersama dirinya. Hal itu membuat Trishna yang datang membawa nampan yang berisi teh hangat dan cemilan sore terlihat sangat bahagia.


'Ayah dan Ibu sangat senang pada Daniel,' batin Trishna.


"Silakan diminum dan dimakan cemilannya, saya ke belakang dulu mau menyiapkan makan malam untuk kita," ucap Trishna.


Daniel dan Ibu Ayahnya mengangguk setuju dan mereka melanjutkan cerita mereka tadi. Daniel tersenyum tipis, anak matanya mulai mengikuti gerak Trishna.

__ADS_1


'Aneh Ayah dan Ibu terlihat seperti kaku hmm mungkin perasaanku saja,' batin Trishna menangkap sedikit kejanggalan.


Trishna masuk ke dapur dan dia dikagetkan dengan Tiana yang tiba-tiba berubah menjadi serigala. Tiana langsung menutup pintu dapur lalu mendekati Tiana yang sedang menjilat-jilat bulunya.


Trishna sudah terbiasa dengan wujud Tiana yang bisa berubah menjadi serigala, makanya dia sering mengkhawatirkan Tiana yang akan berubah tiba-tiba.


Trishna merogoh tasnya mencari botol yang berisi suatu cairan yang ke mana pun dia sering membawanya hanya demi menyelamatkan Tiana dari ketahuan dengan wujudnya seperti ini.


"Tia, Tia ayolah sadar cepat. Kau harus kembali kepada wujud manusia," ucap Trishna lirih.


Trishna meneteskan beberapa cairan tadi pada tubuh serigala Tiana agar aroma serigalanya tidak mengundang kawanan serigala yang lain yang dekat dengan mereka.


Beberapa menit kemudian Tiana akhirnya sadar lalu menggosok-gosok matanya, dia memandang wajah Trishna yang terlihat khawatir.


"Kenapa kau bisa berubah begitu Tia?" tanya Trishna dengan suara yang khawatir.


"Maaf Kak, aku terlalu lapar tadi. Melihat daging mentah itu membuatku terasa semakin tersiksa dan aku memakannya sedikit," jawab Tiana jujur.


Trishna menghela nafas panjang, hampir saja mereka ketahuan. Tapi dia tidak ingin salahkan Tiana karena itu adalah sebuah ketukan yang datang sejak usia Tiana sudah menginjak 13 tahun.


Trishna mengetahui hal itu apabila seseorang menemuinya sewaktu membawa Tiana berlari keluar rumah diam-diam. Seseorang dengan telinga serigala menemuinya di jalan dan memberinya beberapa botol yang berisi cairan untuk menghilangkan aroma serigala pada tubuh Tiana.


"Sekarang kamu duduk saja, masih lapar?" ucap Trishna lalu bertanya.


"Masih Kak," jawab Tiana yang terlihat lesu.


"Baiklah Kakak akan membuatkanmu makanan ya, tunggu sedikit lagi," ucap Trishna lalu mengusap kepala Tiana.


"Terima kasih Kak," jawab Tiana tersenyum lebar.


Dengan cepat Trishna menyiapkan makanan untuk adik kesayangannya itu. Walaupun Tiana diberikan kutukan tetapi Trishna tidak pernah membencinya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2