
"Mungkin aku terlalu kelelahan seharian kemarin, aku harus minta izin dengan Tuan untuk tidak masuk hari ni," ucap Trishna lirih.
Saat ini Trishna mencoba untuk bangun tetapi kepala benar-benar terasa sangat sakit dan seluruh tubuh Trishna terasa remuk. Pundak Trishna berasa ngilu hingga dia tidak bisa menggerakkan tangan kirinya.
Trishna memaksa dirinya agar bisa keluar dari kamarnya dan bertemu dengan Ferdian.
Sampai saat ini Trishna belum bisa bangun, Trishna mencoba untuk menatap ke arah sampingnya.
Kebetulan sekali ponselnya berada di atas nakas sebelah tempat tidurnya. Trishna menggerakkan tangan kanannya untuk mencapai ponsel miliknya.
Trishna bernafas lega karena dia bisa mengambil ponselnya. Dia segera membuka kunci lalu mencari nomor Ferdian lalu coba menghubungi Ferdian.
["Halo Trish, tumben pakai telepon biasanya juga ketuk pintu kamar,"] ucap Ferdian dari dalam kamarnya.
["Maaf Tuan, saya tidak enak badan. Seluruh tubuh saya terasa sakit dan kepala saya mulai pusing,"] sahut Trishna dengan suara yang sedikit meringis.
["Kamu tidak apa-apa? Tunggu aku di situ,"] ucap Ferdian sambil tersenyum miring.
Ferdian mematikan panggilan telepon mereka lalu keluar dari kamar dan menuju ke arah kamar Trishna. Ferdian memasuki kamar Trishna dengan raut wajah yang dibuat-buat panik..
Ferdian pura-pura memegang dahi Trishna padahal dia tidak merasa apa-apa.
"Aku panggilkan dokter ya," ucap Ferdian dan diangguki oleh Trishna.
__ADS_1
.
.
.
.
.
"Istirehat yang banyak, kalau gejala ini sering sekali terjadi bawalah ke rumah sakit untuk memeriksa kesehatan anda secara lebih terperinci," ucap dokter memberi saran pada Trishna.
"Baiklah terima kasih Dok," jawab Trishna.
Trishna menutup matanya dan membiarkan dokter tadi berbincang bersama Ferdian. Akhirnya Trishna tertidur benaran hingga dia tidak sadar apa yang berlaku.
"Akhirnya tidur, kalau beginikan bagus jadi kamu tidak perlu membalas pesan bajingan itu," ucap Ferdian lirih sambil tersenyum miring.
Ferdian mengambil ponsel Trishna lalu membaca isi pesan yang dikirim oleh vampir yang bernama Daniel itu.
Ferdian mengingat ucapan Roben, rupanya Daniel pernah mendekati apartemennya dan tiba-tiba cctv rusak. Dia yakin malam itu yang datang sewaktu Trishna sendiri adalah Daniel.
'Apa dia sesuka itu dengan Trishna atau dia hanya mau darahnya,' batin Ferdian tertanya-tanya.
__ADS_1
Roben tiba-tiba muncul di belakang Ferdian.
"Tuan saya sudah berhasil menjebak vampir itu," ucap Roben memberi laporan.
"Pastikan dia jangan kabur, tabur perak sekelilingnya dan pastikan dia tidak mengenakan sehelai pakaian pun," sahut Ferdian memberi perintah pada Roben.
.....
Daniel mengebrak meja kerjanya karena dia hampir saja ditangkap oleh seorang vampir yang dianggap musuh.
"Sayang kamu tidak apa-apa kan?" tanya Daya kepada Daniel.
"Ya aku baik-baik saja, mujur saja kau datang dan menggunakan sihirmu untuk mengelabui mereka," sahut Daniel.
Ternyata vampir yang telah ditangkap oleh Roben bukanlah Daniel asli tetapi seseorang yang telah terkena sihir dan menggunakan wajah Daniel.
Saat ini Daniel telah kembali ke perkotaan vampir yang terletak di puncak gunung yang tertinggi.
Daniel sengaja kembali karena dia merasa tidak selamat berada di sekitar Ferdian. Perkiraannya tentang Ferdian ternyata salah, dia mengira Ferdian bukan seorang vampir yang licik tetapi kenyataannya adalah berbalik dari pikirannya.
Bersambung....
Maaf tidak panjang author lagi urus masalah.. teruskan mendukung yaa 🫶🫶
__ADS_1