
Trishna telah sampai ke apartemen Ferdian tetapi apartemen itu masih dalam keadaan yang sepi dan masakannya tadi pagi masih tertutup rapi di atas meja.
Trishna mengerutkan dahinya, dia menatap ke arah pintu kamar Ferdian.
"Apa Tuan belum pulang," ucap Trishna lirih.
Sedikit merasa kecewa karena Ferdian tidak mencicipi makanan yang telah dia masak tadi pagi. Tetapi Trishna tidak ingin terlalu mengambil pusing karena tidak ada dalam list tugas yang harus dia laksanakan.
Setelah membersihkan diri, Trishna kembali ke ruang dapur dan memanaskan makanan tadi pagi untuk dia makan malam, karena syang rasanya jika harus dibuang apalagi belum basi.
Trishna merasa sangat sepi tinggal sendiri, dia mulai berpikir bagus juga jika ada Ferdian yang sering menganggunya setidaknya dia tidak kesepian.
Trishna mengambil ponselnya lalu membuka aplikasi biru dan mulai melihat cerita-ceritanya yang berada di dalam itu. Sehingga akun Lena lewat diberandanya dengan caption "Aku akan membalasmu wanita murahan".
Trishna sedikit merasa status itu untuk dirinya tetapi cepat dia tepis pikiran seperti itu. Apalagi mungkin Lena tadi masih saja kecewa padanya tentang penolakan tempoh hari.
Tiba-tiba Trishna terpikir sebuah ide untuk meminta maaf pada Lena, tadi juga dia sempat menampar Lena karena saking kesalnya pada ucapan Lena.
"Aku harus menemui Tuan Galang," ucap Trishna lalu mencari nomor Ferdian dan membuat panggilan keluar.
Cukup lama ponsel Ferdian berdering, sehingga Trishna hampir saja putus asa karena Ferdian tidak menjawab panggilannya.
"Ck dasar menyebalkan," ucap Trishna kesal lalu membanting ponselnya ke sofa kecil.
Trishna mengambil bantal sofa untuk membenamkan wajahnya dan dia berpikir mungkin dia harus menunggu Ferdian pulang saja jika ingin berbicara padanya.
Jam sudah menunjukkan hampir jam 9 malam dan Trishna sudah mulai mengantuk. Apalagi dokter menyarankannya untuk tidak tidur jauh malam.
__ADS_1
"Besok sajalah," ucap Trishna lalu bangun dari duduknya dan menuju ke kamarnya.
Baru saja membuka kamarnya tiba-tiba bunyi pintu utama kedengaran. Mata Trishna langsung segar dia kembali ke ruang tamu dan menunggu Ferdian menuju ke ruang tamu. Trishna yakin Ferdian telah pulang.
Cukup lama dia berdiri hingga dia mulai merasa aneh karena batang hidung Ferdian belum juga terlihat. Trishna akhirnya memilih mendekati pintu utama.
Trishna mengernyitkan dahinya karena tidak ada siapa-siapa di sana. Sekuat hati dia menghapuskan rasa ketakutannya.
'Mungkin aku salah dengar apalagi tadi aku sudah mulai mengantuk,' batin Trishna lalu kembali menuju ke kamarnya.
Sampai dalam kamarnya bulu kuduknya tiba-tiba saja merinding tapi Trishna coba santai karena dia sudah mulai merasa sesuatu yang agak menakutkan.
"Sialan, besok awas saja kau ck," gerutu Trishna mencoba tenang.
Trishna merebah dirinya di atas ranjang empuknya lalu mengambil ponselnya dan kembali membuat panggilan keluar ke nomor Ferdian.
["Helo Tuan,"] ucap Trishna setelah Ferdian menjawab panggilannya.
["Ya Trish, heh tumben kamu telepon aku banyak kali. Kamu kangen aku ya? Sabar ya sedikit lagi aku sampai ini sudah masuk parkiran apartemen,"] jawab Ferdian dari seberang sana yang saat ini baru saja memasuki ke parkiran bawah bangunan apartemennya.
Deg!
["Oh okay tapi bisa tidak jangan matikan panggilan, soalnya aku tiba-tiba saja merasa sepi hmm,"] ujar Trishna berkelit padahal dia sudah merasa sangat takut dan telapak tangan dan kakinya sudah mulai mendingin.
["Trish jangan bilang kamu sudah jatuh cinta padaku,"] ucap Ferdian dengan terkekeh.
["Dih jangan kepedean Tuan, hanya saja saya tidak ingin sendiri,"] jawab Trishna.
__ADS_1
["Iyalah ini aku sudah di depan apartemen, ini sudah masuk. Masa kamu mau tidur?"] ucap Ferdian yang masih dalam panggilan walaupun sudah memasuki apartemennya.
Trishna bangum dan keluar dari kamar. Setelah dia melihat Ferdian barulah dia mematikan panggilan telepon mereka. Trishna berlari kecil lalu langsung memeluk Ferdian. Tubuhnya semakin gementar.
"Hei Trish kau kenapa?" tanya Ferdian merasa aneh dengan Trishna apalagi tubuhnya yang gementar bisa dirasakan oleh Ferdian.
"Maaf Tuan, hisk hisk. Saya takut tadi, tadi ada bunyi pintu dibuka terus saya kira Tuan yang datang tapi setelah hampir 5 menit Tuan tidak muncul dan sa-saya lihat ke pintu padahal pintu tertutup. Terus saya masuk ke kamar dan tiba-tiba saya merasa ada sesuatu di dalam kamar karena bulu tengkuk saya merinding," terang Trishna yang masih betah memeluk Ferdian.
Roben langsung berbicara lewat telepati.
"Ada bau aneh juga Tuan," ucap Roben setelah tercium bau yang aneh di dalam apartemen Ferdian.
"Kau benar Rob, cepat cari tahu," ujar Ferdian lewat telepati.
Roben langsung saja keluar dan menuju ke tempat ruangan cctv apartemen. Sedang Ferdian tidak tahu harus berbuat bagaimana karena tubuh Trishna masih saja gementar.
Ferdian tidak pandai dalam hal menenangkan wanita karena sudah lama dia tidak berinteraksi begini dekat bersama seorang wanita.
"Trish semuanya baik-baik saja, aku di sini kau tidak perlu lagi takut," ucap Ferdian coba menenangkan Trishna walaupun dia merasa kaku.
"Tu-Tuan ka-kalau jam pulang i-izinkan sa-saya i-ikut Tuan pu-pulang," jawab Trishna terbata-bata karena masih menangis.
"Baiklah mulai besok kita pulang bersama," ujar Ferdian kemudian.
Bersambung...
Selamat membaca love youu sekebooonn readersskuu 🫶🫶🌹🌹🌹
__ADS_1