
Ponsel Trishna terus saja berdering saat mereka sedang makan malam bersama. Mau tidak mau Trishna pamit sebentar untuk memeriksa ponselnya.
Trishna merogoh isi tasnya dan mengeluarkan ponselnya. Tertera dilayarnya nama majikannya yang agak cerewet itu.
["Ha-"] ucapan Trishna dipotong oleh pertanyaan-pertanyaan Ferdian.
["Trish, kamu di mana? Apa kamu baik-baik saja? Tidak diculik setan kan? Ehh tunggu kalau diculik tidak bisa jawab panggilan telepon. Ahh pokoknya kamu di mana? Kenapa keluar tidak izin dulu? Kalau kamu kenapa-kenapa bagaimana?"] pertanyaan beruntun Ferdian dari seberang sana membuat Trishna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
["Maaf Tuan, bukan tidak mau izin cuma Tuan tidak berada di apartemen. Nah saya kan mau melihat keluarga saya, sebentar lagi saya pulang Tuan,"] jawab Trishna yang sudah menjauhi ruang makan keluarganya karena takut perbicaraannya dengan Ferdian diketahui.
["Biar aku jemput,"] ucap Ferdian lagi.
["Tidak perlu, tidak enak dengan Daniel. Aku pulang sama Daniel saja Tuan,"] jawab Trishna polos.
["Daniel? Daniel siapa?"] tanya Ferdian tiba-tiba merasa sesak di dada karena Trishna bersama pria lain.
[Teman, Tuan saya kasih mati ya lagian masih makan ni. Sampai jumpa nanti,"] ucap Trishna langsung saja mematikan panggilan dan mematikan ponselnya.
"Kepo," gerutu Trishna.
Trishna kembali masuk ke ruang makan dan mulai melanjutkan acara makannya. Tidak ada pertanyaan dari kedua orang tua Trishna dan Tiana membuat Trishna sedikit bingung.
'Pasti karena ada Daniel mereka tidak berani berbicara saat makan, huhh selamat,' batin Trishna.
Trishna tidak tahu bahwa kedua orang tuanya masih dalam keadaan disihir, makanya mereka tidak bertanya apa-apa. Tetapi berbeda dengan Tiana, dia mulai curiga dengan tingkah laku Daniel.
Daniel sempat menyihir Tiana dan mengikuti Trishna ke depan tadi. Hanya karena Tiana bukan manusia biasa sihir rendahan yang Daniel gunakan tidak mempen pada Tiana.
Tiana hanya berpura-pura tidak tahu saja.
'Pasti Pak Daniel suka dengan Kakak, mengikuti Kakak terus kembali sebelum Kakak. Apalah itu kalau bukan suka,' ucap Tiana dalam hati.
Rupanya Tiana juga tidak sadar dia hampir terkena sihir, mungkin karena kekuatannya yang disegel sepenuhnya oleh seseorang waktu itu.
Setelah selesai makan, Trishna mengajak Daniel untuk pulang. Walaupun Daniel sudah tahu Trishna akan terburu-buru karena khawatir dengan Ferdian yang mulai emosi di sana.
'Apa aku kasih tinggal jejak saja biar Ferdian makin emosi,' batin Daniel.
Trishna pamit dengan kedua orangtuanya lalu bergegas keluar rumah dan memasuki mobil Daniel.
__ADS_1
"Kau terlihat seperti mencemaskan sesuatu Trish," ucap Daniel memecahkan suasana hening dalam perjalanan pulang mereka.
"Eh tidak, hanya saja temanku baru tadi telepon dan dia ingin keluar lalu adiknya tidak ada teman di apartemen," jawab Trishna berkelit.
Tanpa Trishna sadar, Daniel meremas stir mobilnya. Dia marah karena Trishna terus saja membohongi dirinya. Mata Daniel kian menajam, ingin sekali dia berkata kepada Trishna bahwa keluarga Ferdian yang telah membunuh ibu kandungnya.
Daniel menghela nafas panjang dan mencoba untuk tenang.
"Kau menyukai temanmu itu?" tanya Daniel tiba-tiba.
"Tidak kami hanya teman saja, tidak ada rasa suka," jawab Trishna yang dia sendiri tidak tahu adakah dia benar-benar jujur menjawab pertanyaan Daniel.
Sebuah ide terlintas dibenak Daniel, dia mulai tersenyum miring.
"Kamu ada pacar?" tanya Daniel lagi.
Trishna menoleh ke arah Daniel lalu kembali menundukkan wajahnya.
"Belum," jawab Trishna malu karena zaman sekarang tidak ada pacar adalah sesuatu yang aneh menurutnya.
Senyuman Daniel mengembang.
Bulu kuduk Trishna langsung merinding, wajahnya kini telah bersemu merah. Tidak pernah ada yang terang-terangan mengajaknya berpacaran.
Walaupun dulu sempat berharap Varel mengajaknya berpacaran tetapi akhirnya Trishna tahu kenapa Varel tidak pernah mengajaknya berpacaran, semuanya karena Varel sudah mempunyai seseorang.
"Aku-aku ... ," ucap Trishna gugup dan terputus.
"Jangan jawab sekarang, kamu bisa pikirkan. Tetapi sebelum itu kamu harus tahu, sejak pertama kali kita bertemu aku telah jatuh cinta padamu," ungkap Daniel dengaj wajah serius.
Trishna mengangguk dengan keadaan masih menunduk, rasa malu untuk menatap wajah Daniel mulai menyeruak dalam dirinya.
"Bisa aku minta nomor hp mu?" tanya Daniel lagi sambil menghulur ponselnya Trishna.
Dengan cepat Trishna menyambut ponsel Daniel lalu memasukkan nomornya ke dalam ponsel Daniel.
Tanpa Trishna sadar, mereka telah memasuki kawasan perumahan elit.
"Kita sudah sampai," ucap Daniel lagi.
__ADS_1
Trishna berterima kasih, baru saja hendak membuka pintu Daniel kembali memanggilnya dan menarik tangannya. Daniel mencium tangan Trishna lalu mengucapkan selamat malam.
Dengan wajah yang semakin memerah Trishna berjalan menuju ke dalam bangungan apartemen.
Trishna menatap tangannya dan mulai tersenyum sendiri hingga dia berada di depan pintu apartemen Ferdian yang sudah terbuka.
Ferdian berdiri di pintu apartemen sambil menatap ke arah Trishna yang tersenyum tidak jelas melihat tangannya.
"Ada apa dengan tanganmu?" tanya Ferdian memecahkan suasana bahagia Trishna.
Barulah Trishna sadar bahwa Ferdian sudah menunggunya di pintu apartemen. Trishna menjadi salah tingkah karena ketahuan senyum sendiri.
"Eh Tuan, buat apa di pintu?" bukan menjawab Trishna sengaja kembali bertanya untuk mengalihkan topiknya.
"Sudahlah masuk saja," Ferdian mulai kesal dia tidak menjawab pertanyaan Trishna malah lebih dulu kembali masuk ke dalam apartemennya.
Trishna mengernyitkan dahi dan menyusul Ferdian yang memasuki apartemen. Trishna tidak berkata apa-apa setelah berada di dalam apartemen dia malah melewati Ferdian yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
Trishna langsung memasuki kamarnya dan mulai membayangkan wajah Daniel yang tadi mencium tangannya. Masih asyik dengan perasaan bahagia, tiba-tiba Trishna merasa mengantuk yang teramat berat sehingga tanpa sadar dia mulai tertidur di pinggir ranjangnya.
"Ck akhirnya tidur, nah sekarang waktu ... sepertinya ada aroma familiar," ucap Ferdian yang telah memasuki kamar Trishna dan mendapati aroma tubuh Trishna tidak seperti biasa.
Ferdian mengendus-endus tubuh Trishna hingga dia mendapati pada tangan Trishna terdapat aroma vampir yang kuat.
"Sial dengan siapa dia bertemu tadi!" ucap Ferdian dingin.
Ferdian memanggil Roben lewat telepati hingga dalam sekelip mata Roben telah berada di belakangnya.
"Cari tahu vampir mana yang bersama Trishna tadi, sekarang cepat!" Perintah Ferdian pada Roben.
"Baik Tuan," akhirnya Roben menghilang secepat angin yang bertiup.
"Kau tidak boleh bersama dengan vampir lain selain aku Trish," ucap Ferdian pada Trishna lalu mulai menancapkan gigi taringnya pada pundak Trishna.
Ferdian sengaja menyedot sebanyak mungkin da*ah Trishna agar Trishna tidak terlalu banyak ke mana-mana dan hanya dirinya saja yang menemani Trishna.
Ferdian tanpa sadar menunjukkan sifat posesif kepada Trishna, dia masih belum tahu bahwa hatinya mulai tertarik pada Trishna.
Bersambung....
__ADS_1