Suamiku Vampir Penghisap Darah

Suamiku Vampir Penghisap Darah
Bab 38


__ADS_3

Ferdian menatap Trishna dengan intens dan perlahan menghapus jarak antara wajahnya dan wajah Trishna. Pikiran Ferdian hanya menginginkan Trishna menjadi miliknya tanpa dia sadar bibit cinta mulai tumbuh di hatinya.


Trishna sontak menutup matanya, dia pasrah apa yang ingin Ferdian lakukan. Dia juga tanpa sadar menunggu ciuman dari Ferdian seperti kemarin.


Ferdian menempelkan bibirnya pada bibir Trishna, hembusan nafas Trishna yang buru-buru bisa dirasakan oleh Ferdian.


Ferdian ******* perlahan bibir Trishna, semakin lama lumatannya semakin cepat sehingga Trishna merasa sesak barulah Ferdian berhenti dan perlahan melepaskan tautan bibir mereka.


"Maafkan aku," ucap Ferdian tiba-tiba lalu mendorong perlahan tubuh Trishna hingga terbaring di atas sofa itu.


Tatapan mata Ferdian menjadi tajam, raut wajahnya mulai memerah dan terlihat begitu berg**rah.


"Tu-Tuan," ucap Trishna dengan gugup.


Posisi Ferdian saat ini berada di atas Trishna, dia menyunggingkan senyumannya. Pikirannya dipenuhi dengan adegan panas yang dia akan lakukan bersama Trishna.


"Ini janjimu yang kemarin, aku ingin memilikimu Trishna," ucap Ferdian berbisik.


Glek!


Trishna akhirnya sadar apa yang Ferdian maksudkan. Trishna menggeleng dengan cepat, dia tidak ingin memberi mahkota dirinya sebelum menikah.

__ADS_1


"Ti-tidak Tuan!" sahut Trishna meninggikan suaranya.


Ferdian tidak memperdulikan ucapan Trishna dia malah semakin mendekatkan dirinya kepada Trishna.


"Tadi kau yang memintaku untuk menukar kemauanku," ucap Ferdian dengan tersenyum miring. "Apa sekarang kau menyesal?" lanjut Ferdian lagi.


Trishna langsung melototkan matanya, dia mencoba mendorong Ferdian tetapi dengan kekuatan sedikit pun tidak bergerak.


"Tidak Tuan, saya lebih memilih nikah dengan Tuan kalau ini kemauan Tuan yang lain," ujar Trishna tidak rela dirinya dinodai.


"Yakin? Kau harus menerima semuanya," ucap Ferdian.


"Yakin Tuan yakin, tapi tolong lepaskan saya," jawab Trishna sambil mengangguk.


Tiba-tiba pintu Ferdian diketuk, Ferdian malah menyahut dan mengizinkan si pengetuk pintu untuk masuk. Tetapi posisi dia dengan Trishna masih belum berubah.


Setelah bunyi pintu dibuka barulah Ferdian bangun dari posisinya.


"Jangan bangun, kau tetap begini," ucap Ferdian.


Trishna seperti tersihir, dia menganggukkan kepalanya dan tetap berbaring di sofa itu. Dia bisa mendengar suara seorang pria yang masuk ke dalam ruangan Ferdian tetapi tidak bisa melihat siapa itu. Pikirnya mungkin itu salah satu karyawan di perusahaan itu.

__ADS_1


"Trish," panggil Ferdian setelah pria tadi keluar.


"Ya Tuan?" tanya Trishna lalu dia bangun dari baringnya.


Trishna menuju ke arah Ferdian dengan wajah yang terlihat bingung, Ferdian tersenyum lalu memetik jarinya dan Trishna kembali sadar, rupanya Trishna disihir oleh Ferdian.


"Eh?" Trishna semakin bingung setelah sadar karena dia tiba-tiba duduk berhadapan dengan Ferdian.


"Tuan bukan tadi ...," ucap Trishna tergantung sambil menunjuk ke arah sofa.


Ferdian berpura-pura merasa aneh, dia mengerutkan dahinya.


"Kenapa?" tanya Ferdian.


Trishna coba mengingat sejak kapan dia berjalan menuju ke arah meja tadi. Dia benar-benar tidak mengingatnya.


'Apa aku terlalu melamun hingga tidak sadar, tapi tidak mungkin karena aku benar-benar mengingat aku masih di sofa dan Ferdian masih tersenyum,' batin Trishna dengan wajah yang bersemu merah karena mengingat kejadian bersama Ferdian tadi.


Bersambung..


Maaf Readerss janji punya janji belum tercapai, mudah-mudahan secepatnya kesibukan author selesai. Jangan lupa teruskan mendukung 💪💪💪

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2