
Kini masuklah waktu jam pulang kerja, sebelum Trishna keluar dari perusahaannya dia tidak lupa membawa laptop dan beberapa barangnya di dalam tas laptopnya yang sedikit besar.
Tidak lupa dia juga menyempatkan diri untuk bertemu dengan Ferdian, karena dia mengira ini mungkin hari terakhir dia bakal bertemu dengan Ferdian.
Setelah mendapat izin masuk ke ruangan Ferdian. Trishna memasang wajah datar saja karena dia tidak mau terlihat mencurigakan.
"Maaf menganggu Tuan, tapi saya pulang dulu ya. Lagian saya kan akan pulang ke rumah orangtua saya dan ... jumpa nanti malam," ucap Trishna dengan rasa bera mengucapkan 3 kalimat terakhir.
'Maaf tapi aku berharap kita tidak akan pernah berjumpa lagi,' batin Trishna.
"Baiklah kamu hati-hati ya Trish. Ingat saja pesanku kamu jangan dekat-dekat dengan pria lain karena kamu sudah mempunyai suami," jawab Ferdian sekalian mengingatkan status mereka.
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi," sahut Trishna.
Setelah keluar dari kantor perusahaan Ferdian, Trishna merasa begitu deg-degan seperti baru membuat sebuah kesalahan. Trishna menaiki taksi dengan tubuh yang sedikit gementaran karena gugup dan rasa takut.
__ADS_1
'Bagaimana kalau Ferdian menyuruh orang-orangnya mengikutiku,' ucap Trishna dalam hati.
Trishna mulai menoleh ke belakang dia ingin memastikan tidak ada yang membuntuti mobil taksi yang dia naiki.
Gelagat Trishna saat ini seperti lari dari seseorang hingga membuat sopir taksi yang dia tumpangi mengernyitkan dahi.
"Maaf Mbak, Mbak tidak lagi lari seseorangkan?" tanya sopir taksi yang terlihat sedikit kepo.
Deg!
Jantung Trishna berdetak semakin kencang setelah mendengar ucapan sopir taksi tadi. Trishna coba memutar otak pintarnya untuk mencari alasan.
"Oh begitu ya. Tidak apa-apa tidak ada yang mengejar taksi saya kok, Mbak sudah aman," jawab sopir taksi itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Trishna tidak lagi berbicara karena dia coba menyakinkan dirinya bahwa Ferdian tidak menghantar orang untuk membuntuti dirinya.
__ADS_1
Setelah perjalanan memakan hampir satu jam akhirnya Trishna sampai di perumahan di mana Ronald tinggal.
Ronald merupakan seseorang yang telah membantu Tiana untuk menyembunyikan identitas Tiana yang sebenar. Dia juga pernah mengatakan bahwa takdir Trishna dan Tiana nasib mereka akan sedikit buruk jika mereka tidak pergi sejauhnya dari tempat ini
Awalnya Trishna mengira Ronald hanya membual saja karena tidak mungkin ada manusia biasa yang bisa membaca takdir mereka tetapi kemarin Trishna sudah mulai mengerti kenapa Ronald mengatakan hal itu.
Trishna melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke rumah Ronald dan sebelum dia keluar dari taksi tadi Trishna sempat mengenakan masker mulut dan selendang untuk menutupi kepalanya.
.....
"Bersiaplah saya akan melakukan teleportasi kita ke tempat lain, pastikan barang bawaan kamu tidak ada yang tinggal. Tolong pegang dengan erat," ucap Ronald ketika mereka sudah mulai memasuki lingkaran teleportasi.
Trishna dan keluarganya mulai memeriksa bawaan mereka sehingga mereka telah yakin tidak ada yang tertinggal barulah mereka mengatakan siap kepada Ronald.
Ronald akan membawa mereka jauh dari sini dan meminta kaumnya untuk melindungi keturunan Trishna dan Tiana karena mereka begitu spesial.
__ADS_1
Ronald mengetuk tongkat saktinya di atas lantai dan beberapa detik kemudian mereka mulai menghilang ditelan kepulan asap tebal yang melingkari mereka.
Bersambung...