
Kebetulan hari ini Ferdian begitu haus dan lapar, dia pun ingin mengambil kesempatana terhadap Trishna. Ferdian menarik Trishna memasuki ke dalam ruangannya, tetapi langkah mereka terhenti ketika Lena tiba-tiba memanggil Ferdian.
"Tuan, Tuan Galang tunggu!" panggil Lena lalu buru-buru menuju ke arah Ferdian.
Ferdian menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang, begitu pun dengan Trishna melakukan hal yang sama.
Ferdian kembali memasang wajah dinginnya apalagi saat ini dia mendengar ucapan Lena di dalam hati.
'Ck, wanita sialan ni buat apa lagi di sini. Pasti dia mau merayu Tuan, awas saja kau Trish. Akan aku bongkar kebusukanmu dan aku tidak akan biarkan kau mendekati Tuan Galang,' ucap Lena dalam hati dengan menunjukkan wajah sinis kepada Trishna.
'Dasar perempuan gila, bisa-bisanya Trishna memiliki teman modelan begini,' batin Ferdian.
Ferdian mengalihkan pandangannya kepada Trishna yang terlihat biasa saja, tiba-tiba Ferdian salah fokus dia melihat bagian leher Trishna yang terlihat putih dan mulus.
Sisi vampir Ferdian mulai datang lagi, dia membayangkan menghisap darah Trishna lewat leher tetapi dia masih takut akan terjadi sesuatu yang fatal yang bisa menyebabkan Trishna meninggal karena terkena sarafnya.
Mata Ferdian tidak bisa terlepas dari menatap leher jenjang Trishna. Sehingga Lena memecahkan lamunannya.
"Ehem maaf Tuan, ini saya ada bawa jadwal Tuan hari ini," ucap Lena yang coba menarik perhatian Ferdian.
Ferdian tidak langsung menatap Lena, dia malah memperhatikan Trishna yang berwajah datar.
__ADS_1
"Berikan pada Trishna," ucap Ferdian tanpa bertatapan dengan Lena.
Lena kaget mendengar ucapan Ferdian.
"Hah?"
'Kenapa harus Trishna padahal di sinikan aku yang sekretaris!' ucap Lena dalam hati.
Ferdian mendengar ucapan Lena, dia akhirnya menoleh ke arah Lena.
"Apa kau tidak mendengar? Berikan jadwalku pada Trishna!" ucap Ferdian dengan tegas.
"Ya baiklah Tuan," Lena langsung saja memberikan buku hariannya yang mencatat jadwal Ferdian kepada Trishna.
Setelah buku itu berada pada tangan Trishna. Ferdian langsung saja menarik Trishna masuk ke dalam ruangannya dan meninggalkan Lena yang masih berdiri di tempat.
Trishna mengira Ferdian akan melepaskannya tetapi pikirannya salah. Ferdian malah mendorongnya ke sofa hingga dia terduduk.
Ferdian membungkukkan tubuhnya agar bisa sejajar dengan Trishna, dia menatap Trishna dengan begitu intens, perlahan dia menghapus jarak antara wajahnya dan wajah Trishna.
Ferdian memetikkan jarinya lalu sekelip mata Trishna tidak sadarkan diri, dia mengambil kesempatan ini untuk menghisap sedikit darah Trishna. Setelah selesai barulah Ferdian kembali mengibaskan tangannya dan Trishna kembali sadar.
__ADS_1
"Eh saya tertidur?" tanya Trishna bingung.
"Aku saja kaget kamu bisa tertidur tadi padahal baru juga ditinggal sebentar," jawab Ferdian yang sudah duduk cantik di samping Trishna.
"Huh kenapa pundak saya ngilu sekali, rasanya," ucap Trishna lirih.
Ferdian menoleh ke arah Trishna lalu tersenyum tipis.
"Trish," panggil Ferdian lembut.
Ferdian memegang tangan Trishna lalu menarik Trishna hingga masuk ke dalam pelukannya.
"Tuan mau apa?" tanya Trishna sedikit kaget karena Ferdian tiba-tiba menarik dirinya.
"Kemauan ku tadi, apa kamu lupa?" Ferdian kembali bertanya.
"Iya terus kemauan Tuan apa?" tanya Trishna lagi.
"Memilikimu," jawab Ferdian singkat padat dan mudah difahami.
Trishna meneguk air liurnya, entah kenapa dia merasa ucapan Ferdian ini membuatnya merinding.
__ADS_1
"Ma-maksud Tu-Tuan?" tanya Trishna dengan gugup.
Bersambung...