Suamiku Vampir Penghisap Darah

Suamiku Vampir Penghisap Darah
Bab 25


__ADS_3

Trishna menunggu Ferdian untuk pulang bersama. Dia menunggunya di ruang tunggu di lantai dasar. Cukup lama dia menunggu hingga tanpa sadar dia mulai tertidur di kursi ruang tunggu.


Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Ferdian baru ingat bahwa hari ini Trishna akan pulang bersamanya. Dia bergegas memanggil Roben untuk mencari Trishna.


"Trishna di ruang tunggu lantai dasar Tuan," ucap Roben setelah menemui Trishna.


Dengan sekelip mata Ferdian dan Roben sampai di depan ruang tunggu dan terlihat Trishna yang sedang duduk sambil menutup matanya.


Ketika mendekati Trishna, Ferdian rencana ingin membangunkan Trishna tetapi tiba-tiba rasa panas di dadanya kembali terasa. Ferdian mulai lapar dan haus lagi dan lagi.


Saat ini dia menatap Trishna dengan tatapan ingin menyantapnya hingga melupakan untuk meletakkan sihir pada Trishna. Saat wajah Trishna berada di depan mata Ferdian, Trishna dengan tiba-tiba membuka mata.


Bughh!


....


Sepanjang perjalanan Trishna tidak berkata apa-apa karena yang berlaku tadi. Sungguh kesal rasanya tapi dalam waktu yang sama ada getaran di dalam hatinya.


Trishna memilih duduk di depan bersama Roben karena tidak siap untuk berhadapan dengan Ferdian walaupun Ferdian telah meminta maaf.


Wajah Ferdian semakin pucat karena menahan rasa panas di dadanya, dia berbicara dengan Roben lewat telepati.


"Cepat sedikit Rob, aku sudah tidak menahannya," ucap Ferdian lewat telepati.


"Apa saya sihir saja Trishna biar dia tertidur dan Tuan bisa mengambil darahnya sedikit," jawab Roben dengan wajah yang masih serius menyetir mobil.


"Dia akan curiga kalau aku mengendongnya karena dia berpikir kalau dia tertidur di dalam mobil, kau tahu juga sejak hal itu berlaku dia terus menghindariku," ujar Ferdian sambil menatap Trishna yang sedang menundukkan wajahnya.


Roben mengarti lalu dia menambah kelajuan mobil agar cepat sampai ke apartemen. Ferdian akan mengambil darah Trishna di apartemen saja agar tidak menimbulkan kecurigaan.


Setelah sampai di apartemen, Trishna jalan lebih dahulu karena masih merasa malu dan kesal. Saat ini dia tidak memikirkan posisinya sebagai karyawan biasa yang sedang dalam hukuman.


Trishna segera berlari kecil menuju ke kamarnya setelah memasuki apartemen. Dia mendekat ke arah cermin lalu menatap wajahnya. Dengan perlahan mengusap lembut bibirnya.


Sedang asyik memperhatikan bibirnya, tiba-tiba Trishna rasa mengantuk yang begitu berat. Dia langsung menaiki ranjangnya tanpa menganti pakaiannya terlebih dahulu.


Trishna tertidur dengan begitu pulas sehingga tidak sadar Ferdian telah berada di dalam kamarnya.

__ADS_1


Flashback on...


Trishna merasa seperti mencium aroma tubuh Ferdian, dia coba membuka matanya dan apa yang dia lihat malah Ferdian sedang menatapnya dengan wajah yang sedikit aneh.


Jarak antara wajah Trishna dan wajah Ferdian sungguh dekat sekitar 3 centimeter. Trishna kaget lalu coba mendorong Ferdian tetapi hal seterusnya yang terjadi di luar pemikirannya berlaku.


Bukan terdorong kebelakang, Ferdian malah jatuh dan wajahnya bertembung dengan Trishna hingga membuat bibir mereka bersatu sekitar 2 menit barulah Ferdian cepat-cepat bangun dan membalikkan tubuhnya.


"Maaf, maafkan aku," ucap Ferdian tanpa menatap muka.


"Kita pulang saja!" jawab Trishna dengan dingin.


"Ck maaf apa itu tidak tatap muka," gerutu Trishna yang masih bisa di dengar oleh Ferdian.


Ferdian sempat mengaruk tengkuknya lalu menatap Roben.


"Salahku di mana? Dia yang mendorongku," protes Ferdian pada Roben lewat telepati.


"Namanya perempuan tidak akan pernah mengaku salah Tuan," jawab Roben dengan tersenyum kecut.


Kriuukk..kriukk...


Bunyi perut Trishna sudah memanggil-manggilnya agar bangun, akhirnya Trishna bangun setelah merasa perih pada lambungnya.


Rasa lapar membuat Trishna sadar bahwa dia tertidur setelah sampai ke apartemen tadi. Trishna coba untuk bangun tetapi tubuhnya seperti meremuk apalagi pundak sebelah kirinya benar-benar terasa ngilu.


Trishna memijit pundaknya dan merasa sedikit perih dan sangat ngilu.


"Kenapa pundak kiriku sering ngilu akhir-akhir ini padahal aku tidak kerja berat, huh apa aku harus bawa ke dokter saja untuk periksa," ucap Trishna lirih sambil memijit pundak kirinya.


Trishna membersihkan tubuhnya lalu keluar dari kamarnya. Awalnya dia berjalan santai karena dia hampir saja lupa tentang Ferdian. Setelah Ferdian berdehem dan dia menoleh ke arah Ferdian yang sedang duduk di sofa barulah Trishna kembali mengingat kejadian tadi.


Trishna langsung mengalihkan pandangannya dan memasuki dapur. Terdapat makanan di atas meja makan sepertinya Ferdian telah memesankannya makanan.


"Heh daripada harus memasuk, ketepikan dulu rasa malu lagian lambung sudah semakin lapar," ucap Trishna lirih.


Trishna menyantap makanan yang dibelikan oleh Ferdian untuknya, ya dia yakin makanan itu untuk dirinya lagi pula terdapat nota yang tertulis "selamat menikmati, aku minta maaf" berdekatan dengan makanan yang masih dalam kotak makan.

__ADS_1


Selesai makan, Trishna langsung saja membersihkan meja makan dan mencuci kedua tangannya. Trishna keluar dari ruang dapur dan ternyata Ferdian masih duduk di ruang tamu dengan laptop pada pangkuannya.


"Duduk dulu," ucap Ferdian tanpa menatap Trishna.


Awalnya ingin mencueki saja tapi dia tiba-tiba teringat Ferdian seorang yang licik dan pasti akan mengambil kesempatan untuk menambah hukumannya.


Oleh itu, mau tidak mau Trishna duduk berhadapan dengan Ferdian.


"Maaf Tuan ada apa? Kalau untuk bersih-bersih rasanya apartemen Tuan sudah kinclong, besok pagi pasti saya bersihkan lagi biar semakin kinclong," ucap Trishna dengan nada sindiran.


"Itu hukuman kamu kan jadi memang seharusnya kinclong, tapi bukan itu yang ingin aku bahas," jawab Ferdian.


Lalu Ferdian menutup laptopnya dan menatap wajah Trishna yang terlihat datar.


'Ck aku tidak bisa baca pikirannya, sungguh menyebalkan,' gerutu Ferdian dalam hati.


Mereka kini saling bertatapan seperti beradu siapa wajahnya yang lebih datar. Akhirnya Ferdian mengalah lalu mulai bersuara.


"Untuk tadi aku benar-benar minta maaf, aku salah karena ingin memperhatikanmu tidur seperti apa tapi jujur aku tidak tertarik sedikit pun denganmu," ucap Ferdian.


"Ya baiklah. Saya juga minta maaf Tuan dan Tuan juga bukan tipe pria yang saya inginkan," jawab Trishna. Entah kenapa ada rasa kesal mendengar ucapan Ferdian.


Akhirnya mereka berdua telah berdamai tetapi tidak dengan hati kedua-duanya. Mereka saling merasa kesal dengan ucapan yang terdengar. Namun wajah mereka menunjukkan seperti tidak ada masalah.


Trishna kembali ke kamarnya. Dia kembali menatap dirinya pada cermin di dalam kamarnya.


"Apa aku tidak menarik di mata Tuan Galang," ucap Trishna tanpa sadar.


Setelah dia menyadari ucapannya tadi, dia langsung saja menghapuskan semua pikiran tadi. Dia menyakinkan dirinya hanya terbawa suasana karena kejadian tadi sore.


"Lagian siapa sih mau jatuh cinta sama si mesum berpikiran kotor itu ck," dalih Trishna.


Sedangkan Ferdian terus menatap ke arah pintu kamar Trishna dan merasa kesal.


"Padahal semua wanita tergila-gila padaku dan dia pasti bohong soal aku bukan tipenya," ucap Ferdian lirih dengan yakinnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2